Senin, 09 Juni 2014

call me homesick, maybe...

selamat pagi...

jakarta pagi ini sepi, motor melaju lancar. mungkin karena saya berangkat kepagian kali ya..

kali ini saya cuma mau cerita, tentang sekelebat bus safari ijo solo-semarang yang saya lihat beberapa hari lalu dan motor bernomor plat AD pagi ini.

apa itu?

well..

buat kalian mungkin itu cuma hal sepele.

tapi buat saya yang hidup hampir 5 tahun bolak-balik menggunakan alat transportasi bus, lebih tepatnya bus safari warna ijo tadi, melihatnya ikut terseok-seok di antara kemacetan kota jakarta rasanya menakjubkan.

hahaha

mungkin saya yang lebay, tapi theres a spark of warm creeped in my heart at the moment i saw that bus.

lalu rasa hangat itu juga yang merambat di hati saya, menuju mata dan keluar menjadi embun yang tak bisa jatuh, saat saya melihat ada wanita yang mengendarai motor berplat AD di depan motor saya pagi ini.

saya homesick. akut. dan saya baru menyadarinya sekarang.

entahlah, rasa-rasanya saya sudah terbiasa jauh dari rumah, jadi permasalahan homesick tak lagi mengganggu. tapi pagi ini adalah penegecualian. saya kangen udara dingin boyolali, saya kangen langit biru cerah dan angin semilir kota saya. saya kangen aroma rumput yang menguar kala sore turun. kangen sekali.

sigh........

Kamis, 05 Juni 2014

a deserted veranda...

Last week we were both  still laughing , with a cup of hot coffee and warm talks in the veranda.
Laughing at oversleep dreams that runs hurriedly at our past .
greeting cheerily the reflection of the sun rises both in your eyes and mine....
then... a single hello just made it yesterday ..  a bag of sugar for our bitter forced smiles .. you and me.

a cup of coffee is still warm in my hands, but you bring yours to your daily busy morning. Whispered sadly, i greeted back your careless hello with all my prays,  “good luck for your day and please keep my safe and sound heart dreaming of you.”


Today the  veranda looks deserted..
your coffee is cooled down within my eyes. You have gone already, and forgot the ‘hello’ we used to. I’ve thrown it along with the dust under your coffee saucer.

Now I write all this dream in the tired night . my lonely  fingers scratched  its talk . It seems like only me who had a problem . You’ve got none , right?

our cups of coffee both  will gradually cool at the veranda for  the next morning ..
mixing the frozen dews inside the letter so called my dreams. Let’s just simply erase both, my name your name, which is only being a plain decoration outside of the cups
And slowly  the echo of my voices  will be fade  away from our romance ..
i see theres no point to let you hear what i think anymore, it already gloomed from the start.



 Coffee is all that i want for our fresh brightly  morning, you and me having a talk over 5minutes sit before we get craziness over the day. But you were always running first to your own world and left me lost in your way.  My tongue remembers the sting-bitterness-like tea you gave me from our old dusty picture frames


jadiiiiiiii ini adalah salah satu koleksi coretan lama saya yang saya alih bahasakan menjadi bahasa inggris, kredit lebih lengkap saya posting di facebook jadi mungkin nanti baru akan saya lengkapi dengan kreditnya, well.. excuse my error grammar and failed attempt, its better tryin than did nothing rite? XD


Minggu, 01 Desember 2013

[fanfic] The Unintended chapter 3

The Unintended chapter 3



Tags: OC, friendship, romance, arranged marriage, marriage life.

Description: 

Love isn’t always a compromise. Sometimes, it’s a complete surprise. And the best love story is when you fall in love with the most unexpected person at the most unexpected time - Unknown


Foreword:

Apa yang akan terjadi jika pernikahan yang akan kamu jalani tak seperti yang kamu bayangkan? Apa jadinya jika kamu harus menikah dengan seseorang yang tak kamu kenal dan bukan orang yang kamu cintai karena sebuah permintaan?  

haiiiiii, chiqux is back! muehehehe... ya ampun maaf lagi, beribu-ribu maaf, kalau semua maaf saya bisa dirajut mungkin udah berbentuk selimut yang bisa dipake buat nutupin satu kabupaten huhuhu. jadiiii, mo sedikit curcol nih ceritanya, laptop saya mati dan sisa chapteran The Unintended yang masi unpublished ada di dalemnya TT.TT ilaahhhh, saya kudu nulis ulang semuanya huhuhu. dan berhubung ingatan saya terbatas, ada beberapa poin yang mungkin saya lupa buat nulis atau gimana jadi ini saya berusaha mengorganisir kotak ingatan saya TT.TT syedihhhh.. sementara chapter ini terselamatkan soalnya dulu sempet saya titipin di laptop mawid alhamdulillahnya :'))
cukup dengan blabbering saya deh, jadi chapter ini saya buka sedikit isi kepala jaehyun (?) hahaha emang ngegemesin sih orangnya, sosok aslinya ga misterius gini sumpah pdhl saya emang niatan buat ngejiplak orangnya asli tapi tangan saya bergerak menggambarkan si jaehyun kaya punya mesin sendiri, ga bisa dikontrol sampe kadang-kadang saya hilang dalam pemikiran saya sendiri tentang cowok satu ini, sebenernya maunya dia apa sih? aslinya dia manis dan tipe orang yang menghargai hal-hal kecil, segelas kopi hangat yang bisa dia nikmati saat dia sedang sendirian aja bisa bikin dia bahagia sampe update kata-kata dalem di twitter, sweet bgt ya hihihihi
eh kok jadi ngegosipin ttg jaehyun sih.. udah deh silahkan nikmati updatean yang terselamatkan ini, semoga bisa menjadi obat kangen (hah emang ada yang kangen?wkwkwk) sama tulisan saya #pede geeelaaaa/ditimpuk tomat busuk/
cekidot deh! :D

PS: humm gada bonusan pic di updatean ini :( semua foto2 jaehyun joowon hana soohyun ad di laptop yang mati, sedihhhh :(((

