Rabu, 24 Oktober 2012

sahabat untuk selamanya *pinjem judul lagunya padi*


Selemah-lemah manusia ialah orang yg tak boleh mencari sahabat dan orang yang lebih lemah dari itu ialah orang yg menyia-nyiakan sahabat yg telah dicari.
(Ali bin Abi Thalib)

hei :)
apa kabarmu hari ini?

aneh kah jika aku menyapamu lewat tulisan?
harusnya tak begini bukan, tapi aku tak bisa jika tak begini. be a coward, i was ignoring you T.T

kamu adalah mata, mulut, pikiran dan hati pertama buatku. tapi lihat sekarang? selayaknya pengecut, aku hanya membiarkanmu wara-wiri di depanku tanpa ada sedikitpun teguran.

apa kau juga merasakannya?

jika apa yang di ungkapkan Ali bin Abi Thalib itu benar adanya, maka aku adalah orang terlemah dari yang paling lemah. sejak kapan aku mengabaikanmu seperti ini?

mulanya sumber kecil, lalu melebar dan berkawan sesama air. 
 
dari sungai terjebak muara lalu melenggang menuju laut buta.
 
seselokan kecil di kubangan lumpur, mencari sisa-sisa beningnya dan berusaha mengalir jauh menuju masa depannya di tangan pantai.
 
cekungan sisa hujan, menunggu panas menguapkan jernihnya menuju langit. pelukan langit membuatnya hidup kembali dan dihargai.
 
ceceruk rawa yang keruh memercik-mercik tiap makhluk. ada tempat lain yang lebih baik dari ini.
 
lalu semuanya berkenalan. 
 
 
tawar dan tawar yang lantas kembali ditawarkan. gumpalan asin menengahi.
 
disini. kita akhirnya menjadi laut. saat gulungan ombak pulang pada pantainya, kita yang sekarang terburai di sekat-sekat pasir. 
 
sejujurnya, adakah yang peduli?
 
 
ada ribuan mata air mengalir, mati lalu menderas kembali setiap harinya.
 
jadi, apa kau peduli?
 
 
 
*tak perlu menjadi langit untuk merasa jumawa. jika pada akhirnya cuaca hari ini tetap saja mendung dan hujan akhirnya melunturkan semua rasa, mungkin kita kurang bersyukur pada hari-hari bermatahari yang telah lewat. kita cukup menjadi air maka kita akan mengenali segalanya. dalam segelas air ini aku menyapamu, apa aku masih mengenalimu yang dulu?*
 
 
semarang, senin 02/07/2012 18:21
tulisan ini aku buat untuk orang, namun aku tak pernah mengira jika akhirnya dia kembali padaku. seolah tiap-tiap kalimatnya menjadi pisau yang disediakan untuk menusuk diriku sendiri.


orang-orang bilang aku ini sahabatmu. tapi aku tak berani mengiyakannya. kau memang sahabatku, tapi apa yang telah kulakukan untukmu hingga aku bisa disebut sebagai sahabat untukmu? T.T

kita menyatu karena kita ini sama-sama orang aneh, meski dengan kemasan yang berbeda. dengan  tulisan, dengan cerita, dengan segala tawa.

aku yang bodoh, aku yang salah. tak pernah sekalipun aku menanyakan keadaanmu, tak pernah aku menanyakan kabarmu dalam sehari. tak pernah aku berusaha mencari tau kenapa kau selalu aktif di sosial media. tak pernah aku sekedar mengirimkan pesan sehari sekali, demi memperkuat apapun yang sudah ada bertahun-tahun di antara kita.

aku ini pengecut, aku tak tahu ada berapa rahasia yang msih aku punyai hingga kini yang tak kamu tau. beberapa sudah aku buka lebar tapi beberapa terasa pahit jika aku ucapkan T.T harusnya tak begini.
semua peristiwa masalaluku membuatku punya kepribadian yang aneh. tak bisa hidup tanpa orang banyak tapi cenderung menarik diri saat dituntut untuk membuka diri. apa yang harus aku lakukan?

orang-orang melihatku ekstrovert, tapi ada banyak kotak-kotak terkunci yang aku simpan rapat ketika di hadapan orang. termasuk itu kamu.

aku hanya ingin menjadi sahabat yang baik buatmu, seperti kamu yang selalu ada buat aku. tapi semua cara yang aku jalani terasa salah untuk menuju ke sana. buta dan tak pernah mau bertanya, itu aku. T.T

bukankah aku pernah bercerita mengenai wanita berkepala gengsi? itulah aku. jika saja aku mau bertanya, jika saja aku mau lebih perhatian, jika saja ah.... aku tak tau bagaimana caranya T.T

jadi, apa aku masih menjadi batu buatmu saat ini, gabus?

Kapan 'kita' lahir? Sepertinya memang ngga pernah ada kau dan aku. Semenjak yg bisa kuingat, sudah begini.
 
Kita.Percakapan-percakapan bodoh. Lelucon-lelucon frustasi. Obrolan sok serius. Mimpi-mimpi. Pencapaian. Perjuangan. Segala cerita. Tangisan. Sakit hati. Marah. Tawa riang. Angin dengan laut dan penjaga dengan jejak pengembara. Itu kita.
Ngga cukup kalo kubilang aku mengenalmu. Ajaib. Hari-hari telah lewat, tp masi saja kupelajari jutaan hal tentang kamu.
 
Kita beda. Batu dan gabus. Laut dan pantai. Selatan dan utara. Tapi saat ada 'kita' semua terasa pas adanya. Rajin dan malas. Teliti dan ceroboh. Pendiam dan aktif. Cerdas dan konyol. Taktis dan spontan. Rapi dan berantakan. Optimis dan opportunis. Kalem dan meledak-ledak. Beauty and the beast. Lembut dan kasar. Pemurah dan pemarah. Nice dan galak.
 
Ah.. Masi banyak lagi. Tapi semua mata rantai dr aku dan kamu, terkait dalam 'kita'.
 
Keberadaanmu seperti udara. Seperti 'tak tik tok' jam dinding. Seperti aroma kala hujan.
 
Ngga selalu terlihat. Tapi saat kamu ngga ada, justru ada beda. Mengerti? Kita laut dan pantai. Tapi kita punya langit berpurnama yg sama.
 
Meski kelam. Meski ngga terbaca. Meski tinggi. Meski terlalu luas. Selalu akan dapat kita temukan. Kita buat purnama sejauh itu, jadi jeruk jingga di genggaman. Manis. Dengan semua gembira beserta cucuran tangis.Semua pemenang, sayang. Aku. Kamu.
 
Jika finish itu tiba di di ujung kaki salah satu dr kita, akan selalu ada tangan yg terulur, menggenggam sama kuat. Menarik dan terpacu. Sama-sama. Itulah kita.
 
Bukan gelembung. Dan kita ngga akan pernah jadi gelembung. Bersinar sebelum lenyap seketika. Kita ini sinar matahari. Selalu regenerasi pada putaran waktu. Ngga sepenuhnya hilang tertelan. Tapi ada dlm wujud lain.
 
Kita istimewa. Kita adalah rahasia. Dan kita selalu bisa berucap, 'kita sempurna bukan karena kita. Segala kesalahan itu, pembelajaran itu, langkah menuju purnama, aku, kamu.
Itulah yang sempurna'. Luv ya dear, gabus. Sahabat dunia akhirat. Happy milad^^
tulisan itu dua tahun yang lalu, tapi apakah masih bisa berlaku sekarang? aku sedikit ragu.. karena kurasa aku telah mengacaukannya.

aku yang menjauh, aku yang pengecut, aku yang tak peduli T.T aku minta maaf.
aku merasa kita jauh, tapi sesuangguhnya aku yang menjauhkan diri. mengasingkan semuanya dari kebiasaan kita. T.T aku tak tau harus bagaimana. aku kangen kamu, tapi rasa-rasanya smua yang aku lakukan untuk itu salah. aku cuma menunggu, aku tak pernah menghampiri. aku tak pernah menyapamu saat kamu wara-wiri di twitter, apa aku ini masih bisa disebut sahabat? kamu selalu ada tapi rasa-rasanya telah lama sekali terakhir kalinya aku mendukungmu. yang aku ingat, semua yang aku ucapkan padamu saat kamu bercerita hanyalah celaan T.T aku seolah menuntutmu untuk berubah seperti apa yang aku ingin, aku minta maaf T.T

besok kamu kompre kan? semangat ya, jangan pernah lagi berdoa di sosial media, Alloh ada di mana-mana tapi bukan di sosial media. mereka cuma mesin, berdoa sendiri dengan hati yang bersungguh-sungguh akan lebih baik.

aku sayang kamu, aku cuma tak tau bagaimana menyampaikannya. aku minta maaf. T.T
semoga Alloh senantiasa melindungimu dan memberkahi semua hari-harimu :')

Kamis, 04 Oktober 2012

lima detik dan lima hari.

ouwfff, jangan ketawakan saya. saya tau perbedaan antara lima menit dan lima hari itu jauhnya melebihi tinggi 63 building-tower di korea sana. tapi bukan itu yang hendak saya tuliskan di sini sekarang.

tulisan ini mulai saya ketik saat para pekerja proyek milik FISIP, yang kebetulan berada di depan rumah kost saya, membakar berbagai macam limbah bangunan yang tak lagi terpakai *mungkin sebenarnya masih bisa dipakai sih, tapi tak taulah apa yang mereka rencanakan* seperti bambu, potongan-potongan kayu, papan, dan beberapa limbah proyek yang lain.

karena saking banyaknya benda yang dibakar, api yang di hasilkan lumayan besar hingga udara panasnya terasa di beranda kost. namun itu tidak lama, entah kenapa apinya tiba-tiba mengecil dan menyisakan asap tebal yang sangat mengganggu.

asap ini mengepul hingga sampai masuk ke dalam rumah dan stuck di koridor kamar anak kost. karena saya sesorean di dalam kamar jadi saya tidak tahu apa yang terjadi di luar. jadi ketika saya mulai terbatuk-batuk dan sesak nafas hingga keluar airmata, Elin, roommate saya berbicara mengenai sesuatu seperti asap dan mengganggu. saya tidak terlalu paham apa yang dia bicarakan sehingga saya bertanya apa yang terjadi. dia menjelaskan jika saat dia pulang dari kampus tadi didekat proyek sedang ada bakar-bakaran limbah proyek hingga menyebarkan asap kemana-mana.

rasanya sangat menyiksa, seolah tak bisa lagi bernafas dan megap-megap. dengan masih terbatuk-batuk saya keluar dari kamar untuk memeriksa keadaan di luar. ugh! saya tidak tahu siapa orangnya tapi ada yang mengunci rumah. mungkin untuk menghalau agar asap tidak masuk. tapi bukankah itu tindakan bodoh? asap akan tetap masuk melalui ventilasi dan justru stuck di dalam karena tak ada jalan untuk keluar. dengan sedikit menggerundel saya membuka pintu lebar-lebar. oh seperti yang saya bayangkan. di luar angin berhembus kencang. bukan kah jika seharusnya tadi pintunya di buka ada angin yang masuk dan membawa pergi asap-asap yang telah ada di dalam rumah sebelumnya?

pantas saja seluruh penghuni kost terbatuk-batuk -___-

adakah yang pernah mengalaminya? uwaaahh bersyukur sekali ya jika kita bisa bernafas dengan lega dan tanpa halangan. cuma asap saja bisa membuat kita kelabakan karena minimnya persediaan oksigen. pun juga kita harus bersyukur karena kita bisa bernafas dengan gratis. bayangkan saja susahnya mereka-mereka yang sedang sakit dan terbaring di Rumah Sakit hingga untuk bernafas pun harus di bantu alat dan bahkan membeli oksigen. astaghfirulloh, betapa kita harus selalu bersyukur tentang segala hal apapun dan sekecil apapun.

