Selasa, 17 April 2012

[Re-Post] Puzzle :) Park Sibling, zzang!!

Aku adl sungai yg tertangkap peluk muara lautku.Itu kau. Yang luas. Berdebur. Riuh. Semilir. Beberapa pantai landai. Sela-sela ceruk dan tebing kutemui.

Aku, aliran air tawar, melebur dlm rengkuh asin. Tawarku ngga pernah hilang. Kau sediakan tempat di kaki pusaran gelombang.

Serupa puzzle. Kepingmu melekat dikotak dlm genggamku. Ku urai pula kepinganku, menempati celah-celah kosongnya kotak di genggammu.Segalanya terasa lengkap. Pas pada tempatnya.

Tegur sapa dibawa udara. Terbang mengawang di langit-langit. Tapi belum pernah kita terpijak daratan yg sama. Kutemukan kau. Yang kuharap dlm diam tnp pencarian. Kedekatan dari huruf-huruf, kubawa kau dalam tataran dr masa lalu yg kutoreh. Aku telah merasa mengenalmu bahkan sblm kita bertemu. Apa yg kau rasa sama?^^



hahaha sbnrnya puisi ini spontan tertulis, waktu itu saya baru kenal sama Putri larasati, atau yang biasa di panggil Yue, kami bikin duo dalam salah satu grup. namanya Park sibling. jadi saya Sandara Park dan dia Park Bom, dua member dari girlband 2NE1 XD

ini si yue :D matanya mirip punya saya hihihi
baru awal kenal aja kami uda berasa anak kembar, banyak kesamaan..

[Re-POST] Buat Alm. Kakak~

Kemarin aku dan engkau masih didalam kelas. Rumitnya soal jadi asap. Kita sama-sama penat kakak. Hidup adl nama dr mata ujiannya. Saling lirik dan tukar kisikan. Tak ada contekan. Tak bisa memang.

Susah kakak, tintaku merajuk pada kertas jawaban. Kau cuma tertawa, lantas bangkit berdiri. Ujian belum selesai kakak, kemana engkau akan pergi? Waktu ujian telah habis, jawabmu jadi gema dibalik pintu. Lagi-lagi aku ditinggalkan.

Halte kakak, kita sama-sama menunggu. Canda dan ceritamu lah yg jadi musim. Pergantian siang malam. Tapi busmu tiba lebih dulu. Tak pernah ada pamitan, apa kau pulang penuh bekal? Yg kulihat punggungmu, semoga engkau tidak lupa bawa senyuman. Perlukah ku lambaikan tangan? Lajumu terlalu cepat, terbangkan doa di sisa jejakmu kujadikan pilihan. Ngga apa-apa bukan?


Dan kau telah pergi. Sisanya aku yg beku. Halte ini terlalu ramai. Aku tersesat di kerumunan, kakak. Kau benci kan? Aku juga. Tapi bolos bukan kesepakatan. Menunggu cuma satu-satunya. Tujuan sekaligus jawaban.

Kini..
Tak ada lagi pintu buatmu di kelas. Kau memang telah pergi. Tp justru aku yg terkurung. Penjara kenangan ttg kamu. Aku hidup sendiri disana kakak. Kelas yg sumpek. Menyedihkan namanya kenyataan.


ini Mas arif-nya lagi gaya centil.. dia emang terkenal lucu.

ini mas arif sama istrinya, mba aya

dan ini dedek fira, yang lahir tanpa sempet ngerasain suara adzan dari abi-nya


RIP best brotha' Muhammad Arif Wibowo. Sekelumit ini dan itu dari rangkuman percakapan kita selama 7 tahun. Selamat jalan kakak. Surga ALLOH disimpan buatmu. ALLOH ada. Usah risau. #Buat mba aya dan si dedek Fira#

[Re-POST] Puisi Yang Hilang.. Tanpa Judul

Tadi pagi, kau adu dengan keras, mataku matamu.