***

“Kau menghindariku kan?”
Joowon berdiri tepat di depan Hana yang hendak membuang sampah melalui pintu belakang.
Hana tak menjawab, dia berusaha mengabaikan Joowon dengan memilih sisi jalan lain. Joowon tak menyerah begitu saja, dia tetap memblokade kemanapun Hana hendak lewat, begitu berulang kali.
Hana sebal, dia berhenti mengelak lalu mendongak, menatap Joowon tepat di mata dengan tajam. Joowon menyipitkan mata, tak yakin dengan apa yang akan dilakukan Hana selanjutnya.
Menggembungkan pipi dan meniup poninya sekali sebagai tanda dia merasa benar-benar terganggu,  tanpa diduga Hana langsung menginjak ujung sepatu Joowon keras-keras.
“AWWWW..!!!”
Sementara joowon mengaduh, Hana memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyelesaikan apa yang semula hendak dia lakukan dan kembali masuk ke dapur, meninggalkan Joowon yang masih mengaduh dan mengumpat serta berteriak ke arah punggung Hana.
Sudah berulang kali Joowon menghadang Hana di berbagai kesempatan, teutama saat mereka hanya berdua saja entah di dapur atau di ruang depan saat melayani pengunjung. Lama-lama Hana merasa jengkel, awalnya dia tak berencana untuk menghindar sebegitu ekstrimnya tapi karena tindakan Joowon tersebut rasa-rasanya dia akan benar-benar melancarkan aksi menghindari Joowon secara terang-terangan.
“Aish, jinjja.. apa kau tau apa yang diinginkan Joowon? Kenapa dia tak berhenti saja dan membiarkan aku sendirian?”
Hana mengeluh keras-keras, saat itu dia sedang berada di dapur bersama Soohyun. Salah satu dari beberapa kesempatan langka saat Joowon sedang tidak berada di kafe.
“Kenapa tak kau bilang saja itu di depan mukanya alih-alih bermain kucing-kucingan seperti ini?” Soohyun menanggapi sambil tangannya memindahkan beberapa biskuit yang baru matang dari oven ke wadah.
“Aku tak bermaksud seperti ini, aku hanya meminta waktu sebentar saja untuk menyembuhkan sakit hatiku atas ucapannya. Hanya karena aku mencintainya bukan berarti dia bisa berkata seperti itu padaku kan? Hmph.. menari di mimpi yang salah? Aku tak pernah bermimpi, aku hanya mencintainya dan melihat jika dia mencintaiku, itu saja..” Hana mencomot sebutir biskuit dari depan Soohyun lalu menggigitnya.
Soohyun terkekeh, “Kau delusional kalau berpikir begitu, dari mana kau bisa menyimpulkan kalau dia mencintaimu, ha?”
“Well, dia baik, dia selalu mengistimewakanku, dia perhatian..eng.. apa lagi ya?”Hana menepuk keningnya dengan potongan biskuit yang sedang dia pegang, berpikir.
“YAH, aku juga melakukan hal yang sama terhadapmu, tapi aku tak merasa kalau aku mencintaimu sebagai seorang pasangan”. Ujar Soohyun, protes.
Hana tertawa kecil, “Kau benar juga, oppa.” Dia memakan sisa potongan biskuit di tangannya sebelum melanjutkan, “Mungkin sudah saatnya aku menata ulang hatiku dan melupakan dia..”
“Melupakan siapa?” Tiba-tiba suara Joowon terdengar dekat sekali di belakang Hana.
“UHUKKK....!!” Hana tersedak remah biskuit yang belum sempat dia telan karena suara tersebut, Soohyun menepuk-nepuk punggung Hana dengan panik.
Joowon segera menyodorkan bubble tea yang sedang di tangannya ke arah Hana.
“Yah, berapa umurmu? Makan biskuit saja bisa sampai tersedak!” omel Joowon.
Hana meradang, “Kau pikir ini karena siapa hah??!” teriaknya jengkel.
Soohyun terkekeh, “Baiklah, karena kalian sudah saling bertemu, lebih baik kalian selesaikan masalah kalian sekarang juga.” Dia melepas apron dan sarung tangan plastik yang dia kenakan lalu duduk di kursi tinggi dekat meja dapur.
“Aku sih merasa tak ada masalah, dia yang menghindariku karena itu mungkin dia yang punya masalah.” Ujar Joowon santai sambil melipat tangan di depan dada, dia masih berdiri dan menatap Hana tajam di dekat oven. Yang ditatap sedang sibuk, pura-pura masih tersedak dan menghabiskan bubble tea yang tadi disodorkan Joowon.
Soohyun mengerling ke arah Joowon, sedikit memperingatkan untuk lebih bersikap dewasa. Joowon mendehem sekali lalu mendekat ke depan Hana tepat sambil menatapnya penuh intimidasi. Hana sampai harus mundur dua langkah karena Joowon terlalu dekat.
“Jadi nona, kenapa kau menghindariku semenjak selesai pernikahanmu?”
Hana meletakkan cup kosong bubble tea tadi lalu membalas tatapan Joowon, menyahut dengan manis.
“Ahjussi, nuguseyooo? Apa aku mengenal anda?”
Joowon membelalakan mata tak percaya, Hana hanya berkedip sambil tersenyum polos. Soohyun sudah terguling dari tempatnya duduk sambil memegangi perutnya yang kaku karena tertawa.
“YAH JUNG HANA!”
***
Jaehyun sedang mengecek kameranya, sebentar lagi akan ada pemotretan konsep portofolio perusahaan untuk setahun kedepan. Secara personal, Direktur Moon memintanya untuk menjadi fotografer kali ini. 
“Jaehyunie..”
Suara seorang wanita memanggilnya penuh sayang, jaehyun mendongak dan menemukan Direktur Moon sedang berjalan ke arahnya dengan tersenyum. Di detik terakhir Jaehyun mengingatkan lidahnya agar tidak menyahut ‘sajangnim’...untuk yang kesekian kalinya.
“Umma..”
How is it ?”
“Semua sudah siap, hanya tinggal menunggu modelnya, Umma..” Jaehyun menarik kursi terdekat untuk tempat duduk Direktur Moon..er..ibu tirinya.
“Apa umma ingin memeriksanya lagi?” tawar Jaehyun sembari menyodorkan berkas mengenai konsep untuk pemotretan kali ini.
“Ani, umma percaya kau mampu mengurusinya” direktur Moon menepuk-nepuk punggung tangan Jaehyun penuh sayang.
Tiba-tiba “Chogiyo..”
Baik jaehyun dan Direktur Moon menoleh ke arah suara secara bersamaan. Salah satu staff mendekati mereka berdua dan mengabarkan jika model yang semula akan mereka pakai terkena flu berat dan dikhawatirkan tidak akan mampu mengikuti pemotretan dengan baik.
“Saya khawatir, sepertinya pemotretan untuk portofolio kali ini harus diundur hingga Mikki agak baikan, sajangnim..” ujar staff tersebut.
Jaehyun mengangguk-angguk paham, “Uh, tidak masalah Taekgun-ssi. Kabarkan saja kapan kita akan melanjutkannya..”
Tapi sepertinya direktur Moon memiliki pemikiran lain, dengan sedikit tersenyum beliau memotong ucapan Jaehyun.
“Tidak perlu, kita bisa tetap melanjutkan pemotretan kali ini dengan model lain..serahkan saja semuanya pada umma.” Ujar Direktur Moon menenangkan, dari kerlingan matanya nampaknya ide beliau sangat brilian karena kerutan senyum tak juga bisa lepas dari bibirnya saat menatap Jaehyun lekat-lekat.