berbicara mengenai tak bias bernafas, tadi siang saya baru saja mengalami kejadian lupa bernafas paling lama dalam hidup saya. lima detik. lima detik saya lupa caranya bernafas.

anggap saja saat ini saya akan menceritakan tentang drama. drama kecil dalam hidup saya haha. :p

dulu saya pernah memposting tentang sesuatu disini. bisa dikatakan tentang jatuh cinta *eciyeeeee :D*
saya sering bertemu seseorang di kampus. yang secara kebetulan kami selalu memakai warna baju yang sama dan bahkan mempunyai jaket bola yang sama :D AC Milan.

tapi sampai sekarang saya masih saja tidak tahu namanya, belum, hihihi. entahlah, saya juga tak ada keinginan untuk mencari tahu. jika pertemuan kami serba kebetulan dan disertai dengan berbagai macam kebetulan yang lain, maka biarlah sesuatu sesederhana nama pun menjelma dengan kebetulan tanpa kami harus bersusah payah.

dan hari ini, setelah sekian lama. saya bertemu dengan dirinya lagi. dulu setelah postingan yang pertama tulisan saya yang menceritakan tentang dia, kami sebenarnay masih sering bertemu secara kebetulan. namun seperti yang sudah saya tuliskan pula, saya selalu lupa. kami hanya sekilas bertemu di tangga atau di koridor atau di parkiran atau di lobi dan cuma sekedar saling menatap tidak lebih.

hari ini entah rasanya berbeda. saya bertemu dengan dia di parkiran lagi. saya sedang di atas motor bareng sari, hendak keluar dari area kampus dan dia duduk di post satpam seperti biasa dengan teman-temannya.
saya sedang tertawa tadi karena menceritakan hal yang lucu pada sari, saat tatapan mata saya bertemu dengan matanya. ugh! dan sisa tawa saya masih ada dan kami masih saling tatap. lima detik saya lupa cara bernafas. dia tersenyum, mungkin mengira saya sedang tertawa padanya. lima detik yang terasa seperti lima hari. saya lupa berkedip, saya lupa bernafas. kami masih saling menatap hingga motor sari membelok di tikungan jalan depan Arsitek. lima detik saja. tapi itu adalah lima detik paling lama.

dlam lima detik tadi saya sempat mengamati banyak hal, bahwa dia memakai tas yang berbeda hari ini. sepatunya juga kelihatannya baru, saya baru sekali ini lihat. dia juga terlihat segar dengan potongan rambut yang berbeda, namun wajahnya masih seputih saat saya melihatnya berulang kali dalam bulan-bulan lalu.
yang terpenting, hari ini kami pun memakai baju dengan warna yang sama. heii, kebetulan yang lain?
hari ini saya memakai warna cokelat, dengan kerudung cokelat tua. dan dia memakai kaos cokelat.

hihihi saya pengen tersenyum terus tadi selama lima detik yang beku dalam pikiran saya. tapi..

seperti biasa, saat saya berkedip dan tatapan kami terputus, saya seperti tak merasakan apa-apa. aneh. tapi memang selalu begini. saat saya masih bisa menatapnya, saya bisa saja berpikir bahwa saya sedang jatuh cinta. saya tak tahu namanya, saya tak tahu identitasnya, semua tentang dia yang ada dalam pengetahuan sya hanyalah kira-kira. apa yang bisa saya harapkan dari yang kira-kira ini? :p
lalu yang lima detik paling lama tadi terasa seperti sudah lima hari yang lalu. hilang dan hambar saja. saya bahkan lupa seperti apa senyumnya. sekarang saat saya menuliskan ini, saya hampir lupa seperti apa wajahnya tadi dengan potongan rambut baru. sungguh.

jadi apakah yang seperti ini cinta? saya merasa mati rasa dan berdepar kencang seperti hendak pingsan saat menemukan matanya, tapi ketika dia tak lagi terlihat mata saya melupakan dia. bukan hendak sengaja, tapi memang terlupa.

lima detik yang terasa lamanya hingga lima hari, lalu lima detik yang telah hilang dan rasanya seperti telah terjadi selama lima hari yang telah lewat.

saya tak pernah mengharapkan kebetulan yang lain, tapi ketika kebetulan lain kembali terajadi saya akan menikmatinya dengan senang hati.

hei, tuan warna ungu. sebenarnya namamu siapa?

terima kasih atas lima detik dan lima harinya :)) saya bersyukur kita bertemu lagi hari ini hihihi

another random lines yang saya tuliskan di sini XD ah lega rasanya kalo sudah menulis :p
terima kasih sudah berkenan membaca cerita 'setengah cinta ceritanya' milik saya hihihi *itupun jika ada yang baca :p*


salam
little snaiL

Rabu, 26 September 2012

memories


My heart, my tears, again the memory of you

Drop by drop they fall onto my chest I cry and cry, and with these memories that won’t be erased

Today my empty heart is drenched again

We liked each other, didn’t we? I used to make you laugh just by smiling

We cried together, didn’t we?

You would hurt too when you saw my tears

—-Memories-Super Junior

(via haehyuks)

Selasa, 18 September 2012

Tentang Mimpi~ *ceritanya*

hey, kamu? apa mimpimu?

awalnya ini hanya pertanyaan, lalu berujung pada kenangan. saya tak sempat menanyakan mimpi orang-orang dekat yang berlalu begitu saja dari kehidupan saya. beberapa diambil pemiliknya, tapi beberapa berganti hatinya.

tapi saya tak pernah mendapatkan pertanyaan ini dari diri saya sendiri.

jika pertanyaan tersebut sekarang baru terlontar, maka apa jawaban saya?

sejujurnya saya tidak tau, saya tak bisa memilih mana yang akan saya ambil sebagai jawaban. saya punya banyak mimpi yang masih harus diseleksi. beberapa adalah mimpi kacangan seperti, hanya ingin jadi istri yang baik buat suami saya nanti. namun beberapa terkesan sangat tinggi, saya pernah bermimpi punya museum sendiri. museum apa? rahasia. rahasia? ya museum rahasia :)) silahkan tebak isinya.

beberapa mimpi saya yang standart sama seperti mimpi orang kebanyakan, namun terasa sangat kuat hingga harus tercapai. harus? siapa yang mengharuskan? adakah keharusan? tentu saja, saya sendiri yang mengharuskan, buat saya sendiri juga. atas kuasa Alloh tentunya.
jadi, apa mimpi standart itu? sederhana, saya pengen bisa berangkat haji bareng orangtua dan adik saya. kami ini keluarga kecil, rasanya akan menyenangkan jika saja saya bisa memberangkatkan seluruh anggota keluarga saya menuju tanah suci sebelum saya menikah nanti, yuk diaminin :))

lalu mimpi-mimpi yang lain adalah mimpi masa kecil saya, lebih sederhana dari yang paling sederhana namun terdengar megah. salah satunya saya pengen jadi arsitek dari kecil. sederhana, seharusnya saya bisa. tapi mimpi ini terlalu megah. kenapa? susah maaaan, tangan saya ini bukan tangan untuk menggambar. tangan saya lebih lincah untuk menulis daripada menggambar. jadi? entahlah, mimpi itu lalu terpecah menjadi pagi :)) mungkin bukan saya fokusnya, mungkin sisa mimpi itu bisa terwujud dalam hal apa saja. siapa tau nanti suami masa depan saya adalah arsitek? siapa tau suami adek saya nanti adalah arsitek? siapa tau jika nantinya saya akan punya teman dekat arsitek kan? Alloh selalu menyimpan setiap mimpi, tapi mengembalikan mimpi tersebut pada kenyataan kita dengan berbagai cara. khusnudzon adalah doa :)))

berbicara mengenai penulis, beberapa hari yang lalu saya sedikit sakit hati dengan salah satu komentar. saya dibilang menulis karena sensasi. apa artinya?

katanya orang bisa menguasai dunia dengan tulisan. masuk akal. tapi pembelaan saya hanyalah senyuman. sungguh saya tak butuh dunia jika itu hanya akan merugikan kepuassan batin saya.

apakah ada yang tau, saya tak pernah berniat menjadi penulis. tak ada niatan menjadi penulis. saya menulis sebagai hobi. pengejawantahan rasa dalam kata karena saya tak cukup kuat dalam suara.

menulis adalah hobi, menulis adalah identitas saya. bukan semata-mata saya menulis karena ada tujuan. tapi saya menulis sebagai pengekspresian. 

pernahkah ada yang mendengar wanita berkepala gengsi? ya, itu saya. saya ini wanita berkepala gengsi. saya enggan menuangkan tangisan, bahagia, kecewa dan kemarahan saya melalui suara. pun juga saya tak akan pernah bersedia mengalamatkan semua itu langsung kepada si tertuduh. karena itu saya memilih bersuara melalui kata. bukankah akan lebih bermanfaat jika keindahan setiap kata yang saya pilih selalu memiliki 'rasa'?

karena itu saya tak bisa setiap hari menulis. saya hanya menulis jika hanya ada yang tak muat saya tampung di hati. jadi jangan harapkan saya buat jadi penulis dan berkata setiap hari, saya tak akan mampu hidup dibawah tekanan seberat itu. saya melahirkan kata karena rasa, bukan kewajiban.

saya lebih suka menulis puisi, tapi saya juga tak menolak jika harus mengungkapkan rasa melalui rentetan kata yang lebih panjang seperti cerpen atau novel.

saya tak pernah menghitung jumlah tulisan saya, tapi berikut beberapa akan saya bagi rahasia rasa yang terkandung di dalamnya.

semua ini tentang pertengkaran
Ditangan seorang balita, ada perseteruan lucu antara siput dan kura-kura. Siapa yang menang saat ada lomba lari? 
Kura-kura punya rumahnya sendiri, siput pun tak kalah cemerlang tempatnya melindungi diri. 
Dari kesekian obyek mainan si balita, mereka sama-sama pemenang untuk kategori yang terpelan. 
Tapi jika mereka berdua saja? . 
Pernah tercipta kisah, kura-kura dan siput bergandengan, apa ada yang meminjamkan tangan untuk mereka? Entah. Kabar cerita mereka dulunya mesra. 
Lalu ada tsunami. Siput menggelinjang, asin laut yang lancang memeluk daratan membuatnya menangis. Pedih sekali. 
Sementara kura-kura gembira, senyumnya melebar hingga telinga. Laut ini teman barunya, ada janji banyaknya kura-kura yang secantik ia. 
Siput patah hati. Dengan sisa-sisa cangkang yang rapuh oleh asin, dibawanya kulit berlendir mengisut menjauh. Siput sengaja lupa bahwa dia kenal kura-kura. 

Kura-kura menggelinding jauh diatas pasir. Hei, ini memang rumahnya yang lain. Hari-hari yang ada siput-nya dipinjam ombak pergi, sepertinya belum akan dipulangkan. Pun juga kura-kura lupa. 
Lantas dua belah tangan kecil milik balita ini menabrakkan kenangan kura-kura dan siput. Mereka hanya menjadi dirinya. 
Balita tak tau, siput yang cangkang barunya semegah istana ini hancur lebur dalam lendir yang ia banggakan. 
Balita tak tau, kura-kura gagah berkulit keras yang cangkangnya sekuat baja bermotif ini.. Eng.. Entah, apa yang ia lakukan? Dia mengelus parut di kepala. Rupanya tsunami meninggalkan luka. 
Dan saat balita lelap. Siput serta kura-kura kembali menjadi pemenang, dalam perlombaan 'paling tak peduli' 
apa ceritanya tamat? Belum. 
Siput masih suka mencuri, dedaunan ingatan yang ia makan, pahit oleh rasa tak nyaman. 
Kura-kura yang mengantuk dalam sepoi pantai, mengeruk lebih dalam, parut-parut yang dulunya terlarang bahkan untuk ia sebut dalam bisikan. 