***
 Rasanya dunia berhenti berputar. Jaehyun sering mendengar kalimat tersebut, tapi baru kali ini dirinya benar-benar mengerti maksudnya. Gadis yang dibawa Direktur tadi nyaris membuatnya kehilangan nafas.
“Annyeonghaseyo, Jung Hana imnida ”
Naksir teman masa kecil, ngefans pada artis idola, Jaehyun sudah pernah mengalami itu semua. Tapi yang dia rasakan kali ini lebih dari apapun yang pernah dia rasakan selama ini. Gadis ini menyesaki sudut pandangannya, menyedot segenap perhatian, menumpulkan semua indera.
“Jaehyunie, dia yang akan menggantikan model hari ini.. Dia ini...”
Sisa penjelasan Direktur Moon sudah tak terdengar di telinga Jaehyun. Dunia Jaehyun berhenti berputar untuk sesaat, dirinya jatuh cinta pada pandangan pertama dengan gadis ini.
Tak ada yang istimewa, gadis ini pendek, senyumnya terlalu lebar, poni rata seperti pelajar, kulitnya sedikit gelap dan mukanya cuma diisi dengan pipi. Tak ada hal yang menarik, kecuali kalian melihat matanya. Sinar yang ada di dalam mata itu yang membuat dunia Jaehyun berhenti berputar, tak sadar hingga dia menahan nafasnya.
Semua novel dan film menggambarkan jatuh cinta dengan taburan bunga-bunga, hujan rintik-rintik atau percikan kembang api. Bebrapa menggambarkan seseorang yang kikuk dan menabrak segala yang ada di depan kecuali dia, berusaha menatap manapun selain ke arah si dia, sedangkan beberapa lainnya tersedak dan memalukan diri mereka sendiri. Siapa yang mengira love at first sight yang Jaehyun alami rasanya justru seperti naik bianglala yang macet lalu berhenti berputar ketika sedang berada di puncak putaran. Bisa kau bayangkan paniknya?
Sunyi. Sesak napas. Sendirian. Bukankah itu menakutkan?
Suara pesan masuk di handphone membuat Jaehyun tersadar dari lamunannya. Saat di buka, ternyata dari Hana.
Oppa, apa kau tidak akan pulang malam ini?
Tanpa sadar Jaehyun tersenyum saat membaca pesan tersebut. Pulang. Jaehyun belum pernah merasakan kata pulang bisa terlihat seindah ini.
***
Sekali lagi Hana menendang kerikil tak bersalah yang ada di depan kaki saat dia berjalan. Kerikil sialan. Dapur sialan. Soohyun sialan.
Tak henti-hentinya Hana mengutuk semua yang menurutnya menyebalkan. Semua yang membuatnya harus berakhir dengan keluar dari kafe jam 8 malam menuju minimart terdekat. Bersama Joowon. Sialan!
Sekali lagi, Hana menarik nafas seolah terpaksa. Lalu tarikan nafas tadi berubah menjadi dengusan. Lalu dengusan menjadi gerutuan singkat. Belum pernah Hana merasakan suasana secanggung ini, terutama dengan Joowon. Rasanya Hana ingin melepas syal yang dia pakai lalu menggigit-gigitnya sembari melompat-lompat di tempat. Rasanya...
“AWWW!! Apa-apaan ini?!”
Hana mengaduh, Joowon baru saja menjitak kepalanya. Bukan jenis jitakan sayang ala pria pada wanitanya, tapi jitakan ala brotherhood. Benar-benar sialan braderrrr...
“Kau ini kenapa sih?” Joowon berhenti berjalan. Dia memfokuskan tatapan pada Hana sepenuhnya.
“Hng.. kau yang kenapa, semena-mena menjitak kepala orang..”
Hana menggerutu, tapi tak ikut berhenti. Dia terus berjalan sembari mengelus-elus kepalanya yang bekas dijitak Joowon. Joowon terkekeh, tangannya meraih ujung syal yang dipakai Hana lalu menariknya ke belakang.
“Hekh..!” Hana otomatis kehilangan keseimbangan dan sedikit terpelanting, menabrak Joowon yang masih berdiri tepat di belakangnya.
Belum sempat Hana protes ataupun mengamuk, Joowon sudah melingkarkan lengannya ke bahu Hana, memeluknya dari belakang dan menyisipkan kepalanya di pundak Hana.
Hana membeku seketika, tapi tak berkata apa-apa.
Tak ada yang bersuara kecuali nafas keduanya, yang anehnya masing-masing helaan terdengar stabil baik Hana maupun Joowon.
. . . . . . . . .
Semenit keduanya bertahan dalam posisi tersebut, entah tepat semenit atau justru lebih, tak ada yang peduli. Tak ada yang mau bersusah payah menghitung.
Hana terpaku. Sementara Joowon menutup mata dan menikmati semuanya.
“Aku merindukanmu” gumpalan abstrak di kerongkongan Hana sulit ditelan, suara Joowon terdengar sangat dekat...
Terlalu dekat di samping telinganya..
Sangat nyata..
Terlalu nyata..
“Aku merindukan kita..” baru saja jantung Hana hendak berdetak lebih cepat dari biasanya, kalimat selanjutnya yang diucapkan Joowon menyiramkan udara dingin di ubun-ubun dan tulang belakang. Kita. Bukan ‘-mu’ lagi. Suasana beku tadi pecah. Lalu Hana berontak dan melepaskan diri dari pelukan Joowon.
Hana berbalik dan menatap Joowon tepat di mata. Joowon membalasnya sama kuat.
“Aku tak pernah bisa marah padamu, sengaja atau tidak kesalahanmu, kau selalu punya tempat termaafkan di mana dosa-dosa buruk bisa menjangkaunya di hatiku. Kau tau itu, kan?” Hana mengucapkan semuanya dengan pelan, bernada serius. Tangannya meraih tangan Jooowon dan mengaitkan semua jari-jarinya dengan jari-jari Joowon.
Senyum di mata Joowon bertemu dengan senyum di mata Hana. Semuanya terasa pas, tapi ada yang masih mengganjal..
Entah selesai atau masih berjalan, cinta satu arah milik Hana kepada Joowon, tak ada yang bisa menilai..
Dering telepon mengagetkan keduanya. Hana dan Joowon saling mengerling dan tertawa geli, keduanya telah melupakan untuk apa mereka tadi keluar bersama.
“Halo, Soo-..”
Sapaan Joowon saat mengangkat panggilan yang masuk ke handphonenya tak terselesaikan, karena Soohyun di ujung sana sudah berteriak...
“MANA SUGAR POWDER YANG KUPESAN TADI, HA?!!!!”
***
Hana tak sabar menunggu, jam di dinding sudah menunjukkan lewat tengah malam. Matanya mulai terasa berat. Jaehyun belum juga pulang. Pun tak ada sedikitpun kabar.
Untuk kesekian kalinya Hana menguap. Dia berulangkali pindah posisi di sofa. Televisi di depannya masih menyala dan menayangkan entah apa, tapi sedari tadi Hana sibuk berbaring lalu ganti duduk lalu menggoyang-goyangkan kaki, sembari menguap, lalu berdiri dan memutar-mutar badannya lalu berjalan menuju dapur dan membuka pintu kulkas lalu kembali ke sofa. Oh, sibuk sekali.
Semakin tak sabar, Hana meraih handphone di meja kopi sebelah sofa lalu mengetik pesan untuk Jaehyun.
Oppa, apa kau tidak akan pulang malam ini?
Semenit, dua menit, lima belas menit, duapuluh menit tak ada balasan. Hana sudah akan mengangkat kakinya dan bersiap-siap untuk masuk ke kamarnya, memutuskan kesimpulan jika Jaehyun tak akan pulang malam ini, saat suara mobil terdengar memasuki halaman.
“Oh, kau belum tidur?”
Suara Jaehyun seperti kaget saat melihat Hana masih duduk di sofa, menunggunya. Hana memutarkan kedua bola matanya, oh-plis-deh.
“Apa kau lebih suka jika aku tidur dan membuatmu terkunci di luar tanpa peduli apapun yang terjadi padamu?” sahut Hana sarkatis. Moodnya untuk cerita tentang Joowon pada Jaehyun hilang seketika.
Jaehyun tertawa kecil, sarkasme Hana terasa sangat tajam.
“Kau bisa tidur sekarang, aku sudah pulang.” ujar Jaehyun.
Hana mengerutkan kening, cara Jaehyun bicara sedikit membuatnya tak suka. Jaehyun seolah bicara sambil lalu, sembari melepas jas dan sepatu, ewwww, kayaknya tidak tulus banget. Hana membalikkan badan dengan sedikit lebih keras dari yang seharusnya. Jaehyun is being a pain in ass...again.
“Dan, Hana...”
Tapi Hana pun berbalik dengan cepat saat Jaehyun memanggilnya lagi, kali ini dengan lembut.
“..terima kasih karena telah menungguku” wajah Jaehyun penuh dengan senyuman, sedikit aneh, tapi tak terasa menganggu. Sejujurnya Hana sempat merasa berdebar-debar walau hanya sebentar.
Hana menggaruk kepalanya yang tak gatal, “uh.. tak masalah, aku istrimu, ingat?”
Jaehyun tersenyum hingga telinga, Hana merasa wajahnya memerah lalu buru-buru masuk kamarnya. Dia memutuskan jika sudah saatnya dia tidur.
***
Rasanya baru sebentar Hana merebahkan diri di kasurnya. Baru sebentar dirinya terlelap. Kali ini dia terbangun kaget, bukan karena kesiangan. Suara kelontangan di dapur yang membuatnya terlempar dari nyenyak tidur yang baru beberapa menit, menurutnya.
Tanpa membenahi rambut ataupun mengecek kembali penampilannya, Hana berjingkat keluar kamar dan berjalan menuju dapur. Di ruang tengah televisi menyala, tapi Hana tak berhenti dalam perjalanannya menuju dapur. Instingnya mengatakan Jaehyun sedang lapar dan berusaha memasak sesuatu.
“Kau sedang apa?”
“OH!!!”
Jaehyun terlonjak, kaget setengah mati. Telor di tangannya melenting, jatuh tepat dipunggung kaki kanannya.
Suasana kikuk sejenak.
. . . . . . . .
“HAHAHAHAHAHAA..”
Hana tak bisa berhenti tertawa sambil tangannya mengaduk-aduk ramyeon yang sedang dia masak. Jaehyun ada di kamarnya, mandi dan berganti baju karena telor yang tak sengaja terpelanting tadi membuatnya berbau...yah, tentu saja seperti telor kan?
Rupanya Jaehyun tadi berencana untuk bergadang guna menonton pertandingan bola. Dia sedang dalam proses membuat ramyeon ketika Hana muncul dan membuatnya kaget sampai-sampai telor yang rencananya hendak dia masukkan dalam kuah ramyeon, jatuh dan pecah di kakinya.