Semua telah beda. Kecuali.. 
Sama-sama. Kura-kura dan siput sekuat tenaga mengalihkan tanya tabu yang hendak muncul. 
Jika kutolehkan apa yang disebut kepala, apa masih kan kutemukan ia di sana? 
Dan siput kembali makan. Dan kura-kura kembali menyelam. 
Jejak lendir sebagai tanda. Jejak pepasir menggurat luka. Semua terbaca ketika semburat matahari tenggelam menjingga.  
http://www.facebook.com/notes/erika-paprika-rikku/judulnya-yang-lama/10150581033681736
ini tentang sebuah rasa mengenai saya dan seorang sahabat. tentang segala macam persaingan yang tak terucap di antara kami. kami yang tak berhati-hati, semua itu menjelma menjadi iri. paling tidak saya jadi belajar, harus berhati-hati dalam mengucapkan motivasi. kalimat sederhana seperti 'dia aja bisa, kenapa aku tidak?' memiliki sesuatu yang negatif. lebih baik berdoa saja, 'semoga aku bisa sukses seperti orang-orang sukses lain dengan jalan ku sendiri' bukankah itu terdengar lebih adem daripada memperbandingkan diri kita dengan orang lain?

yang kali ini tentang rindu yang tak pernah bisa saya ucapkan

mantra itu berbalik. aku pemiliknya.  kudendangkan dalam gema hati-hati.jika ku ceritakan tentang bejana yang berisi parfum, bersediakah kau dengar tuntas?  bejana tanah itu bejana biasa. isinya air mawar. menggelegak penuh ke tangan manusia-manusia yang mendamba. saat tersesat di gurun, bejana kehilangan dirinya. musnah segala basah yang didalamnya. air mawar sirna ke udara. orang-orang masih sudi dekat, mawar dalam aroma menghampiri hidung-hidung yang peduli. kau tau artinya? tak terlihat bukan berarti tak pernah ada.pernah ada cuma berarti memberi jejak. kau dua-duanya, pernah ada dan memberi jejak.  sejak kapan ku lupa? semua pintu tertutup.tak ada anak kunci yang perlu bertemu selotnya, bahkan tak pernah ada lubang kunci. tapi kenapa jawaban atas pertanyaan yang tak pernah ku ungkapkan itu sedemikian buruknya? melihatmu terbujur kaku dalam mimpi sementara tak kurasakan lagi bukti kehadiranmu dalam mataku jauh lebih menakutkan. apa kabar? apa kabar? apa kabar? ingin rasanya kusublimkan diriku saat ini juga. merisaukan sesuatu yang bukan urusanku bakal merendahkan angkuhku hingga dasar.tapi bukankah kau pernah menjadi urusanku? kita tak lagi bertemu dalam doa-doa baik, aku bahkan bertanya-tanya, kapan terakhir kalinya kau muncul dalam doaku? jadikenapa?kenapa?kenapa? aku tak pernah membencimu, aku hanya membiarkanmu hidup tanpa kusadari. seperti lochness, seperti yeti, seperti naga. aku tak pernah tau kau ada hingga aku bertemu kamu. jelas bukan? jadi kenapa kita tak berbalik saja saat ini? memberikan senyuman kepada satu sama lain dengan tulus. memang tak ada benci, tak ada permusuhan, tapi tak bisa dipatahkan pula bukan jika normal ini tak senormal yang pernah ada?
http://www.facebook.com/notes/erika-paprika-rikku/you-dont-know-me/10150440373441736 

apa ada yang tau rasanya rindu? semua orang pasti pernah mengalaminya kan? tapi bagaimana jika orang yang kamu rindukan adalah orang yang pernah membuatmu menangis karena sakit hati? inilah rasanya, inilah kalimatnya. :))) ah, lagi-lagi, wanita berkepala gengsi. jangan meniru keburukan saya ini ya? :D


yang ini tentang sebuah janji

Masi ingat, kau perkenalkan dirimu sbg angin. Berdesir lalu tanpa beban. Kau terpa, aku tak kurang. Kau lalu, aku tak merindu. Aku pun tak kenal.

Kau lantas hinggap, menelusup. Akulah manusia pertama, ditangan tergenggam angin. Hidup. Tak mau lari.

Apa artinya muka ini? Senang? Sebal? Sedih? Kecewa?Aku terpaut titahmu. Kau titipkan kunci emas bergagang bintang. Takjub saja aku.

Tak pernah aku ingat tanya, apa jodohnya? Bagiku titahmu mewakili segala kecambah penasaran yang tak sabar. 
Sembari menghela huruf huruf liar, kau jelaskan tembang manis. Kau bilang ada pintu sebagai pengantin kunci ini. Semakin mataku takjub. Wah, apa yang akan kulihat nanti?
Tawamu membariskan waktu, deretan nada nada yang kan kulalui untuk menerimanya.
Semua terus laju, begitu pula anginku. Ketika yang kulihat hanya diam, kujatuhkan kunci redam dialiran air.Sekiranya aku tak kan rindu.

Waktu yang tersisa dari barismu hanya tinggal denting jam. Meragu hujanku. Bagaimana jika kado pintumu tiba? Dengan apa akan kubuka?Gempa tawamu. Menelan segala pongahku kemarin. Entah.
 http://www.facebook.com/notes/erika-paprika-rikku/entah/428075881735
uhm, bagaimana saya menjelaskan ini ya? ini tentang ketakutan akan sebuah janji intinya, janji mengenai hati. layalnya orang yang diberi janji, apa yang anda rasa? cemas bukan? bagaimana caraku agar bisa bertemu penuntas janjimu? begitulah kira-kira. dan inilah kalimat yang mampu terlahir dari segala kecemasan saya mengenai janji tersebut. kalau istilahnya anak sekarang, di PHP-in lah :DD


yang ini tentang penghianatan.

kotak kaca kecil. hujan yang didalamnya selalu jadi berita. mudah terbaca. tak mengapa. kejujuran rasa biasanya dipatok tinggi oleh harga. fermentasi dari ribuan peristiwa, memadat hingga jadi kerak. ini yang dinamakan persahabatan, bukan?  benihnya dari huruf-huruf yang menari, tapi akarnya berada jauh di hati. bukankah kesalahan? tapi tak ada yang menganggapnya. jika dibalik, inilah ketulusan. lantas kotak kaca kecil, retak satu garis. hujan didalamnya mengering jadi curiga. terjun bebas dalam palung, inilah kegelapan. siapa yang mampu berdiri?  kami angkat tangan setinggi-tingginya. hal hal penting tak bisa dilihat mata. tak apa. kami bisa.   lalu dunia mulai terbalik. yang mengaku sebagai kami menunggal pada satu jari. ada kaca ajaib yang muncul. beningnya terlapisi marah yang defensif. tau, semua tau. manusia memang begitu. tak apa, sungguh. yang mengerak ini tak akan terhapus, hanya perlu sebotol kejujuran untuk membuatnya kembali berkilau. tapi yang terbalik cuma dunia, kepala tetap sama kerasnya. tuhan, bolehkah jika cuma Engkau yang (kami) percaya?  ada pintu yang baru saja tertutup di depan muka. tidak. tidak. tak ada nama penghianatan. yang tertulis cuma mahalnya harga sebuh kepercayaan. lepas sajalah. semua manusia ingin didengar. semua manusia ingin diperhatikan. manusiawi adalah satu keajaiban.  (kami) berhenti.  tapi yang retak tak mau berhenti. kotak kaca kecil mengeropos kehilangan dirinya.  yang di sini gamang. masihkah bisa jika percaya pada huruf tak bernyawa?menutup mata terasa lebih mudah daripada segalanya.
http://www.facebook.com/notes/erika-paprika-rikku/judulnya-simple/10150440289931736

apa kalian tau rasanya di khianati? di bohongi oleh orang dekat? ini rasa yang saya punya. di bohongi oleh orang yang sudah saya tasbihkan sebagai orang dekat, sahabat virtual yang menipu banyak hati. semua sudah terlanjur percaya, tapi apa yang kami bisa lakukan jika ternyata dia yang memilih menenggelamkan persahabatan dalam identitas palsu yang dia bawa? dia sakit, kami tau. kami cuma butuh pengakuan, tapi dia memilih menghilang dalam sakit hati. yang sakit hati itu harusnya kami bukan? tapi sudahlah. ini kisah lama.


yang ini tentang jatuh cinta :D


Seperti mendung, yang menggelap perlahan. Semakin penuh, hingga akhirnya hujan. Aromanya menyenangkan. Menjadi jembatan, yang memberi rasa dan menerima rasa. Abstrak. Namun diliputi cemas. Serupa cenayang amatir, kuhabiskan sudah tinta dan kertasku, memetakan apapun yang ada di benakmu.  Lalu, memang seperti mendung. Yang datang tak kira-kira.  Kapan dibutuhkan, atau kapan dihindari. Tak jelas lagi batas.  Kamu. Selalu menarik tatapku. Seolah cuma ada kamu, kugambar yang lainnya dalam bisu. Warna ini, kamu. Tapi kenapa?Masih ada jutaan 'kenapa' yang ku jajarkan, kamu lah alasan. Jadi, kenapa?  *aku hanya perlu mengoleksi lebih banyak lagi 'kenapa'. Jawaban yang muncul tanpa pertanyaan ini membuatku tersedak. Ini, seperti halnya kesalahan, tak ada yang menginginkan. What should i do?*  antara mengikuti suara kaki atau suara hati.
http://www.facebook.com/notes/erika-paprika-rikku/3-3-3-love-love-love-3-3-3/10150365477081736

kadang tak perlu kalimat manis untuk mengungkapkan cinta yang kita rasa. ini lah ras saya saat jatuh cinta :)) *duh jadi malu* :p


ini tentang kemarahan

Penjual parfum. Kaupikir kau rugi jika aroma daganganmu diendus mereka? 
Tak ada yang berkurang. Ikat udara, maka kau kaya seumur hidup. Maukah? 
Pelukis. Indahmu tak lantas bikin hartamu tandas bukan? Para penikmat yg hanya berjajar dan melepas liar mata tak hendak buatmu miskin tujuh turunan. Kedekut. 

Tak ada yg hilang. Cemerlang warna yg kau penjara pada kanvas tak kan lari, mata-mata liar itu cuma apresiasi. 

Penyair. Luka kah, saat aksara-aksara dari penamu dibaca mereka-mereka yg haus tulisan? 

Karya-karya lahir sebagai perbincangan. Kau yang jadi raja, cuma kelam darimu yang punya cahaya. Harusnya bangga. 
Semuakah?? 
Saya penjual parfum, pelukis dan penyair egois. Melihat aroma, kriya dan kalimat yang keluar dr dapur sendiri, namun disajikan dalam lapak orang, hmpf~ rasanya ngga nyaman. Apa andil mereka? Ikutkah mengolah bahan? Yang di kepala ini, dapur kotor penuh serakan moment-moment lahirnya mereka. Kau punya? 
Itu saya. Yang egois. Yang kikir dalam karya. Saling hargai saja. 
*menghabiskan jam makan siang di kantor dg buka-buka tulisan lama, beserta banyak catatan. Mereka-mereka yg pernah memakai tulisan saya untuk pribadi mereka, tanpa permisi. Susahkah sebuah credits? Supaya saya tak perlu membuatkan akte pada tiap-tiap kalimat yg keluar dalam coretan. Dalam kalimat-kalimat itu tersembunyi kisah. Tentu kau tak tau* 
http://www.facebook.com/notes/erika-paprika-rikku/whatsoeva-sigh/10150344274756736
saya marah. saya kecewa. beberapa orang mengambil kalimat atau kata saya untuk diakui sebagai miliknya pribadi. cuma kata. cuma kalimat. tapi buat saya itu rasa. apakah ada yang tau? rasanya seperti kehilangan anak *emang udah pernah? belum sih, cuma melogika aja :D* jadi, berhenti mencuri. kalau anda merasa kalimat saya sesuai dnegan keadaan anda sekarang, lebih baik bilang pada saya. bagaimanapun itu bukan hanya kata buat saya, tapi sekali lagi semua itu adalah rasa.


ini tentang rasa syukur

Butaku meraja. Terdekat tak terlihat di pelupuk mata. Berasa jadi sorot, hanya perlu yang jauh untuk jadi ahli. Ketika terkilir leher, menunduk lah satu-satunya keterampilan tanpa imbalan. 
Kalian yang disekeliling. Tak terkalimatkan dalam paragraf. Porsi besar yang tak jua muat dalam lembaran gambar. Bagaimana bisa tembus pandang? 
Betapa aku adalah pendosa. Tirai, atap dan pepagar yg ikhlas, kubiasakan tanpa rasa. Hendak jadi apa jika aku sendiri? 
Jangkau tangan lah yang bisa kujangkarkan, cukup kalian. Rengkuh ini artinya aku bersyukur. Dlm pedih tawa dan perjuangan, dua langkahku punya benteng kalian. 
Mari kita tempatkan, gemintang yang diatas itu tercerai berai. Tumpukan asa kita juara para rasi. Erat. Kuat. Terikat. Jajaran sempurna dalam gelap. 
Hey, d'Jilbaber. Esok, dtebing tertinggi kita akan menikahi matahari. Hari ini biarlah lepuh kaki-kaki, biarkan kucuran peluh menggelincirkan. Sukses itu mutlak punya kita. Beserta doa, usaha dan semangat yang jadi energi. Hwaiting! 
http://www.facebook.com/notes/erika-paprika-rikku/my-dear/10150232840476736
rasa syukur karena hidup saya dikelilingi orang-orang baik seperti mereka. :)) sahabat-sahabat itu adalah harta saya berharga milik saya. 


yang ini tentang rasa was-was

Dear langit. 
Siput kecil ini sedang gamang. Didepan terbentang medan asing. Dari mana hendak mulai berjalan? 
Detik seakan kurang air. Lajunya seret, mengumpulkan niat jadi bongkahan. Bagaimana hendak mulai kugambarkan? 
Siput ini terlempar, belajar sendirian di lautan rimba. Mengandalkan pengalaman. Intuisi dan adaptasi. Entah banyak garam. Entah panas terik. Atau justru lembab berlumut. 
Siput ini cuma butuh hari ini untuk diam. Mengumpulkan bekal dan penenangan. Besok menghitung laju, start segera mulai. 
Doanya ya cemans cemans. Love "SnaiL- Kece"
http://www.facebook.com/notes/erika-paprika-rikku/snail/10150231107341736
ini saya bikin ketika saya hendak KKN, sehari sebelum pemberangkatan KKN tiba-tiba saya di serang rasa was-was. seperti apa nanti daerah tempat KKN saya? akankah KKN saya nantinya menyenangkan? sukseskah saya dengan semua program KKN saya?


ini tentang kata


Debu jadi karat mata pena, tujuh lapisnya menumpulkan lubang tinta.
Dulu warnanya bening, lalu biru kelabu serta pekat turut gelar kelir.
Lama telah biasa..
Tombol berlampu megahkan singgasana. Ada sisa gelap melarikan senja di kereta bulan. Dulu mereka bebintang, sekarang memang cuma cahaya.
Kertas-kertas ide membusuk, tak terpanggil siapa-siapa. Tak ada rumah. Dimana hendak kulumpuhkan aksara?
Kupinjam selembar langit, aku diteriaki maling oleh jalanan pagi. Kuterbangkan saja jalinannya, biar jadi layang-layang. Dan mereka pasti terpukau. Pagi, siang, malam.
Lantas, ada gemerisik lusuh terabai, ia ditemukan oleh putus asa. Kupenjara segenap noda. Mata penaku akhirnya punya hari kemenangan.
Sayangnya, cuma lontar kering sih. Aku bingung. 
Ku bangun saja stasiun sepi. Saat pagi mengendarai kereta bulan yang terbirit, harap sudi ia singgah. (agar suaraku yang lelap dalam lontar, bisa dia baca pelan pelan)
http://www.facebook.com/notes/erika-paprika-rikku/sayangnya-cuma-lontar-kering/461880636735
 saya pernah kehilangan habis-habisan. semua koleksi kata yang pernah saya punya ludes karena kesalahan kecil. marah pada diri sendiri. lalu ada komentar, kenapa nggak bikin lagi aja? toh cuma kata. duh pengen nangis rasanya. bagaimana saya harus menjelaskan pada beliau, kata yang saya punya itu ada peristiwa di dalamnya, ada rasa di tiap hurufnya.


ini tentang kehilangan orang terkasih


Saat itu adalah hari ini. Matahari kelabu dimana-mana. Dunia mengasingkanku dalam hampa. Cahaya semu bias terakhir dr tatapmu di mata ini. Bukan perpisahan kupikir.
Terpekur dalam bus, perjalanan mengumpulkan serpih sisa runtuhnya aku dalam langkah menujumu. Berkali ku hela laju, cepat cepat kumohon. Bus itu cuma mesin, aku lari lebih dulu. Menuju kamu dalam apapun yg terbayang.
Udara tiba-tiba memadat, menjegal waktu yg kuderaskan. Rengkuhan itu darimu, lekat kuat memeluk tangisan yg entah keberapa kali dlm hari itu.
Toh, akhirnya aku tak mampu. Cuma kutemui sekelebat peti. Dengan kamu didalamnya. Pergi. Tak kulihat lagi.Aku membatu. Dengan segenap air yg tak mau henti. Kuabadikan kamu yg masih hilir mudik cantik. Bukan kamu yg hari itu. Dan kurasa ada disana. Bersama aku dan kamu, berdiri melihat peti dan jasadmu pergi.
(kita semua sama-sama menunggu jemputan. Kau yg keretamu telah tiba lebih dulu, hendaklah turut kemana ia laju. Kau tetap ada. Inspirasi di tiap mata pena. RIP nopik)
http://www.facebook.com/notes/erika-paprika-rikku/20-mei-2009/10150181729436736

sedih rasanya. saya tidak ada disana ketika dia pergi :'(


ini tentang perpisahan


Karenamu aku ini gunung tinggi. Terdiam di tanah, tak usik jika tak diusik. Yang kutatap kamu, jauh di ujung perjalanan. Antara kita cuma rimba, jalan, tanah lapang, pepohonan, rumah dan pantai putih landai.
Hujan do'a yang larutkan harap, biarlah kujadikan sungai menuju kakimu. Ikat tawarnya dengan buih asin. Teluk tak kan menyesatkannya hingga jauh darimu. Laut. Dan tetap jadi tujuan. 
Aku disini yang angkuh. Senantiasa menghitung tepian langit lebar. Kubentangkan hingga horizon matahari. Tetap jua tak ada jumpa yang kembali.
Bosan, seringkali tiada menggoda. Bergeming dalam tatap tetapku hingga kantuk. 
Ucapmu terpagut senja menuju buta. Tiada lagi kita. Tiada lagi sisa.
:: angin menjatuhkanku dalam lelap, terpaling mataku. Ternyata kita beradu punggung. Bagaimana bisa kulihat? Rapuh semua pencarian sosokmu dikejauhan, jika ternyata kita sdekat ini. Jangan mencari. Aku pun tiada lagi mencari. Kita telah bertemu sebenarnya. Dalam do'a-do'a baik. ::
http://www.facebook.com/notes/erika-paprika-rikku/gunung-tinggi-dan-laut-luas/430334701735
ini rasa yang saya miliki ketika saya harus berpisah dnegan seseorang yang bukan hak milik saya. sedikit malu menceritakannya tapi ya kalau orang bilang ini rasa patah hati. eh, tau ngga? di dalam blog  saya, postingan puisi ini mencapai hit tertinggi lhoo, sering banget di buka orang -___- saya tidak tau apa istimewanya, toh ini hanya rasa saya pribadi.

ini tentang seorang teman


Aku buta, itu katamu.Yang kulihat kau sempurna.Dan aku selalu lupa untuk mengingat, bahwa kau memang buta.
Aku benar-benar buta, kau mulai tak sabar.Tapi, siapa yang percaya? Kedua tanganku tebarkan jejak yang kian melebar, dan kau hafal semua. Apa yang kau sebut buta?
Aku masih buta, terus kau dengungkan pengakuan.Untuk kali ini saja tuhan, kuharap telingaku hilang fungsi. Kau hanya sempurna, dan kaurasakan itu sbg hukuman.Ah, kukira cuma matamu saja. Buta itu telah menular ke hati.
Ku tatap sengaja, dua manik jernih didepanku. Memang sedikit mengabut. Tapi itu salahmu. Itu cuma airmata yang terlampau tua. Buang, dan lihat dibaliknya. 
Baiklah, mungkin benar menurutmu kau buta.Tapi kau tau, masih saja kutemukan diriku tersesat didalamnya ketika mataku yang menyapa.Salah?
Sampai kapanpun hidup itu memang nggak pernah bisa sempurna, kitalah yang menyempurnakan hidup. Kau istimewa, sayang. Sempurna.
http://www.facebook.com/notes/erika-paprika-rikku/sempurna/10150099483046736
seorang teman mengeluh karena dia tidak secantik gadis lain sehingga dia ditinggalkan oleh orang yang dia cintai. ini rasa saya  tentang dia. tentang kegalauan hatinya.

huaaaaah, rasanya sudah panjang sekali yang saya tuliskan. rencananya cuma memberi contoh dari beberapa rasa yang saya bekukan dalam kalimat. eh tapi jatohnya justru kebanyakan gini.

apa konklusi dari tulisan ini? humm.. seperti biasa saya selalu random, saya tak pernah punya konklusi.
saya beri cuplikan kalimat yang pernah saya punya aja deh sebagai konklusinya. :D haha motif banget yak? :p


mereka bilang namamu purnama.. tapi yang kulihat kau hanya cahaya.  kubaca dalam buku, kau ini dunia..  namun yang ku tahu, kau dan aku sama.  pernah kau jadi jingga senjaku, semakin kemari trnyata kau ini pagi. -aku tau kini-
http://www.facebook.com/notes/erika-paprika-rikku/kau-siapa/433110026735


jadi siapa dia? Mimpi. siapa itu mimpi? dirimu.
maka jangan takut bermimpi. mimpi adalah hak para pemimpi, bukan hanya milik mereka yang merasa berbakat :))

jadi, hey kamu, apa mimpimu?