Jaehyun sudah duduk di sofa dan pertandingan sudah dimulai di televisi saat Hana membawa mangkuk ramyeon ke hadapan suaminya.
“Kenapa hanya satu?” Jaehyun mengerutkan kening, dia menerima mangkuk yang Hana sodorkan dengan hati-hati.
“Kau mau dua porsi?” Hana balik bertanya dengan serius.
“Maksudku, kau tidak membuat untuk diirmu sendiri?” Jaehyun menyuap penuh-penuh sembari bertanya.
Hana mengambil posisinya di samping Jaehyun dan duduk dengan nyaman sebelum menggeleng, menjawab pertanyaan Jaehyun.
“Kau mau wajahku bengkak besok pagi, ha?” seolah-olah merasa tersingung tapi ekspresi Hana terlihat jika dia sedang bercanda.
“Itu akan terlihat hebat, si gadis berpipi tembam yang bengkak. Kau bisa bayangkan?” Jaehyun tertawa, tangannya masih memegang mangkok ramyeon dengan mata sesekali berpindah dari layar televisi dan ke arah Hana.
Hana ikut tertawa, dia meninju lengan Jaehyun pelan.
“Ini klub apa dan apa yang sedang bertanding?” Hana menyandarkan kepalanya dengan santai ke bantalan sofa di belakang lehernya.
Jaehyun menelan kunyahannya sebelum menjawab, “Entahlah..”
“Yah!” Hana berpikir jika Jaehyun sedang menggodanya.
“Apa kau tadi marah padaku?” tiba-tiba saja Jaehyun bertanya.
“Kenapa kau bertanya seperti itu?” Hana menukas, dia membuka mulutnya saat Jaehyun menyodorinya sesuap kecil dari ramyeon yang dia pegang.
“Ya, karena tadi aku telat pulang, makanya aku bertanya apa kau marah padaku”
Hana menelan ramyeon yang ada di mulutnya sebelum menjawab, “Hampir.. tapi belum sih, heran kenapa rasanya aku ini wanita pemarah ya? Kalian para pria kadang bisa terlihat sangat sensitif”
Jaehyun mengerutkan kening, “Apa ada lagi yang menanyakan hal yang sama padamu?”
Hana mengangguk, dia melahap ramyeon yang disuapkan oleh Jaehyun.
“Joowon?” sekilas nada Jaehyun terdengar setengah menebak, tak yakin.
Hana mengangguk sekali lagi.
“Tapi apa kau tau, tadi dia memelukku..”
Jaehyun sedikit tersentak mendengarnya, tetapi ekspresinya kembali berubah seperti biasa. Dia menawarkan suapan sekali lagi pada Hana namun Hana menolak.
“Apa kalian sudah baikan?”
Hana menoleh cepat, wajahnya terlihat terkejut. “Bagaimana kau tau kami sedang marahan?”
Jaehyun memutar kedua bola matanya, “Siapapun di jarak satu kilo bisa melihatnya dengan jelas, tau!”
Hana terkekeh, “entahlah...” dia menyendok sesuap ramyeon lagi dari mangkuk Jaehyun sebelum melanjutkan, “Dia adalah orang paling membingungkan yang pernah aku kenal, selalu menolakku terang-terangan tapi tetap bertingkah manis padaku. Kadang-kadang seperti seorang pacar. Apa semua pria seperti itu terhadap seseorang yang mencintai mereka? Tarik ulur dan selalu memberi harapan.”
Jaehyun diam sebentar sebelum menanggapinya, mangkuk ramyeon dan pertandingan bola benar-benar terlupakan dari benaknya.
“Apa kau tau apa yang kupikirkan?”
Hana menggeleng sambil menatap Jaehyun dengan tatapan polos.
“Pria ini mencintaimu” Jaehyun menelan ludahnya dengan susah payah, kalimat yang dia ucapkan memiliki makna ambigu, lalu melanjutkan, “Pria ini benar-benar sudah jatuh cinta padamu, hanya saja dia bingung tentang beberapa hal. Bisa saja tentang persahabatan kalian atau juga hal lain. Tapi yang terlihat, pria ini juga memiliki perasaan yang sama terhadapmu.”
Hana ternganga, “whuaaa... benar sekali! Aku juga berpikir seperti itu, tapi semua orang menolak fakta itu. Joowon bahkan Soohyun juga bilang itu tak mungkin. Tapi aku... aku merasakan semuanya dengan jelas, aku melihat semuanya dengan jelas. Benar-benar, kau adalah oppaku! Jjang!! Kau memiliki pandangan yang sama dengan pandanganku... kyaaaa~ aku jadi ingin memelukmu karena terharu!”
Hana berusaha memeluk Jaehyun yang duduk tepat di sampingnya, namun sebelum dia bisa melakukannya Jaehyun buru-buru berdiri menghindar.
“Opaaaa, kenapa kau menolak pelukankuuuuu..”
“Siapa yang mau dipeluk sama kurcaci pendek macam kau? Aku mau meletakan mangkuk kosong ini ke bak cuci piring” Lalu Jaehyun melenggang pergi, masih sempat terdengar gerutuannya di belakang. “katanya ogah makan ramyeon tengah malam, tapi semangkuk dihabiskan sendirian, dasar wanita!”
Hana terkikik mendengarnya, dia kembali menyandarkan kepalanya di bantalan leher sofa sambil mengembalikan fokusnya pada televisi di depan.
“Oppaaaaa...”
Terdengar sahutan Jaehyun dari belakang.
“ini klub apa dan apa yang sedang bertanding sekarang? Kenapa seragamnya sama-sama merah?”
Jaehyun yang telah selesai mencuci mangkuk lalu kembali duduk di sofa bersama Hana, memfokuskan matanya pada layar televisi juga. Hana menelusup masuk dalam lengan Jaehyun dan bersandar di bahunya.
“sudah kubilang aku tak tau.. sudahlah lihat saja sampai selesai nanti juga ada tulisannya di akhir pertandingan atau disebutkan oleh komentator”
Hana terbelalak, dia menarik kepalanya dari bahu Jaehyun dan menatap pria di sampingnya ini dengan tak percaya.
“Jadi kau benar-benar tak tau? benar-benar benar-benar tak tauuuu??”
Jaehyun mengangguk, matanya masih tak terlepas dari layar televisi, mengabaikan tatapan heran dari Hana.
“Lalu kenapa kau menontonnya kalau begitu, ha?” desak Hana.
Jaehyun tak menjawab, dia melipat kedua tangannya di belakang kepala lalu menyandar di bantalan leher sofa. Lama sekali dia terdiam dan Hana masih menatapnya tak percaya. Akhirnya dia mendesah kelu sebelum menjawab Hana, matanya tetap tertuju pada layar televisi tapi jelas sekali terlihat jika pikirannya berlari pada hal lain.
“Aku tak pernah paham pertandingan bola, aku juga tak tau klub-klub mana yang bagus. Aku menonton setiap pertandingan bola yang disiarkan lewat tengah malam... hanya karena dulu Appa selalu melakukannya bersamaku. Appa akan membangunkanku dan meminta ditemani, kadang kami bercerita hal lain sementara pertandingan terabaikan. Aku hanya melestarikan kebiasaan lama”
Hana terdiam. Jawaban jaehyun lebih serius dari yang dia bayangkan.
“Apa kau merindukan aboji?”
Jaehyun menatap Hana saat menjawabnya, “kau pikir untuk apa aku bergadang tengah malam demi acara yang sama sekali tak kupahami?” bibirnya tersenyum lalu meraih kepala Hana untuk disandarkan di bahunya. “Hanya dengan cara seperti ini aku merasa Appa tak pernah pergi dariku, dengan tetap melakukan kebiasaan lama kami” Jaehyun melanjutkan sembari menepuk-nepuk kepala Hana penuh sayang.
“Tidurlah, ini sudah sangat larut” Jaehyun berbisik, tangannya tak berhenti menepuk-nepuk kepala Hana.
Hana melingkarkan tangannya ke badan Jaehyun, memeluknya. Tak pernah terbayang sosok orang asing yang pertama kali dia lihat sangat pendiam itu memiliki sisi lain se-mellow ini.
“Oppa, apa kau tau apa yang kupikirkan saat pertama kali kita bertemu di pemotretan portofolio dulu itu?” Hana mendongak, Jaehyun menatap tepat di bola matanya. Dia menggeleng.
“Aku berpikir kau ini seorang penyendiri. Sekilas lihat dan aku bisa mengatakan kau ini orang yang dingin, lalu sempat aku ingin menyeplos ‘hei apa kau penyendiri? apa kau tak punya teman karena kau terlalu jelek?’ hahaha untung aku bisa menahannya.” Jaehyun ikut tertawa bersama Hana, “bayangkan saja aku mengucapkannya di pertemuan pertama kita, aku pasti sudah gila” lanjut Hana masih sambil tertawa.
“kau memang gila, kau wanita tergila yang pernah ku kenal” sahut Jaehyun. “Sudahlah, tidur sana” Jaehyun mengetatkan pelukannya pada Hana masih sambil sebelah tangannya menepuk-nepuk kepala Hana pelan. Hana menguap sekali tapi mengatakan apa yang disuruh Jaehyun, matanya mulai menutup.
Sebelum dia benar-benar terlelap, Hana teringat akan satu pertanyaan yang selalu membayanginya tentang Jaehyun.
“Oppa, apa kau masih bisa mengingat cinta pertamamu?” ucap Hana tak jelas.
“Tentu saja. Aku punya cinta pertama yang selalu kuingat sampai sekarang.”
“Seperti apa dia?” Hana menguap lagi, matanya sambil tertutup sat melemparkan pertanyaan tersebut.
“cinta pertamaku... adalah salah satu model di perusahaan kita” Jaehyun tertawa pelan saat menjawabnya.
“Oya?” Hana menguap lagi, “Lain kali ingatkan aku untuk bertanya lebih lanjut..”
Jaehyun hanya tersenyum simpul, tangannya tak berhenti menepuk-nepuk kepala Hana.
“Cinta pertamaku Joowon..” bisik Hana tak jelas, dia sudah di ambang lelap.
“Aku tau..” Jaehyun menyahutinya dalam satu tarikan nafas. Terbayang lagi perasaan naik bianglala yang tadi sempat dia pikirkan saat masih di kantor.
Sunyi. Sesak nafas. Sendirian.
Dan malam itu Hana tertidur dalam pelukan Jaehyun sampai pagi, berdua meringkuk di sofa mengabaikan televisi yang menonton mereka. Mimpi Hana mengerikan, melibatkan seorang wanita berwajah lancip dan berbibir merah dengan postur tinggi menjulang memakai tag yang di kalungkan di lehernya bertuliskan Jaehyun. Sementara mimpi Jaehyun lebih mengerikan, melibatkan sebuah bianglala macet dan senyum Hana di sebuah studio foto.