Senin, 03 September 2012

[cerpen] produk gagal kayaknya nih -___-


Aku menghela nafas sekali lagi. Mencoba menyabarkan hatiku yang di dalam. Debur ini tak mau hilang, Tuhan. Bagaimana jika sekalian saja jantung ini tak usah berdetak lagi? Mungkin itu akan terasa ribuan kali lebih baik.
Hari ini adalah harinya. Batas akhir dari penantian dan harapan yang tak bisa ku ucapkan. Mungkin malah sudah terlambat. Tapi kenapa aku tak menyerah?
Kembali ku tengok halaman depan rumahku dari balik kaca. Tak ada. Tak ada Pak Pos yang akan kemari hari ini. Harusnya sudah berminggu-minggu lalu ketika mereka mengedarkan semua undangannya termasuk ke Rena. Tapi aku masih merasa spesial, mungkin aku yang belakangan. Atau mungkin dia sendiri yang akan datang.
Tapi, hei, tentu saja tak ada. Memang harusnya tak ada undangan untukku kan?
Karena seharusnya hari ini aku yang ada di sampingnya. Menjadi mempelai wanitanya. Di hari pernikahannya. Pernikahan Egi.
Aku mendesah sedih. Tapi kenapa hari ini aku masih di sini? Mendekam di rumah dan patah hati.
***
5 tahun yang lalu..
“Egiiiii yang bener dong masangin pita-nya!!” Elena berteriak pada Egi yang sedang nyengir, pita yang seharusnya dipake untuk menghias undangan justru dia pake buat mengikat jempol kaki Elena dengan kaki meja.
“Aku bosaaaaaaaan~!!” setelah puas tertawa, Egi membanting punggungnya pada sandaran sofa sambil melenguh keras.
“Sabar ya Gi, ntar kalo udah selesai bantuin bakalan mbak traktir kalian makan. Terserah apapun yang kalian mau.” Bujuk mbak Vita, kakak Rena yang akan menikah. Keningnya sendiri berlapis peluh, karena seharian mereka sibuk masang pita di semua undangan.
Ugh, gara-gara Wedding Organizernya mogok nih. Mereka lepas tangan gitu aja. Jadinya sekarang Elena, Egi dan Rena yang disuruh bantuin, kan?
“Lagian mbak Vita noraknya kebangetan deh, apaan undangan pake pita. Ini lagi, kenapa sih kalo mau ngehadirin nikahan orang diwajibin pake kebaya? Its so last year bangeeettt, Ih~” Rena keluar dari salah satu kamar terdekat, sembari merapikan kebayanya dan mencibir kakaknya. Egi kembali tertawa, Rena aneh banget pake kebaya. Mana ada pake kebaya tapi jalannya tetep gagah kayak cowok?
“Rena, kamu tiap hari aja pake giniannya, yakin nih kita semua bakalan awet muda kebanyakan ketawa hahaha”
Elena melempar asbak terdekat ke arah Egi, “Jangan pernah bercanda dengan penampilan seorang wanita, kamu nggak akan pernah tau apakah kamu sedang membunuh kepercayaan dirinya atau mencuri separuh hatinya” ujar Elena serius, Egi mengaduh sambil mengelus keningnya yang terasa nyeri gara-gara lemparan asbak dari Elena.
“Ih serius banget sih nyonya satu ini..”gerutu Egi, namun dia melanjutkan dengan nada serius ke arah Rena “Tenang, Na. Nantinya kalo aku nikah kamu bebas pake baju apa aja, mo pake kostum bola juga terserahhhhh..” mbak Vita dan Elena nyengir mendengar celoteh Egi.
“Ide bagus, Gi. Aku pake bikini aja ya, muahahaha..” sambar Rena.
Egi tersedak, “Edan, sekalian aja nggak pake baju, Na..” ujarnya sembari memutarkan mata mendengar ide sinting Rena.
“Hahaha, kalo itu mah ntar pengantin prianya yang seneng. Eh, tapi undangannya ntar jangan pake pita lho Gi, ilfil jadinya sama pita nih~” bahkan Elena ikutan menggerutu gara-gara pita, Mbak Vita meneguk ludah  serba salah.
“Dan.. daaaan undangan buat Rena harus ada berliannya minimal satu! Wajib! Apaan undangan isinya kertas doang, ngabisin stok pohon di dunia aja. Kalo misalkan ada berliannya kan lumayan bisa disimpen hahaha” Rena yang duduk menelusup di sela Elena dan Egi tertawa keras. Yang lain cuma bisa menggelengkan kepala, otaknya Rena nih emang nggak pernah sehat kayaknya.
“Iyaaaa, ntar undangannya dikasih berlian deh khusus buat Rena~” sahut Egi, tawanya masih terurai.
“Buat aku jugaaaa dong, Gi~”Elena merengek sembari menarik ujung lengan kaos Egi.
“Kamu nggak perlu pake undangan dong, El sayaaaaang~ kan kamu yang bakal jadi mempelai wanitanya” Egi mengedipkan mata dengan genit.
Rena, Elena dan Egi memang sahabatan dari lahir, tapi belakangan Elena dan Egi menjalin hubungan khusus. Rena tidak mempermasalahkan, malah dia semenjak SMP berkoar-koar memproklamirkan bahwa dia nggak akan menikah, alias melajang seumur hidup.
Elena tersipu, mukanya memerah dengan cepat. Rena memeragakan orang muntah dan mbak Vita berteriak-teriak geli karena interaksi lovebird tersebut.
***
Tanganku tanpa sadar menghapus air yang meleleh dari sudut mata. Masa-masa bertiga itu entah hilang kemana.
Lima tahun memang bukan waktu yang singkat, tapi semua terasa sangat cepat bagi kami.
Ku ambil sehelai kertas dari bawah bantal yang sudah kusut karena berulang ulang kubaca sekaligus tertimpa airmata. Surat dari Egi. Surat terakhir Egi sebelum dia menikah. Surat pertama dan terakhir Egi setelah kami putus dan dia menemukan gadis lain.


Buatmu, yang kucintai lebih dari apapun, inilah yang terakhir dari kebersamaan kita.
Tak akan ada yang bisa kita ubah, Len. Meskipun kita menangis, meski berulang kali kita menengok ke belakang. Akulah yang akan selalu berkata tidak. Akulah yang memutuskan perpisahan kita.
Aku yang selalu terlihat kuat. Aku yang berusaha untuk kuat. Aku yang kau lihat terlalu kuat untuk lumpuh.
Inilah yang sebenarnya. Akulah yang lemah dari hubungan ini, bukan cinta kita. Aku pengecut yang tak punya kemampuan untuk melindungimu selalu.
Jangan pernah mencintai seseorang sepertiku.
Jangan merindukan seseorang sepertiku, lagi.
Temukan yang lain, dia yang tak bisa melewati sehari tanpamu, dia yang mencintaimu hanya melihat padamu dan hanya membutuhkanmu.
Ini menyakitkan, El. Melihat kau yang selalu berusaha untuk hubungan kita, ini menyakitkan.
Aku hanyalah pengecut.
Bahkan jika sekarang kita menyesali perpisahan pun, aku tak bisa berbuat apa-apa selain mengucapkan selamat tinggal. Inikah pria yang selama ini kau cintai, El?
Jangan lagi menangis, El. Semakin kita menghitung hari-hari yang telah lewat, hanya sakit yang ada. Mari kita berbesar hari untuk melupakan, jangan pernah merindukan cinta bodoh kita yang sudah terlewat. Kita tak punya tempat untuk kembali.
Temukan seseorang yang hanya melihat kamu, yang hanya membutuhkanmu. Dia yang tak bisa melewatkan seluruh harinya tanpa ada kamu di dekatnya.
Kamu harus bahagia, El. Kita harus bahagia. Let’s never meet again…


 Kembali aku berurai airmata. Inikah perpisahan, Gi? Atau sebuah pengusiran? Apakah ini kesalahan? Aku yang selalu saja berdoa agar aku tak pernah melihat yang lain selain kamu. Aku yang hanya bisa mencintai kamu.
Terdengar kembali suara Rena di telingaku. Dua tahun lalu saat aku dan Egi belum benar-benar putus. Saat kami bertiga masih rukun.
Aku dan Rena janjian untuk bertemu di salah satu festival Kembang Api tahun baru di Jepang. Perusahaan menugaskanku untuk mengurus sesuatu di sana sedangkan Rena memang menetap di Jepang setelah kami lulus kuliah.
“Apa yang kau minta?” Rena bertanya dengan penuh rasa penasaran setelah melihatku membuka mata. Kami baru saja mengucapkan permintaan tahun baru ketika itu di 20 detik pertama setelah pergantian tahun.
“Kenapa kau ingin tahu?” aku menggoda Rena dengan tidak menjawab pertanyaannya langsung, sebagian dari hatiku memang tak ingin menjawabnya.
“Uh, oh. Ayolaaah~” rena merengek lagi.
Aku tersenyum, “Aku meminta agar kita selalu tetap menjadi sahabat, aku meminta agar aku hanya akan mencintai Egi, aku meminta agar Egi tak pernah melirik cewek lain selain aku, puas?” sahutku sambil mencubit hidungnya. Rena terkekeh. 
Tapi saat tawanya berhenti, tatapannya lurus ke arahku dan dia bicara dengan raut serius. “Apa kau yakin tak salah mengucapkan permintaan?”
“Maksud kamu?” sebelah alisku naik mendengar ucapan Rena barusan.
“Kenapa kau meminta hanya mencintai Egi? Kenapa kau meminta supaya Egi tak melihat cewek lain?”
Aku terdiam. Sejujurnya aku memang tak tahu jawabannya. Aku hanya menunggu Rena mengungkapkan apa yang dia pikirkan karena dia selalu punya sisi berpikir yang berbeda dari orang kebanyakan.
“Setia itu bukan melihat hanya pada yang satu dan membutakan diri pada yang lain, setia itu yang terlihat hanya yang satu meski selalu ada yang lain di sekitarmu.” Pelan Rena berkata sambil memalingkan wajahnya dari mataku.
Saat itu aku tak memahami sepatah katapun dari apa yang diucapkan rena, aku hanya menganggap dia berpuisi atau semacamnya, tipikal seorang Rena.
Tapi hari ini aku tau apa yang dia maksud. Ini adalah kesalahan. Aku termakan permintaanku sendiri. Aku tak pernah bisa lepas dari Egi. Aku tak bisa melihat yang lain selain Egi setelah perpisahan kami. Aku selalu merasa menjadi orang yang paling menderita.  Patah hati dan kecewa telah membuat hidupku suram, siapa yang salah? Aku. Aku yang memilih sakit hatiku sendiri. Aku yang memelihara rasa kecewaku sendiri. Aku tak pernah benar-benar berusaha untuk pergi.
Kubaca kembali apa yang Egi tuliskan. Semakin aku menelusuri tiap katanya, semakin aku jatuh.
“Jangan pernah mencintai seseorang sepertiku.
Jangan merindukan seseorang sepertiku, lagi.”
Egi benar. Buat apa? Jika Egi sendiri merasa dirinya tak cukup kuat untuk cinta kami, apa lagi yang harus aku pertahankan? Cinta macam apa yang selama ini aku perjuangkan mati-matian? Seseorang yang bahkan percaya dirinya tak cukup baik buatku, apa lagi yang bisa aku dapatkan dari dirinya? Apakah aku bersedia hidupku punya pemimpin yang seperti itu?
“Temukan yang lain, dia yang tak bisa melewati sehari tanpamu, dia yang mencintaimu hanya melihat padamu dan hanya membutuhkanmu.”
Kenapa aku tak pernah mencoba? Dari mana aku tahu bahwa aku tak bisa hidup tanpa Egi jika mencoba saja aku takut?
Seluruh badanku gemetar. Aku menggigil karena kebodohanku. Apa yang kudapat dari dunia selama ini? Egi hanya satu orang, tapi kenapa aku merasa seperti seolah seluruh dunia pergi dariku? Egi yang cuma satu buat dunia, kenapa aku merasa justru dia seluruh duniaku?
Dan apa yang kudapat sekarang? Nothing. Aku kehilangan cinta kami. Dan yang terburuk, aku kehilangan persahabatan kami. Saling diam dan mengacuhkan, pura-pura tak mengenal dan mengasingkan satu sama lain. Inikah yang kuharapkan? Inikah yang kumau?
Rasa malu memenuhi kepalaku. Ternyata aku yang menjatuhkan diriku sendiri, aku yang merendahkan diriku sendiri. Aku yang menyakiti diriku sendiri.
Kukepalkan tanganku, kupukulkan sekali ke arah kaca rias di kamarku. Cuma retak. Tapi ini untuk patah hatiku.
Kupukulkan sekali lagi, sedikit lebih keras. Ini untuk segala waktu yang kusia-siakan dalam penantian dan harapan.
Kupukulkan sekali lagi, semakin keras. Ini untuk kebodohanku. Untuk tindakanku yang tak lebih dari seorang pengemis.
Lagi, ku hantamkan kepalan tanganku ke arah kaca yang sudah remuk dan tinggal beberapa kepingan yang masih menempel, sisanya berserakan di antara peralatan make up yang terjajar rapi. Semuanya terkotori oleh darah. Tak kurasakan sakitnya.
Kupukulkan sekali lagi. Ini yang paling keras hingga punggung tanganku mati rasa. Aku marah. Marah pada diriku sendiri. Rasanya sampai sakit memikirkan betapa bodohnya aku hari-hari kemarin. Aku masih saja berdarah-darah di sini sementara Egi sudah pergi kemana-mana dan menemukan tempat impiannya. Apa yang kudapat dari mengasihi diri sendiri?
Aku kembali menangis. Keras. Aku tak peduli jika seluruh orang rumah tahu, toh mereka sudah tahu jika aku patah hati. Mereka juga tak akan peduli. Tak ada yang peduli.
Sudut gelap ini terasa amat nyaman. Dengan tangan berdenyut-denyut menahan sakit sekaligus nyeri di hati aku memeluk lututku sendiri dalam diam. Aku menangis tapi bahkan untuk mengeluarkan suaranya pun aku terlalu malu, aku sudah terlalu banyak menangis.
Sesuatu yang bergetar membuatku hampir melonjak kaget. Suara sekecil apapun akan terasa sangat keras jika hatimu sedang sensitif bukan?
RENA calling..
Aku masih mengantongi ponselku ternyata, dan dia masih tetap berfungsi tak peduli berapa kalipun ku buang benda ini karena tak pernah ada nama Egi lagi yang terpampang di layarnya.
Dengan tangan kiriku yang normal ku sentuh layarnya lalu ku geser tanda tombol panggilan,
“............” aku mengangkat telepon dari Rena tapi aku tak hendak berbicara sepatah katapun. Aku yakin aku tau dimana dia sedang berada saat ini.
“El.. ” sejenak terdengar keraguannya saat memanggilku.
“Mmmm~” aku menyahutinya singkat, sekedar berbasa-basi. Bagaimanapun juga aku sudah tak punya seseorang yang peduli. Jika aku juga mengusir dia yang ada mendekatiku, itu akan terasa ribuan kali lebih menyakitkan untukku sendiri.
“Kamu pasti tak akan percaya apa yang mau aku ceritakan ini. Pestanya ngebosenin dan makanannya, ugh its horrible. These food tasted like shit.” Aku sedikit terkekeh mendengar umpatan Rena.
“Have you ever taste your own shit?” kalimat itu terlontar begitu saja, seolah otomatis.
“unfortunately, hell yes i was.” Rena kembali mengumpat sesuka hatinya, bibirku menulas senyum meski sisa airmataku belum kering. “have i told you the whole story about this before? Here we go.. jadi di saat aku umur 5 bulan..”
Air mataku kembali deras. Aku hafal dengan jelas kata perkata dari cerita Rena itu. Ini bukan kali pertama aku mendengar darinya. Tapi bukan itu yang membuatku menangis.
Dulu kami, aku dan Egi, sering meledek Rena mengenai cerita ini. Tapi toh Rena juga masalah untuk menceritakan berulang-ulang selama kami masih bersedia mendengarkan. Tentu saja aku dan Egi selalu bersedia mendengarkan.
Tapi bukan ini yang membuatku kembali menangis. Aku masih saja tertinggal di belakang. Kalimat yang aku ucapkan secara otomatis tadi adalah kalimatnya Egi, dia yang selalu mengomentari negatif terhadap cerita Rena. Kenapa aku amsih tak bisa lepas dari Egi?
“..pantai. Gimana, El?” sayup-sayup aku mendengar Rena bertanya. Dia masih di seberang ternyata.
“Eh, pantai?”
“Iyaaa, pantai..sssst, di balik kebaya ini aku pake bikini lhoo, haha. Abisan si Egi katanya dulu aku boleh pake apa aja kalo dia nikah, eh ujung-ujungnya disuruh kebayaan juga. Wuuu~ ”aku mendengar Rena menggerutu.
Anehnya walaupun aku masih menangis, tapi rasanya tak ada lagi nyeri yang menusuk-nusuk sekarang. Meski nama Egi berulang kali disebut, tapi ternyata tak sesakit dulu.
“El..”tiba-tiba saja nada suara Rena terdengar sangat serius.
“Ya?”
“Kamu ngga akan pernah sendirian.” Ujarnya sangat pelan. Aku diam tak menanggapi.
Sepi terdengar menyela pembicaraan kami. Lalu Ren akembali melanjutkan dengan nada biasanya yang ceria.
“Jemput kamu 15 menit lagi ya? Dandan yang cantik dan pake bikini paling keren.” Aku hanya tertawa menanggapinya.
“Dan bersihkan apapun yang berdarah di sana. Kau tau... aku bisa pingsan mendadak saat melihat darah.” Dia menambahkan dengan sangat pelan, hampir serupa bisikan.
Aku tercekat. Dia tau. Dia memang selalu tau. Tapi dia tidak menyalahkan tindakan bodohku.kembali airmataku meleleh, tapi kali ini karena terharu. Kuputuskan hubungan teleponku dengan Rena. Ternyata menyenangkan sekali jika kita mampu dipahami tanpa harus berkata apa-apa.
                                                            fin


uwaaa apaan nih? entahlah, saya hanya menuliskan sesuatu yang muncul di kepala saya hehe. endingnya jelek bgt ya? emang sih. saya kehilangan plot cerita saat hendak sampai di akhir bagian hiks..

Kamis, 23 Agustus 2012

[CERPEN] Only Tears


Alfi memandangi kembali kotak kecil di genggamannya dengan pikiran berkecamuk. Ada yang masih tak bisa ia terima. Kembali ditimangnya kotak beludru berisi cincin tersebut dengan gamang, sementara pikirannya kembali mengulang peristiwa yang terjadi satu jam yang lalu.

“Jadi, apa jawabanmu Ve?”

Sepi sejenak.

“Aku sudah pernah bilang padamu, berulang kali malah. Aku tak akan menikah sebelum usiaku 27 tahun, Al”
Alfi mengerutkan kening. Betapa susahnya mengubah pendirian gadis di depannya ini.

“Beri aku alasan untuk diam dan menerima apa yang kamu maksud, Ve” lirih Alfi menuntut lemah.

“Apa lagi, Al? Aku membuka semuanya di depanmu bertahun-tahun yang lalu” Ve tersenyum, sama-sama pahit lalu melanjutkan.”Ini tentang prinsip Al, aku dan prinsipku. Aku dan baktiku kepada mereka yang telah menjadikanku aku yang sekarang.”

Alfi membuang nafasnya dengan frustasi.

“Jadi kau menolakku... lagi?” desahnya, terdengar sangat putus asa.”Katakan padaku, kau mencintai seseorang bukan?” terdengar celetukan yang pedas dari kalimat Alfi yang terakhir.

“Kapan kau akan paham?” Ve sekarang menghadapkan wajah sepenuh nya pada Alfi yang berdiri di belakangnya. 

“Paham mengenai apa? Aku memahamimu, kau yang tak bisa memahami diriku , Ve” tandas Alfi, nadanya kian ketus.

Ve menundukkan kepalanya, sama-sama emosi tak akan membuat semuanya beres bukan?
“Kau benar, aku memang mencintai seseorang..”

“Sudah kuduga, dengan segala macam prinsip sebagai alasan tersebut... kau menyimpan sesuatu dariku” Alfi memotong ucapan Ve dengan kasar lalu mencela tajam.

Ve tak menghiraukan nada bicara Alfi yang membuatnya ingin menangis.

“Aku mencintaimu, aku cuma mencintai kamu. Satu-satunya. Semenjak kita pertama kali bertemu di SMP 10 tahun yang lalu. Kau selalu tau itu.”

Alfi tercekat mendengar jawaban Ve, semua itu sama seperti apa yang ia rasa. separuh hatinya ingin merengkuh gadis berponi panjang tersebut kedalam pelukan dan membawanya pergi. Pergi dari segala macam kesulitan yang menghalangi mereka. 

“Tapi kenapa, Ve?”Alfi masih bertahan dengan keterpurukannya dan menekan Ve makin tajam.
Kali ini sorot mata Ve terlihat tegas.

“Untuk kesekian kalinya, Alfian Pradana. Aku mencintai kamu, selalu. Tapi aku belum bisa menerima apa yang kamu tawarkan untuk saat ini. Aku akan menikah, nanti saat usiaku menginjak 27 dan itu sudah menjadi prinsip yang ku junjung”

Alfi sedikit bergetar, Ve tak pernah menyebut nama lengkapnya kecuali saat dia benar-benar serius.
“Doest it make a sense, ve? Just tell me the truth, please~”Alfi masih tak menyerah.

“I was, Al. And yes, it makes sense at this case. I thought i make it crystal clear to you.”

Alfi menghembuskan nafas panjang. 

“Fine. I got it” Alfi menutup kotak beludru di tangannya dengan hampa. Ada kekecewaan yang besar menggelayut di matanya. Perlahan dia mulai beranjak dari tempat itu. Meninggalkan Ve yang memandanginya dengan mata basah.

“Pada akhirnya selalu kau yang meninggalkanku Al, aku memberimu pilihan, tapi kau memilih meninggalkanku dan hubungan kita..” pelan Ve berkata.

Alfi berjengit mendengar ucapan Ve, tapi dia tidak membalikan punggungnya. Baginya lebih mudah untuknya melakukan semua ini saat dia tak melihat wajah Ve secara langsung.

“Kau memberiku garis merah di tepi jurang Ve, di mana aku cuma bisa mundur atau terjun..” Alfi memejamkan matanya sejenak sebelum melanjutkan. Ada yang terasa perih di dadanya. “Aku melepasmu, Ve.. aku membiarkanmu pergi.” Lalu dia melangkah tanpa menoleh lagi.

Ve terdiam, matanya masih basah. “Yang pergi itu kamu, Al..”bisiknya, tapi Alfi tak pernah mendengarnya.

Kembali dada Alfi terasa perih setiap kali dia mengulang kejadian tadi di kepalnya.
“Kau yang telah memilih, Ve. I can do nothing but give up.” Dia menghela nafas panjang. “Aku patah hati lagi, karena wanita dan cerita yang sama”

***

Ve melipat bajunya dan memasukkannya ke dalam koper dengan lesu. Harusnya tak begini. Bahkan dia belum sempat berpamitan dan mengatakan maksudnya ketika Alfi pergi meninggalkannya kemarin.

Kenapa waktu bisa menjadi belati? Menusuknya dalam di dua tempat, antara prinsip dan keinginan. Dia tak bisa memilih mana yang lebih penting. Namun, keserakahannya justru membuat Ve kehilangan semuanya, lalu sendirian.  

Ve membereskan sisa packingnya degan bergegas, 3 jam lagi pesawatnya akan lepas landas. Diliriknya handphone di samping kasurnya, tak ada notifikasi apapun. Dari siapapun. Walau yang ia tunggu sebenarnya cuma nama Alfi muncul disana. Tapi nothing. Semua harapannya mengempis cepat seperti balon yang kehilangan gas.

“Ve, kita harus cepat. Butuh waktu lama menuju bandara” tiba-tiba mama melongokkan kepalanya ke kamar Ve, membuyarkan segala macam haru dan sendu yang menggelayuti kepala Ve sebelumnya.

Ve segera memberesi semuanya, baju-baju miliknya sekaligus perasaannya untuk Alfi.

***

Alfi berlari kencang menyusuri terminal pemberangkatan. Dadanya sakit karena tak cukup oksigen akibat berlari namun dia tak peduli.

Ve akan ke amerika, Al. Dia dimutasi kesana karena dapat promosi dari perusahaan. Total kontraknya adalah 3  tahun full gaji, Al. Apa kau tak akan menyesal jika tak menemuinya sekarang?