Tbc-

PSS: boong deng kalo gada bonus pic Jaehyun :D






Rabu, 25 September 2013

[fanfic] The Unintended chapter 2

The Unintended chapter 2




Tags: OC, friendship, romance, arranged marriage, marriage life.

Description: 

Love isn’t always a compromise. Sometimes, it’s a complete surprise. And the best love story is when you fall in love with the most unexpected person at the most unexpected time - Unknown


Foreword:

Apa yang akan terjadi jika pernikahan yang akan kamu jalani tak seperti yang kamu bayangkan? Apa jadinya jika kamu harus menikah dengan seseorang yang tak kamu kenal dan bukan orang yang kamu cintai karena sebuah permintaan?  


woohoooo, akhirnya setelah sekian lama dan sekian penundaan (huhu maaf ><) saya bisa update juga. eits tapi jangan dikira cuma ini aja, humm sebenarnya serial ini sudah hampir selesai seluruh chapter yang saya rencanakan, tinggal posting sih. jadiiiii mungkin aja nanti bakal ada updating dadakan dan beruntun, tapi bukan langsung hari ini ya kekeke XD
humm dramanya mulai kerasa di chapter ini, tapi yah masih samar-samar gitu deehh, tenang nanti semua juga sampai pada klimaks dramanya kok, untuk sementara ini nikmati dulu fluffnya ya XDD
Dan seperti yang selalu saya tekankan bahwa kisah ini sama-sekali OC, jadi misalkan ada beberapa idola yang ikut bermain di dalam ceritanya maka dia bermain seperti yang diplotkan oleh author dan bukan sebagai idola seperti yang kita lihat sehari-hari. Owkeeee? :)

Disclaimer: This fict and the story along are mine, but credit for picts are belong to the owner. 
enjoy the update XD

***

“AAAAhhhh..” Hana menghempaskan pantatnya ke sebuah busa besar berbentuk gundukan bangku di salah satu sudut cafe mereka, ini tempat kesukaannya yang dia desain sendiri.
“Aku sangat merindukan tempat ini..” Hana melipat lututnya sehingga dirinya makin melesak ke dalam bangku busa tersebut.



Damn, woman. Lindungi dirimu sendiri” Soohyun melemparkan jaketnya asal hingga menutupi wajah Hana.
“Aku sedang beramal tau, beramal. Harusnya kau mensyukurinya..” Hana terkekeh sambil meraih jaket tersebut dan menggunakannya untuk menutupi roknya saat dia melipat lutut. “Lagipula kau harusnya melemparnya ke arah pahaku, bukan ke arah wajahku. Dasar pria~” gerutu Hana. Soohyun ikut tertawa.
 “Jadi bagaimana rasanya menjadi seorang istri?”
Hana terdiam sejenak saat mendengar pertanyaan Soohyun.
“Entahlah, aku baru dua hari menjadi istrinya. Aku tak bisa menilainya secepat itu..” Hana menjawab pelan sembari memainkan cincin yang ada di jarinya. “Tapi tidakkah kau pikir cincin ini sangat cantik, Oppa? Aku bisa memakainya saat sedang santai maupun saat sedang di kantor karena desainnya sangat elegan..”
“Tapi kau tak bisa memakainya dengan semua gaun-gaun pesta koleksimu..” sahut Soohyun serius sambil meminum tehnya.
“Kau adalah orang aneh yang paling aneh yang aku kenal, kita menjual kopi di sini tapi kau selalu meminum teh..” Hana memperhatikan Soohyun dengan pandangan mencela.
“Wae? Aku membuat tehku sendiri, bukan menyuruhmu. Lagipula ini ocha, bisa menenangkan pikiran dan mengurangi zat-zat racun dalam tubuh, kau harus mencobanya sesekali..” Soohyun menjelaskannya dengan panjang lebar.
Yuck.. kau sudah pernah membuatku mencobanya sekali saat kita main truth or dare dan rasanya sepat.. aku heran kenapa kau bisa tahan rasanya..”
Soohyun melipat tangannya di belakang kepala dan bersandar ke sofa sudut yang dia duduki, berseberangan dengan bangku busa Hana.
“Kau tau, kadang-kadang kita butuh sedikit rasa lain untuk bisa menikmati setiap tetes rasa manis yang kita punyai.” Jawab Soohyun berwibawa.
“Oh, lupakan jika aku pernah menanyakannya..” Hana memutar bola matanya. “Ngomong-ngomong, kau benar, cincin ini tak cocok dengan semua gaun pestaku, kau harus mengajakku belanja dan beli gaun baru..” Hana nyengir tanpa malu-malu.
“Kau gila? Kau kan sudah punya suami, berhenti menjadi benalu padaku.. kau tau gaji guru SMA itu hanya cukup untuk pria lajang hidup sendirian” Soohyun menyahut singkat sambil mengerutkan keningnya, sedikit kesal.
Hana meluruskan kaki kirinya dan mencubit pinggang Soohyun dengan ibu jari dan telunjuk kaki, “Setidaknya anggap yang kali ini sebagai kado pernikahanku, ayolaaah..” Hana merengek, kakinya tak berhenti mencubit setiap bagian tubuh Soohyun yang terjangkau oleh kakinya.
Soohyun menggelinjang kegelian, “Hentikan, Hana.. atau aku akan memuntir pergelangan kakimu hingga terkilir.. hahaha tolong hentikannnn..”
“Ayoooh, berikan aku kado pernikahan..  Oppa macam apa kalian itu, adik satu-satunya menikah tapi sama sekali tak memberi kado” Hana masih ngotot sambil menendang, mencubit dan mecolek Soohyun dengan kaki.
Tawa mereka baru terhenti saat Soohyun memegang kedua kaki Hana dengan keras. “Kubilang berhenti Ahn Hana..”
Hana mengerang, “Jangan memanggilku begitu.. nama itu terdengar jelek, anggap saja aku masih Jung Hana.”
Soohyun terkekeh, “Hei, itukan nama akhir suamimu sendiri, kau harus memakainya mau atau tidak mau.” Soohyun bangkit dari tempat duduknya lalu pindah ke sisi tempat Hana duduk.
“Pergi dari sini, busa ini bisa gepeng jika diduduki dua orang” Hana mendorong Soohyun, tapi Soohyun justru merangkul kepala Hana dan mencubit hidungnya.
“Segitu bencinya kah kau dengan suamimu hingga tak mau berpindah nama belakangnya dan pergi bulan madu dengannya?”
“AAA sakiitt..” Hana berusaha melepas cubitan Soohyun pada hidungnya. “Aku tidak membencinya, aku hanya tak suka nama belakangnya, jelek jika dipadukan dengan namaku, akan lebih baik jika dia memakai marga Moon seperti Joowon oppa” Hana mengelus hidungnya yang perih karena cubitan Soohyun, bibirnya mengerucut sebal.
“Dan kami tak ada rencana bulan madu, buang-buang duit saja..” lanjut Hana.
“Apa?! Lalu bagaimana nasibnya paket bulan madu yang Joowon hyung dan aku berikan padanya?” Soohyun benar-benar terlihat terkejut.
“Apa maksudmu?” Hana mendongak ke arah Soohyun yang masih menyesaki tempat duduknya. “Paket bulan madu apa?” keningnya berkerut penasaran.
Soohyun memegang pundak Hana dan memaksanya untuk menatap kearah Soohyun penuh. “Entah mengapa aku punya firasat buruk tentang ini..” gumamnya tapi dia buru-buru melanjutkan dengan serius.
“Aku memang tak memberimu kado pernikahan dalam bentuk barang, tapi aku dan Joowon hyung sepakat mengumpulkan tabungan kami berdua untuk membelikanmu satu paket bulan madu ke Paris.”
Hana terbelalak, “Kau bohong!” raut mukanya menyaratkan rasa tidak percaya yang sangat kuat.
“Aku bersungguh-sungguh, kami memberikan sendiri amplop berisi tiket dan semuanya ke tangan Jaehyun sesaat sebelum resepsi pernikahan kalian. Saat itu Jaehyun berniat membuka isinya tapi Joowon memaksa kakaknya tersebut untuk membukanya bersamamu di rumah baru kalian, apa dia tidak bilang?” Ungkap Soohyun serius.
Hana hanya terdiam, mulutnya masih melongo dan tatapannya penuh rasa terkejut dan tak percaya..
“Oppa, aku tau Jaehyun Oppa tak mungkin menipuku dengan memakai paket bulan madu itu dengan orang lain atau pun sendirian, tapi aku memikirkan sesuatu yang lain.. ” Hana menatap mata Soohyun dengan penuh horor, “Apa kau memikirkan apa yang aku pikirkan?”
Kini giliran Soohyun yang membelalakan matanya, “andwae.. andwae.. itu tak mungkin..” suaranya hilang di ujung kalimat membayangkan hal paling buruk dari yang terburuk yang bisa dia pikirkan saat itu.

***
“Mana Hana?”
Joowon melepas topi dan apron yang dia kenakan sebelum merebahkan dirinya setengah berbaring di sofa. Soohyun masih terduduk sambil termangu di tempat dirinya dan Hana duduk tadi, tangannya memegang handphone namun tatapannya kosong dan sedikit syok.
“Kau kenapa, Soohyun-ah?” Joowon mengangkat kepalanya dan menyangga dengan satu tangan sambil menghadap ke arah Soohyun.
“Yah, Kim Soohyun!!” Joowon sedikit membentak karena Soohyun tak menjawab pertanyaannya pun seolah tak menyadari kehadirannya.
Perlahan bibir soohyun bergerak, tatapannya menemukan mata Joowon yang penasaran.
“Hyung, apa kita harus membunuh suami Hana.. kakakmu itu?” Soohyun bertanya dengan nada yang seolah masih mengambang antara sadar dan tidak.
Joowon menautkan alisnya, lalu mengubah posisinya menjadi duduk. “Ada apa dengan Jaehyun hyung? Apa dia menyakiti Hana? Apa Hana baik-baik saja?” tiba-tiba sorot mata Joowon penuh rasa panik, dia bangkit dan merebut handphone dari tangan Soohyun. Saat tangannya sedang mengetik nomor yang akan dia hubungi, Soohyun mendongak kearahnya dengan tatapan sedih dan mata berkaca-kaca.
“Kita telah melakukan hal yang sia-sia dengan memberi mereka paket bulan madu..” Soohyun tak melanjutkan kalimatnya. Joowon menghentikan gerakan tangannya yang siap-siap hendak menelepon.
“Kenapa memangnya?”
“Hyung.. tabungan kita hyung.. aku bisa membayar cicilan mobil baru dengan uang itu.. dan kakakmu.. kakakmu menghancurkan semuanya” Soohyun berkata terbata-bata, lalu mengacak rambutnya sendiri frustasi “Amplop dan isinya hancur karena Jaehyun mengirim tuxedo yang dia kenakan selepas resepsi ke laundry AAAAARRGGGHHHH!! Aku bisa gila hyuuunggg... uangkuuuu...!!!” Soohyun mengeluh dengan pilu sambil tak bentu-hentinya mengacak rambut dan sesekali menendang meja di depannya dengan penuh rasa jengkel.
Joowon membeku, telinganya mencerna apa yang Soohyun keluhkan sedikit lebih lama dari yang harusnya diperlukan “Kau bilang apa??”
Soohyun berhenti mengacak rambut dan melampiaskan tantrum, lalu menatap mata Joowon, dia terlihat lemas.
“Mereka benar-benar jodoh, bukan?” ucap Soohyun sarkatis lalu semakin melesakkan punggungnya ke lekukan bangku busa yang dia duduki, seolah ingin menenggelamkan diri ke dalamnya.
“Apa.. apa ini artinya.. artinya peristiwa musnahnya uang wisata kita ke Maldive itu terulang lagi, Soohyun-ah?” Joowon yang masih membeku terlihat memaksakan diri untuk bicara, pelan dan seolah tak stabil nada suaranya.
Soohyun hanya melenguh, kembali frustasi.
“Mereka benar-benar, benar-benar, jodoh yang sebenar-benarnya.. daebakkkk...” Soohyun masih saja berucap dengan penuh sarkatis.
“U-UUANGKUUUUUUUU~!!!”
Soohyun hanya melirik ke arah Joowon yang sekarang histeris dan berjalan mondar-mandir di dalam ruangan tersebut lalu kembali menenggelamkan dirinya, meratapi kesialannya dalam gerutuan pelan karena seruan Joowon sudah menenggelamkan semua suara di sekitarnya.