Suara seseorang masih bergaung di telinganya. Memompanya untuk tetap berlari walau kaki dan dadanya berlomba untuk protes. Sakitnya di semua tempat di tubuhnya tapi yang terasa hanya hatinya nyeri. Dia harus bertemu Ve.

Alfi berhenti di tengah-rengah hall dan memeriksa sekeliling, matanya mencari cari keberadaan Ve.
Ketemu!

Ve dengan koper dan mamanya. Syal  berwarna biru langit hadiah dari Alfi saat mereka kelas 2 SMP tersemat di lehernya. Hati Alfi terasa mengembang lebih besar. 

“VEEEE..!!”

Semua orang menoleh mendengar teriakan Alfi, tapi matanya cuma tertuju pada gadis di depannya yang menoleh karena merasa namanya dipanggil.

“Aku cinta kamu Ve, aku cinta kamu.” Alfi melangkah kian mendekat, Ve terpaku dengan berbagai macam rasa terlukis di matanya.

10 langkah..

Alfi mengepalkan tangannya yang terayun teratur di samping kiri dan kanan tubuhnya.
7 langkah..

Dia berusaha membuat ketakutannya hilang, dia menekan detak jantungnya yang berdentum-dentum dengan keras.

5 langkah..

Apakah tindakan yang akan ia lakukan ini sudah tepat? Dia tak bisa memperkirakan bagaimana reaksi Ve nanti.

3 langkah..

Alfi menahan nafasnya..

1 langkah

Yang Alfi lihat adalah sorot keterkejutan Ve saat dia menarik tangan Ve secara tiba-tiba dan membawanya lari menjauhi tempat tersebut.

Semuanya terjadi dengan cepat. Bahkan tak terdengar suara apapun dari mama Ve saat melihat anak putrinya dibawa lari oleh Alfi meninggalkan area bandara

***

Ve dan Alfi.

Cinta mereka dimulai semenjak bangku SMP. Kini usia mereka memasuki ukuran dewasa. Ada cinta yang indah di dalam 10 tahun usia 23 mereka. Biasanya semua orang menemui ujungnya manis setelah segala kisah indah yang ada, entah dalam dongeng ataupun dunia nyata.  Namun Alfi dan Ve tidak.

Ve bersikukuh baru akan menikah di usia 27 sementara Alfi merasa sudah siap dan menetapkan Ve sebagai separuh dari kehidupannya sekarang maupun nanti.

Di sinilah semuanya berawal.

Ve hampir kehabisan nafas, dia kesulitan mengatur persediaan oksigen dan siklusnya yang keluar masuk paru-parunya sambil duduk di salah satu bangku kayu. Mereka sedang berada di tepi danau. Tempat rahasia dimana Ve dan Alfi berbagi semua rasa dan cerita. Tempat yang Alfi janjikan sebagai tanah untuk membangun rumah bagi anak-anak mereka.

Dan untuk pertama kalinya Ve tak menyukai tempat ini. Alfi pun tidak.

Alfi sama-sama kepayahan, berusaha mengatur nafas sambil berdiri di samping Ve. Apa yang ia lakukan tadi gila. Dan handphonenya yang tak berhenti berdering menandakan adanya panggilan,- yang ia tau dari siapa, semakin membuatnya kesulitan bernafas.

“Kenapa, Al?” Ve bertanya singkat di sela rasa nyeri dadanya.

Alfi memandang Ve, ekspresinya tak bisa dijelaskan, dadanya naik turun dan tersengal.

“Pesawatku berangkat 1,5jam lagi..” Ve berhenti sejenak, “Kalau kau ada yang hendak dikatakan, maka sekaranglah saatnya..”tandas Ve.

Alfi mendekat lalu duduk di ujung lain dari bangku kayu yang diduduki Ve, ada sedikit jarak diantara mereka namun tak terlalu jauh. Tangan Alfi merogoh sesuatu dari dalam saku samping celananya. Kotak cincin.

Alfi meraih jemari kanan Ve dan memasangkan cincin tersebut di sana sembari berujar.
“Aku tak peduli dengan semua prinsip itu, yang jelas cincin ini milikmu. Dan aku mencintai kamu, sekarang.. aku usahakan sampai nanti saat usiamu beranjak 27 dan atau hingga kita berdua sama-sama renta.”

Ve terkesiap.

“Apa itu artinya kau akan menungguku, Al?”sedikit ragu Ve bertanya

Alfi terdiam, matanya menembus tepat ke sorot penasaran milik Ve dan mencoba menemukan sesuatu selain rasa takut. Namun Alfi tak menemukan apapun.

“Aku tak bisa berjanji, Ve. Hati itu absurd. Terlalu keras untuk memaafkan tapi terlalu lunak jika dihadapkan pada sebuah situasi yang bisa memojokkan”

“Apa maksudmu, Al?” mata Ve melebar. Dia benar-benar tak mengerti.

Alfi tersenyum, dia meraih satu tangan Ve lalu membawanya ke dada kirinya.

“Aku tak bisa menjanjikan matahari akan tetap berputar esok atau selanjutnya, namun aku berusaha untuk tetap hidup selama aku bisa. Aku tak bisa berjanji untuk menunggumu karena aku tak tau apa yang akan ditemui oleh hatiku besok atau hari-hari selanjutnya, tapi kau selalu tau jika cincin ini milikmu. Aku tak menyuruhmu untuk tetap mencintaiku ataupun setia padaku setelah hari ini, tapi saat kau kembali ke atas tanah yang sama dengan yang kupijak dan masih ada aku di hatimu maka temui aku di sini. Kita akan bersama selesaikan sisa setahun sebelum angka 27mu tiba ” Alfi tersenyum lembut, matanya mengembun. Dia tertohok ucapannya sendiri.

Ve tertegun, lalu menyurukkan kepalanya ke dalam pelukan Alfi, dia meledak dalam tangisan. Alfi mengusap kepala Ve dan mencium puncak kepalanya dengan lambut. Hatinya menghangat tapi juga terasa aneh.

“Pergilah Ve.. ” bisik Alfi.

Ve menarik kepalanya dari pelukan Alfi, lalu kembali  memandang dengan tatapan takut. Airmatanya masih mengalir.

“..tapi Al, bagaimana jika aku kembali dan kau tak ada lagi di sini? apa yang harus kulakukan di sisa setahunku?” sorot mata Ve yang dipenuhi tangis terlihat sangat ketakutan.

Tenggorokan Alfi tiba tiba terasa kering, matanya semakin mengembun.

“Itu artinya aku bukan yang terbaik yang disediakan Tuhan untukmu ” bisik Alfi gamang.

Airmatanya dan airmata Ve sama-sama deras.

***

Ve melingkari angka baru di kalendernya dengan gembira. sudah ratusan angka ia lingkari, hanya tersisa 30 lagi menuju kepulangannya.

Dia mengelus cincin yang melingkari jari manis tangan kanannys dengan sayang. Tak ada siapapun yang pernah ada di hatinya selain pemberi cincin tersebut.

Ve tersenyum-senyum sendiri. Seperti apa Alfi sekarang? Mereka sama sekali tak bertukar sepatah kata melalui saluran komunikasi apapun setelah hari ‘30menit penculikan dari bandara’ itu.

Dan Ve mulai menyusun rencana-rencana di sisa setahun sebelum angka 27nya, tentu saja dengan Alfi.

***

Alfi gelisah dalam duduknya. Sofa nyaman dan pendingin udara di ruangan ini sama sekali tak bisa mengusir  rasa yang bercampur aduk dalam dirinya.

Di balik tirai di depan ia duduk ada seorang wanita yang sedang mengepas gaun pengantin. Pernikahan mereka.

Siapkah ia? Sudah benarkah apa yang ia lakukan? Alfi tak pernah berhenti menanyakan kedua kalimat tersebut kepada dirinya sendiri.

Tanpa sadar jemari kirinya mengelus sebuah cincin emas yang melingkari jari manis tangan kanannya.

Cincin yang berbeda.

***

Inilah harinya. Ve merasa sangat bersemangat. Setelah tiga tahun, akhirnya dia bisa kembali ke area danau ini lagi. Tak ada yang berubah sepengelihatan Ve, tak juga hati dan perasaannya.

Ve memeriksa sekitar. Alfi belum datang. Tapi Ve sudah bisa melihat punggung bangku yang membelakangi arah dia datang, senyum Ve melebar. Bangku itu seperti kata pulang.

10 langkah..

Ve merasa kembali menjadi anak kecil dengan segala perasaan antusias ini.

7 langkah..

Debaran hatinya makin kencang. Ve takut jika dia terkena serangan jantung mendadak akibat semua rasa yang meletup-letup ini. rindu.

5 langkah..

Haruskah ve terus? Atau berbalik dan menunggu hingga Alfi datang? Tak meninggalkan tempat itu, hanya saja Ve merasa aneh jika hanya dia sendirian yang duduk disana tanpa ada Alfi sementara ditilik kebelakang betapa berharganya moment terakhir mereka di bangku tersebut.

3 langkah..

Hei, apa itu? Handycam?

1 langkah..

Tangan ve terulur otomatis, meraih benda tersebut. Tiba-tiba terasa dorongan untuk menyalakannya dan memeriksa apapun yang direkam oleh si pemilik sebelum meninggalkan benda tak bersalah tersebut di sana.

Hati Ve penuh dnegan antisipasi. Separuh hatinya berteriak, apakah Alfi hendak memberi sedikit kejutan sebelum menuntaskan rindu mereka? Ve kembali tersenyum lebar dan menekan tombol on. Dia segera memeriksa rekaman yang tersimpan disana, sedikit tidak sabar.

***

Setahun yang lalu...

Aku mencintaimu Ve, aku minta maaf.

Semua ini tak bisa lagi ku lanjutkan. Matahari yang tak bisa kita prediksi kehadirannya ternyata hari ini menolak hadir. Aku tenggelam dalam gelap dan mencari sesuatu yang bisa aku genggam di dalamnya. Aku berpaling. I don’t even have the right to come near you anymore, don’t love me.

Aku tak lagi sanggup memberikan hatiku, hidup dengan susah payah setiap harinya. Menahan segala rasa dan keinginan untuk menangis. 

Aku tak punya apapun lagi untuk kuberikan padamu. Aku bahkan tak bisa memberikan kata-kata perpisahan yang hangat untukmu. Aku tak berani untuk berharap lagi. Aku telah kehilangan kamu.

Pushing you away like this. I’m a bad guy that only has a heart, ve.

Aku menahannya ve, menyakitkan memang tapi aku bahkan tak punya hak untuk menangis sekarang. Aku menyakitimu. Aku tau. I don’t even have the right to look at you, don’t look at me.

Aku tau, di manapun kamu berada, di sana pula separuh hatiku, tapi di hatiku sudah tak ada kamu. Aku berusaha Ve, aku mencoba. Tapi bahkan dari tempat sekecil hatipun kamu tetap bisa pergi.

Aku tak punya apa-apa untukmu, aku benar-benar kehilangan kamu.

Aku tak berani berharap. Aku tak berani untuk menyentuh jemarimu lagi. Aku hanya akan memberi airmata untuk hidupmu, ve. Aku minta maaf karena aku telah kehilangan kamu.

Mengusir seperti ini, berpaling seperti ini, aku ini lelaki jahat ve. Jangan pernah melihatku lagi. Aku mendoakanmu supaya selalu bahagia.

Alfi menyeka airmatanya setelah merekam semua kalimat tadi. Dia mencoba tersenyum saat mengabadikannya dengan handycam, jika memang tak ada yang bisa ia berikan lagi untuk Ve maka paling tidak Ve masih memenangkan senyum terbaiknya.

Dan Alfi berharap ini adalah yang terbaik. 

Alfi menyimpan handycam tersebut ke dalam laci meja kerjanya sebelum beranjak pergi, hari ini wanita yang ia cintai ulang tahun. Wanitanya. Bukan Ve.