***
Hana melongo di pantry, Jaehyun juga. Tangan Hana masih memegang handphone yang dia gunakan untuk menghubungi Soohyun barusan. Suasana hening, tapi hening yang sedikit seram.
“Eottohkae?”
Perlahan bibir Hana bergerak, matanya masih saja kosong. Jaehyun masih diam. Hana mengerlingkan mata ke arahnya,  lalu turun dari tempatnya nangkring di atas tepian wastafel. Dia berjalan ke arah Jaehyun yang masih saja tenggelam dalam pikirannya sendiri, lalu menyentuh lengan suaminya tersebut.
“Oppa, apa yang harus kita lakukan?”
Jaehyun seolah tersadar dengan pertanyaan Hana, lalu memandang tepat ke mata Hana.
“Bukan kita, tapi aku. Tentu saja aku harus meminta maaf kepada mereka. Dengan apa kita harus meminta maaf? Sepertinya ucapan saja tak akan mampu mengganti semua itu.” Berbeda dengan raut wajahnya yang tegang, suara Jaehyun terdengar sangat tenang.
Hana mendesah, “Berhentilah menanggung semuanya sendiri, kau sudah punya istri sekarang. Lagipula itu kan kado pernikahan kita.” Sahut Hana, wajahnya sedikit kesal karena rasanya Jaehyun membuangnya dari figura pernikahan mereka yang baru berumur beberapa hari.
“Tapi kan ini kesalahanku.. aku yang teledor dan..”
Cut it off, we’re doing this together. Kita akan meminta maaf kepada mereka.. Hana memotong sanggahan Jaehyun lalu menarik tangannya berdiri untuk pergi ke café milik Joowon.
Perjalanan menuju café terasa sangat lengang. Tak ada suara apapun selain deru mobil di luar mobil mereka. Hana tak tau apa yang ada di pikiran Jaehyun, tapi pikirannya sendiri terasa penuh dengan kekhawatiran hendak memasang wajah apa nanti dia di depan Joowon. Memang semenjak pernikahan itu, Hana belum pernah bertemu dengan Joowon lagi. Lagi pula ada sesuatu yang masih mengganjal di hatinya untuk bertemu dengan Joowon. Pertengkaran terakhir mereka sebelum Hana menikah…
Hana sedang terlentang di kasurnya, memandangi langit-langit kamarnya yang penuh dengan wallpaper bermotif bintang yang bisa menyala dalam gelap. Dia mendesah sekali. Kepalanya terasa sangat pusing. Segalanya terasa sangat berat.
Akhirnya dia akan menikah. Akhirnya dia akan menjadi menantu Nyonya Moon, tapi bukan untuk menjadi istri Joowon.
Hana mendesah lagi, kali ini nadanya pilu..
Siapa yang tau jika ternyata Nyonya Moon akan mengambilnya sebagai menantu untuk anak sulungnya, kakak tiri dari Joowon? Siapa yang tau jika kebahagiaan Hana beberapa hari ini terasa semu dalam sekejab, seolah ada lubang kehampaan yang menyedot semua gelembung bahagianya hingga tandas tak tersisa.
Apa yang harus Hana lakukan?
Melarikan diri?
Menolak pernikahan ini di saat-saat terakhir?
Hana tak bisa… entahlah.. dirinya memang tak mau, tapi untuk menolak semuanya juga tak sanggup.
Lalu apa tanggapan Joowon? Pria itu terlihat bahagia, sangat bahagia, dan itu menyakitkan. Apa lagi yang bisa kau harapkan dari seseorang yang selama ini kau cintai setengah mati tapi justru bahagia saat melihatmu hendak jadi milik orang lain selain dirinya? Perih jenderal!
Hana berguling di atas tempat tidurnya, rasa-rasanya jalan menuju masa depannya sangat gelap, tak pernah terbayang di matanya dia akan menikah dengan orang yang bukan Joowon, pria yang dia cintai.
Tuk!
Hana tersentak, ada yang melempar sesuatu ke jendela kamarnya.
Tuk!
Sekali lagi terdengar suara yang sama.
Kali ini Hana bangkit dari posisi berbaringnya, lalu berjalan menuju ke sumber suara, jendela kamarnya. Disibaknya tirai, lalu terlihat olehnya sesuatu yang membuat darahnya terpompa lebih cepat.
Joowon ada di sana, melambaikan tangan dengan heboh sembari tersenyum lebar.
Seperti seseorang yang melihat harapan, Hana sedikit tergesa membuka jendela kamarnya, namun Joowon memberinya isyarat untuk diam dan memelankan suaranya.
“Apa kau bisa keluar melalui jendela? Aku akan menculikmu malam ini”
Joowon berbisik agak keras namun masih dalam taraf jangkauan dengarnya saja. Hana mengangguk menyanggupi, lalu dibantu Joowon dia berusaha membuka jendela kamarnya lebih lebar untuk keluar lewat sana.
Saat di hari-hari biasa mungkin kejadian ini akan membuatnya merengek dan mengeluh, namun jika dikaitkan dengan peristiwa yang akan dia jalani besok pagi dan posisi Joowon di matanya, kejadian seperti ini seolah membuat adrenalinnya terpacu. Seolah Joowon sengaja memberinya harapan.
“Kemana kau akan membawaku?” bisik Hana sembari mengikuti langkah Joowon menuju mobilnya yang terparkir tepat di depan pintu masuk halaman rumahnya.
Joowon hanya mengerling dan melajukan mobilnya dalam diam dengan penuh senyum misteri.
“kau akan menghabiskan malam terakhirmu menjadi wanita lajang dengan cara yang tak pernah kakakku bayangkan, Hana” Joowon terkekeh, namun nada bicaranya penuh rahasia dan teka-teki. Hana hanya mengerutkan kening, namun setengah hatinya merasa ragu dan sedikit ngeri, menduga-duga apa yang kira-kira akan disiapkan oleh Joowon.
Tak berapa lama kemudian...
“Apa seperti ini biasanya pesta lajang..”cetus Hana, dirinya saat ini sedang terlentang di atap ruko milik joowon dan memandang ke langit penuh bintang sementara Joowon dan Soohyun ikut berbaring di sisi kanan dan kirinya, memandangi langit berbintang yang sama.
Soohyun terkekeh, “Tidak, calon pengantin lainnya menghabiskan bachelorette party mereka dengan mabuk-mabukan dan pamer gaun pesta..”
Hana menoleh ke kiri, ke arah Soohyun berbaring di sisinya, “Bagaimana kau bisa tau? aku curiga, jangan-jangan kau pernah mengikuti pesta macam itu..” tanya hana penasaran, joowon meledak dalam tawa.
“kau lupa ya, siapa yang sedang bersama kita saat ini.. Don Juan kelas kakap nona..”Joowon masih tertawa sembari menimpali pertanyaan hana, Soohyun hanya nyengir.
Hana juga ikut tertawa, tapi di ujung tawanya terdengar sangat pahit.
“jadi.. besok aku akan menikah..” pelan Hana mencetus, nada suaranya terdengar mengambang seolah masih tak yakin.
Joowon dan Soohyun menanggapinya lain, mereka berdua mengira jika Hana terharu akan pernikahannya yang segera akan dia jalani. Dengan perasaan sayang ala kakak mereka berdua memeluk hangat Hana dari kedua sisi, berusaha menenangkan.
“Semuanya akan berjalan lancar, tenang saja..” bisik Joowon, dia menenggelamkan kepalanya di bahu Hana.
Hana tertawa kering mendengar bagaimana Joowon berusaha menyemangati dirinya, “Oppa, tak bisakah jika kau saja yang menikah denganku besok?” Hana menolehkan kepalanya ke arah Joowon dengan pandangan putus asa. Dia bisa merasakan respon badan Joowon yang masih memeluknya kaku sejenak lalu kembali seperti biasa. Soohyun pun menghentikan gerakannya yang sedang mengusap-usap rambut Hana. Suasana berubah canggung.
Joowon tak menjawab tapi balas menatap tepat di mata Hana dengan tajam, lalu memutuskan untuk bangun dari posisi tiduran mereka. Saat Joowon hendak berdiri dari duduknya, Hana mencengkeram pergelangan tangan Joowon.
“Oppa..”
“Kita sudah membicarakan hal ini ratusan kali, Hana. Dan jawabanku masih sama seperti terakhir kali saat kau mendengarnya, itu tak akan terjadi. Berhentilah bermimpi yang mustahil..” Joowon mengibaskan tangannya dari cengkeraman Hana lalu berdiri dan menuju balkon atap, memandang lalu-lalang kendaraan dan orang yang ada di bawahnya.



“Ini tak akan mustahil jika kau mau mencobanya, Oppa. Ini hanya butuh tindakanmu, lalu sisanya bisa kita atasi..” Hana masih mencoba untuk bersikukuh dengan caranya sendiri.
Joowon membalikan badan dengan sedikit frustasi, “Bangunlah Hana, selama ini kau tinggal di mana? Kau mau aku mengecewakan ibuku? Kalau begitu kau tak benar-benar mengenalku..”
“Lalu apa kau pikir kau mengenalku?!” bantah Hana cepat, “Siapa aku selain Hana yang kau anggap adik kecil? apa yang ku inginkan? apa yang menjadi mimpiku? Apa kau tau itu??!” nada Suara Hana meninggi oleh emosi. Joowon memandang Hana dengan ekspresi lelah.
“Aku terlalu mengenalmu, sehingga karena seluruh pertanyaan itu aku tak akan pernah bisa mencintaimu sebagai seseorang yang akan menjadi pasangan hidupku. Kau adikku, sahabatku, apa kau tak bisa melihatnya?” sahut Joowon pelan, ada nada pahit yang terdengar. Soohyun yang sedari tadi hanya terdiam, merasakan sesuatu yang dingin mengalir di sana.
“Kau yang tak bisa melihat. Aku selalu melihatnya, cinta itu ada di sana, kau saja yang tak mau mengakui!” Hana menukas pedas.
Joowon tersenyum, tapi bukan senyum yang membuat hati hangat, karena kalimat selanjutnya penuh dengan pisau-pisau tajam. “Aku tak pernah tau jika selama ini kau terlalu buta untuk bisa melihat mimpi di mana kau berada, berhentilah menari di mimpi yang salah, kau hanya akan terkilir dan jatuh”
Lalu pertahanan Hana pun runtuh, dengan sisa-sisa harga dirinya setelah memohon-mohon kepada Joowon tadi, Hana meninggalkan tempat tersebut penuh luka berdarah. Tidak, dia tidak menangis, tapi luka di dalam yang dia rasakan lebih pedih dari sekedar luka yang bisa ditangisi.
“Kita sudah sampai, Hana..”
Suara Jaehyun menyadarkan Hana dari lamunan, setengah tergeragap Hana menatap mata Jaehyun. Dengan segenap permohonannya yang tak terucap, tatapan itu dimaksudkan untuk meminta perlindungan dan dukungan. Mungkin Jaehyun tak tau, tapi ada lebih dari sekedar permintaan maaf yang akan mereka lakukan di sana, di tempat yang ada Joowon. Sumber segala sakit dan bahagia Hana. Dan Hana meminta perlindungan  Jaehyun, untuk segala nafas dan detak jantung yang mungkin kan bertindak lain hari ini.
Jaehyun meremas tangan Hana pelan, mengisyaratkan jika dirinya ada. Segenap permohonan dan ketakutan Hana tadi telah sampai pada Jaehyun, hanya dengan tatapan. Ingin rasanya Hana memeluk Jaehyun saat itu juga. Tapi tarikan pelan Jaehyun di pergelangan tangannya mengingatkan Hana ada sesuatu yang masih harus mereka selesaikan, terlepas dari keberadaan Jaehyun yang semakin menonjol di matanya. Sembari melangkahkan kaki menuju kafe, Hana menemukan bahwa pernikahan ini bukan hanya sekedar pernikahan karena perjodohan, tapi mungkin akan ada cerita lain di baliknya. Hana mencatat di benaknya untuk berhati-hati di hari esok yang akan dia hadapi bersama Jaehyun. Siapa yang tahu, kan?

***
“Hmm.. dapat tip lagi dari anak-anak kecil itu?”
Jaehyun menolehkan kepalanya menuju arah suara Hana, dia tersenyum dan mengangguk pelan. Tangannya masih sibuk merapikan uang yang tadi sempat diselipkan pengunjung kafe saat dia mengantarkan pesanan, untuk kemudian mencatat dan memasukkan uang tersebut ke kotak kasir.
“Apa kau tau, semenjak kau menjadi karyawan kafe ini omset kita semakin meroket, tapi bukan dari penjualan melainkan dari tip-tip yang bocah-bocah itu selipkan di kantong apronmu?”. Ucapan Hana lebih terdengar sebagai pernyataan dibanding sebuah pertanyaan.
Jaehyun mengangguk menanggapi, tapi masih tak menyahut. Setelah membereskan semuanya ke kotak kasir, dia bersiap-siap hendak melepas apronnya. Kafe telah tutup sejak jam 10 tadi dan punggungnya terasa sangat pegal, yang ingin dia lakukan hanyalah tidur dan meluruskan seluruh otot-ototnya yang kaku.
“Apa saja yang kau lakukan selain mengantarkan pesanan, sehingga bocah-bocah itu bersedia membayarmu lebih besar dari harga minuman yang mereka pesan?” Hana masih mencecar Jaehyun, dia mengikuti Jaehyun menuju tempat loker pegawai di belakang.
Jaehyun terkekeh, “Mungkin mereka membayarku karena aku terlahir ganteng plus bersedia mengantarkan pesanan mereka..”
Hana mengerutkan alisnya, tak setuju.
“Soohyun juga sering menjadi pengantar pesanan ke meja pengunjung, tapi tak mendapat sebanyak kau, dia bahkan bertingkah lebih manis sementara kau selalu bertampang dingin dan memasang ekspresi kaku” desak Hana lebih lanjut.
Jaehyun berhenti dari kesibukannya mengambil baju ganti di lokernya, lalu memandang Hana dengan ekspresi tak percaya..
“Nah, kau tau kan bagaimana caraku menanggapi mereka? Jika mereka mau menyelipkan uang tip di kantong apronku lalu aku mengembalikan karena terlalu banyak, bukankah itu namanya tidak sopan? Berhentilah cemburu, mereka hanya anak-anak SMA..”
“Yah, aku hanya penasaran saja, lagipula kau bisa dicap sebagai om-om genit yang menggoda bocah-bocah dibawah umur.. hey, apa katamu? AKU TIDAK CEMBURU PADA MEREKA!”
Jaehyun tertawa geli, dia menutup lokernya lalu berjalan menuju kamar ganti.
“Kubilang, aku tidak cemburu! Berhentilah tertawa! Kenapa aku harus cemburu padamu, kau hanya suamiku!” Hana ngotot, dia masih membuntuti Jaehyun.
Tawa Jaehyun berhenti tapi dia masih memasang senyum menggoda Hana, “Justru karena aku suamimulah makanya aku maklum jika kau cemburu..”
Hana semakin cemberut, “Apa yang harus ku cemburui, aku kan cintanya sama adikmu, bukan kau!”
Tawa Jaehyun lenyap, Hana sedikit kaget, apa dia telah mengucapkan sesuatu yang seharusnya tak dia ucapkan? Tapi bukan kah jaehyun sudah tau tentang cinta bertepuk sebelah tangannya pada Joowon semenjak hari pertama mereka menjadi suami istri? Jantung Hana berdegup kencang, sedikit takut, dia belum pernah melihat Jaehyun marah. Dan tatapan Jaehyun yang tajam ke arahnya juga tak mengurangi ketakutannya.
“Kenapa kau memandangiku seperti itu?” pelan, pertanyaan Hana terdengar hanya seperti bisikan.
“Kau mau masuk atau tidak?” ucap Jaehyun tiba-tiba.
“Apa?” Hana menatap Jaehyun bingung.
“Dari tadi kau mengikutiku, bukankah kau menungguku untuk berganti baju bersama?” Jaehyun mengangkat sebelah alisnya, pandangannya sedikit menggoda.
Hana memandangi sekitarnya, dia sedang berdiri di depan pintu kamar ganti dengan Jaehyun di dalam kamar tersebut dan memegang daun pintu, bersiap menutupnya. Oh, no! Sedari tadi Hana ternyata mengikuti kemanapun Jaehyun berjalan, seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Muka Hana memerah dengan cepat.
“Dasar pervert!” hardik Hana.
Meskipun dia sudah berusaha kabur secepat ia bisa, namun masih terdengar olehnya tawa Jaehyun dan ucapannya yang terdengar seperti ‘aku berusaha menjadi suami yang baik dengan menawarkannya jika kau malu meminta sendiri’. Hana menutup telinganya, sementara wajahnya terasa menghangat.
“Kau kenapa?”
Di dekat dapur, Hana berpapasan dengan Joowon yang kebingungan karena melihat Hana menutup telinga, wajah memerah dan sedang terburu-buru.
“Apa kau sakit?.. hei kau mau kemana?”
Hana tak menjawab, tapi buru-buru berlalu dan menuju atap, dia butuh udara segar. Setelah permintaan maaf itu, Hana memang masih canggung saat berpapasan dengan Joowon jika mereka hanya berdua. Bukan tentang permintaan maaf, tapi tentang kalimat terahir yang masih mengakar di bekas-bekas luka hatinya. ‘Aku tak pernah tau jika selama ini kau terlalu buta untuk bisa melihat mimpi di mana kau berada, berhentilah menari di mimpi yang salah, kau hanya akan terkilir dan jatuh’. Hubungan mereka memang sudah kembali seperti biasa, tapi tentu saja tak bisa lagi terasa senormal semula kan? Karena peristiwa kado bulan madu yang sia-sia itu, Soohyun dan Joowon menyuruh Jaehyun dan Hana bekerja di kafe, Jaehyun sebagai pengantar pesanan dan Hana sebagai penjaga kasir, kadang juga mereka berdua bergantian. Hana dan Jaehyun hanya akan bekerja full di setiap weekend, well tentu saja itu di luar jatah Hana semula. Jadi bisa dibilang Hana hampir tiap hari menghabiskan sisa sore dan malamnya setelah jam kerja di kantor usai, untuk bekerja di toko. Bukannya Hana hendak protes sih, dia sendiri menyanggupinya dengan antusias, karena itu artinya dia bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersama Joowon..uh, dan Soohyun juga.

***
Jaehyun telah selesai berganti baju, dia pun sudah membereskan tas Hana. Dia sangat ingin beristirahat tapi tak menemukan Hana dari tadi, tentu saja dia harus pulang bersama Hana kan? Wanita yang jadi ‘istri’nya itu memang seringkali merepotkan.
“Oh, hyung, kau sudah mau pulang? mana Hana?” Joowon berjalan menuju arah Jaehyun sambil membawa lap yang tadi baru saja selesai dia gunakan untuk mengelap seluruh meja di depan.
“Aku justru ingin menanyakan itu padamu, kau lihat Hana tidak?”
Joowon berpikir sejenak, “terakhir aku lihat sih, dia menuju atap.. tapi hyung, apa Hana sakit? Tadi dia menutup kedua telinganya dengan tangan dan wajahnya memerah, dia juga buru-buru kelihatannya, apa dia demam atau kenapa-kenapa?” tanya Joowon khawatir.
Jaehyun terkekeh teringat obrolan kecilnya dengan Hana tadi. “Kupikir tidak, uh..ya, kami tadi sedikit berbincang mengenai suatu hal, dan sepertinya aku tau apa yang membuatnya bersikap seperti itu..” Jaehyun menjawab yakin, senyum masih betebaran di wajahnya.
Joowon menatap Jaehyun tak percaya.
“Hyung, kau.. kau tertawa?”
Tersentak, Jaehyun memandang ke arah Joowon dengan kaget. Benar, ini tawa pertama Jaehyun di depan Joowon selama mereka menjadi saudara tiri semenjak yang bisa Jaehyun ingat. Kedua kakak beradik itu hanya saling menatap dengan isi pikiran masing-masing, namun semua ujung simpul-simpul itu samar-samar menuju pada satu arah.
Jaehyun menelan gumpalan kelu di tenggorokannya, lalu memalingkan wajahnya dari Joowon, dia berjalan menuju atap untuk memanggil Hana. Joowon memandang kepergian Jaehyun dari hadapannya dengan diam, tatapannya sudah tak sekaget tadi tapi hatinya terasa ada tusukan kecil. Dia meraba-raba kemana semua ini akan membawa mereka. Hana, kemana kau akan membawa persaudaraan kami yang dingin ini? Joowon tiba-tiba risau.


                                              Bersambung.



PS: jangan lupa kasi feedback ya ehehe XD nih saya kasih bonus wajah ganteng Jaehyun dengan tatapan menggoda :p