***

tersesat dalam belitan sulur yang orang lain tanam.
bersembunyi, menggapai-gapai kuntum yang mekar. berharap sedikit keindahan itu akan menular.
kemana hujan yang satu dekade lalu masih setia?
bangku ini oleng tanpa kamu di ujung yang satunya.
bergegaslah.
saat ku buka mata, mimpi itu akan segera menguap.
tak bisa kutahan engkau bukan.. bukannya tak bisa, tapi cuma belum.

 Ve tidak menangis. Matanya menerawang jauh dengan handycam di tangan. Teringat ketakutannya dulu. Semua perasaan bahagia yang ia miliki rasanya telah lenyap. 

“Itu artinya aku bukan yang terbaik yang disediakan Tuhan untukmu”

Kalimat terakhir Alfi di tempat ini kembali bergaung. Memburu dan mengepung. Ve tak punya tempat untuk lari. Satu-satunya kata pulang telah dicerabut paksa dari tangannya. Dia merasa menjadi tunawisma.

                                                                       Fin.

-Mungkin wanita bisa menyimpan sekaligus melupakan, tapi rata-rata pria hanya akan melupakan- Ve, Only Tears 2012 Chiqux.


cerita ini terinspirasi dari lirik dan lagu Only tearsnya Infinite :) 

1.27AM 23/08/2012
-chiqux-

Kamis, 09 Agustus 2012

speak-out!

saya benci. benci. benci kalau pintu kamar di gedor-gedor tanpa alasan. apa kalian tak tau apa gunanya mulut? apa saya harus mengumumkan pada seluruh dunia bahwa saya punya lemah jantung baru saya bisa menikmati keheningan saya dalam damai??!!!!

Selasa, 07 Agustus 2012

[random quotes] mine and most of my fave~

03-03-09 (ged. pascasarjana lt. 6)

lebih baik aku menutup mata dengan semua keburukan seseorang dan hanya melihat semua hal baik yang dapat kuambil darinya. karena sekali melihat semua keburukan seseorang aku selalu puny analuri untuk mencari-cari keburukan lain darinya :( *mine*

(tak bertanggal)
kesepian justru berteriak lebih nyaring dalam kesunyian *my fave, lupa dapet dari mana, i own nothing from this quote*

(tak bertanggal)
kamu pernah janjikan langit vanila, serta hangatnya mentari menjelang senja, pernah juga kamu bilang kan selalu ada. di setiap helaan nafas dan kedipan mata.
janjimu..
hanya ada tawa, bahagia serta hujanan kata-kata cinta.
hari ini,
malamku hitam, jiwaku kelam.
kamu dimana? *my fave, i own nothing from this quote*

(tak bertanggal)
love is so blind, it feels right even when everybody says its wrong *my fave, i own nothing from this quote*

(tak bertanggal)
tersesat dalam belitan sulur yang orang lain tanam.
bersembunyi, menggapai-gapai kuntum yang mekar. berharap sedikit keindahan itu akan menular.
kemana hujan yang satu dekade lalu masih setia?
bangku ini oleng tanoa kamu di ujung yang satunya.
bergegaslah.
saat ku buka mata, mimpi itu akan segera menguap.
tak bisa kutahan engkau dan ia... bukan.. bukannya tak bisa, tapi cuma belum. *mine*

(tak bertanggal)
telah lama lupa aromanya.
kopi pekat di lidah, mencecah kantuk dan frustasi.
terganti pahit oleh tawar teh basi.
yang  disuguhkan matamu setiap hari.
namun sungguh, hari ini menunya kopi :) *mine*

"tau nggak, siapa sih yang peduli normal itu apa. ayo kita protes! mulai sekarang kita orang-orang anti-normal, anti-rata rata, anti standard" *lupa judul novelnya, tapi quotes ini adalah salah satu dialog yg ada di dalamnya.*

kau naif jika berpikir hanya karena seseorang tidak peduli, maka mereka jahat #jleb banget *my fave, lupa dapet dari mana*


seusai hujan, yang tertinggal adalah aroma. keras membekap segala rasa. dan aku yang melihat kamu ada di mana-mana, sebagai rindu. *mine*

persahabatan bukan tentang siapa yang telah kamu kenal paling lama, siapa yang datang pertama atau paling perhatian.. semua itu adalah tentang siapa yang datang dan tak pernah pergi *alm. nopik*

sahabat adalah dia yang menghampiri ketika seluruh dunia menjauh. karena persahabatan itu seperti tanagn dengan mata. saat atangan terluka mata menangis dan saat mata menangis tangan menghapus airmatanya. *noe*

30 Des 2009 11:23am
"tak ada yang berubah kawan, langit diatasku masi sama seperti saat kau pergi... dan senyummu masi terpigura rapi dalam sepi pagi, siang, sore, malamku... bila kupinta tuk tetap tinggal, akankah dulu kau kan beranjak juga?" *mine*

"ilmu pengetahuanku adalah bunga. dan jurusku utk bertahan hidup adalah mencuri sebanyak banyaknya, mencuri bunga itu, mencuri ilmu pengetahuan. (pencuri bunga-oono junko)"

"Impian harus diperjuangkan!!.... Lawan Dunia!!! terkadang orang2 hanya menghargai hasil tanpa pernah mengerti betapa berliku dan terjalnya sebuah proses...." Jaya Pramono Adi Comm08 Undip 26 des 2009

Mawar di tanganmu itu bersepuh salju kasar yg membadai td pagi, bukan embun.. Mungkin tugasku utk membuat unggun, tp tak mungkin jika rerantingnya kau sembunyikan.. Penat korek ini terbakar hingga ujung jemariku.. Janganlah hny jd penjaga dpn rumah saja kawan, bintang itu tak dapat menari spt yg kau bilang.. Dy hanay diam dan memperhatikan, jadi tidurlah segera.. (Dongeng Sebelum Tidur part 2)" *mine*  25 Des 2009 10.33am


Ada mawar tak bertuan di puncak kastil.. Dia tak pernah mengenal tanah, tak pernah mengenal embun, tak pernah berteman kepak sayap kupu-kupu.. Tapi dia hebat.. Bertahan dlm vas kaca dingin.. Setia memandang langit biru luas tak berbatas.. Tak tertarik pada bintang, hanya matahari hidupnya.. (Dongeng sebelum tidur) *mine* 23 des 2009 09.04pm



Senin, 06 Agustus 2012

feminis or not??

ada yang menarik hari ini. ceritanya saya tadi sedang di dalam bus, perjalanan dari semarang bagian bawah. ada yang aneh ketika saya memasuki pintu bus, beberapa mbak-mbak terlihat berdiri sementara tadi dari luar saya tau bangku depan masih kosong satu.

karena saya merasa saya terlalu lelah untuk ikutan berdiri seperti mereka, maka saya mengambil kesempatan tersebut untuk duduk, toh juga mereka gada yang mau ini kan?

setelah saya duduk, akhirnya saya tau mengapa mereka enggan menempati posisi yang saya duduki tadi. itu dikarenakan teman sebangku saya ..eung.. bagaimana saya melukiskannya, sedikit seram sih. tapi saya tidak peduli, sekali lagi ungkapan dont judge the book from the cover berlaku. saya menyapa bapak tersebut *usianya sekitar 45-50an tahun* sekedar minta ijin/permisi untuk duduk di sebelahnya, dan dia membalas dengan sopan.

tapi bukan tentang ini yang ingin saya ceritakan. inti dari postingan ini dimulai ketika bus tadi berhenti di lampu merah depan pasar peterongan, tepatnya di perempatan metro deket javamall, ada dua orang peminta-minta. seorang bapak tua kira-kira umur 60an dengan kondisi fisik yang kurang, tidak sama seperti yang lain. dan seorang ibu berperawakan besar dengan usia sekitar 50an, fisiknya masih bagus dengan keadaan lengkap.

apa cuma seperti itu? tidak. selama dua menit lampu merah tadi saya menemukan sesuatu yang menarik.

dua orang tadi tidak cuma berdiam diri, tapi.. eng.. sedang bertengkar sepertinya. dengan visualisasi, si bapak tadi yang tidak bisa berdiri dan hanya bisa merayap dengan tangan sedang berusaha melindungi kepala dan seluruh badannya sekuat tenaga karena si ibu tadi memukulinya dengan membabi buta. pemandangan yang miris. tapi menariknya adalah komentar yang saya dengar ketika terjadi peristiwa tersebut.

si sopir yang berada di sebelah kanan bangku saya langsung berteriak sambil menjulurkan kepalanya ke luar jendela bus, *berikut kurang lebih terjemahan yang beliau katakan* "HOI, STOP! APA-APAAN ITU, MAIN KASAR. KALIAN ITU SAMA-SAMA MINTA-MINTA. NGGAK USAH BIKIN RIBUT, NEGARA UDAH CUKUP RIBUT!! " saya sedikit kaget karena reaksi si bapak supir tadi bisa dibilang cepat setelah terjadi pemukulan tadi. dia bahkan menambahkan dengan "JANGAN TAKUT MBAH, LAWAN. LUDAHI SAJA DIA. INI SAMA-SAMA BUMI ALLOH" eng.. saya sedikit galau, haha.. itu kalimatnya yang terakhir pantas didukung tapi awalannya, eng....

tapi yang lebih membuat saya kaget lagi adalah, bertepatan dengan reaksi si supir tadi, reaksi si bapak dengan tampilan seram di sebelah kiri saya jug atak kalah cepat, *berikut kurang lebih terjemahan apa yang beliau katakan* "WOI, BERHENTI! WANITA TAK TAU DIRI, KURANG AJAR. WANITA KOK BERANI MENGINJAK-INJAK LELAKI. BERHENTI!!"

kalian tau apa beda dari kedua komentar tersebut?

ya, keduanya sama-sama menunjukkan empati kepada si embah yang sedang  mengalami 'penganiayaan' tapi isi dari kedua komentar tadi sangat berbeda jauh.

dari si supir saya bisa menangkap ketulusan, namun dibungkus dengan bahasa kasar ala dialog supir angkutan umum sehari-hari. tapi yang kedua?

jujur saya tidak menyukai komentar kedua, mungkin bapaknya tadi memang ingin membela si embah, tapi kalimat yang dia gunakan membuat saya risih. WANITA KOK BERANI MENGINJAK-INJAK LELAKI. memangnya kenapa kalau wanita menginjak lelaki? saya bukannya hendak menggugat hukum atau dalil apapun, tapi perasaan saya terusik. kenapa si bapak harus memberi gender pada rasa empati yang ia lontarkan? apakah korban dan pelaku penganiayaan BUTUH gender??  hal ini mengganggu. seolah ada idealisme yang ikut terlontar bersamaan dengan ucapan si bapak tadi.


saya sepuluh kali lebih memilih bahasa kasar di bapak sopir namun tulus terhadap pelaku dan korban tanpa menyebutkan subyek tertentu dari pada kharisma si bapak berpenampilan seram tadi namun memberi jenis kelamin pada sebuah kasus penganiayaan.

lantas apa artinya ini saya mendukung penuh ajaran feminis? entahlah.
yang saya tau sekarang, saya masih mengandalkan ayah saya. eh mungkin bisa dikatakan seluruh anggota keluarga saya yang semuanya adalah perempuan (ibu, saya dan seorang adik saya) bergantung penuh kepada ayah saya. dan saya tak akan sanggup bila di todong dengan ucapan 'karena kamu feminis, maka saya hormati pilihanmu. sekarang kamu bisa melakukan semua-muanya sendiri tanpa harus melibatkan ayah'. karena saya selalu menyeret ayah saya kemanapun saya hendak pergi. *sigh* derita seorang anak yang tak menguasai satupun jenis kendaraan pribadi hahaha.


jadi apa konklusi postingan ini? semoga anda-anda yang membaca bisa membantu saya menyimpulkan.



salam^^
Babo Little snaiL