Sekejab. Lantas kau lari buru-buru.


Dalam memar pandangan yg kau tinggalkan, masi mengucur ribuan tanya dan harap tiada henti.
Siapa kamu?
Aku tersesat, dlm gema suaramu yg tersangkut di ujung telinga.


Kau pasti tak tahu, waktu dan aku telah berkompromi. Menjangkarkan detik pertemuan dua mata dalam amarah pena pada kertas.
Sampan mungil menuju dermaga lelap di lautan tidur yg kuselami.


Hari sudah sore ternyata. Tapi aku masih asik saja bermain, bersama aroma kelebatmu yg membuatku tak lagi sama.

[Re-post Puisi Yang Hilang,tulisan saya di page SDD-lupa tanggalnya]

[Re-POST] B'day Card For Lovely Nopik~

mendung yang kutahan seharian. cerah namun pekat yang di sini.


orang bilang pagi ini indah walau ada yang tak ada.


terawang beku yang aku tau. dunia tetap akan menua. kamu yang tertinggal di kepala.   


kutelusuri pagiku dengan sendu. yang tak ada kamu. 


mereka tetap tertawa. aku tertawa pula. dan dunia memberi tempat pada pagi siang dan malam berkonvoi.

telah jauh yang ku lalui, kamu selalu ada, mereka yang tak tau. aku menahan luka dari keluarnya airmata.




tau apa mereka?


sunyi mengendapkan bisingnya serak dari lidahku. ada hujan yang hendak menghibur. tak banyak. ada yang lebih deras di sini. kenangan bersama mu.


kupatahkan dengan sengaja, pertahanan kuatku hari ini. kuijinkan tangisku bertemu dunia. hari ini ia merdeka. buat kamu.

30 November 1989 - 20 mei 2009 - 30 November 2011
tak pernah cukup kuukir dalam kata. memang tak terkalimatkan dalam paragraf kan?
kau yang selalu jadi inspirasi di setiap mata pena. NOVIANA DARMASTUTI. happy bday Nopik.
dengar. dengar ini. aku kangen. airmataku telah menulis monolog panjang dalam senyap. kau dengar kan?



REST IN PEACE, dear. Still.

[PUISI] Ini Tentang Cinta

Seperti mendung, yang menggelap perlahan.

Semakin penuh, hingga akhirnya hujan.

Aromanya menyenangkan.

Menjadi jembatan, yang memberi rasa dan menerima rasa.

Abstrak. Namun diliputi cemas.

Serupa cenayang amatir, kuhabiskan sudah tinta dan kertasku, memetakan apapun yang ada di benakmu.


Lalu, memang seperti mendung. Yang datang tak kira-kira.


Kapan dibutuhkan, atau kapan dihindari.

Tak jelas lagi batas.


Kamu. Selalu menarik tatapku. Seolah cuma ada kamu, kugambar yang lainnya dalam bisu.

Warna ini, kamu.

Tapi kenapa?
Masih ada jutaan 'kenapa' yang ku jajarkan, kamu lah alasan.

Jadi, kenapa?


*aku hanya perlu mengoleksi lebih banyak lagi 'kenapa'. Jawaban yang muncul tanpa pertanyaan ini membuatku tersedak. Ini, seperti halnya kesalahan, tak ada yang menginginkan. What should i do?
*


antara mengikuti suara kaki atau suara hati.

[PUISI] Buat Penyair Hujan

ada yang mencela hujan di depan saya, bapak.
dia bilang hujan itu tak pernah tumbuh dengan kesetiaan.
hujan cuma playboy, ujarnya.

saya terluka, bapak. sungguh.

gatal lidah saya hendak menampar ucapannya dengan pedas.
tapi saya ditikam, bapak.

"bodoh, jika kau percaya hujan adalah kesetiaan. yang sebentar ini bukan bukti setia. tak cuma sekali aku di bohongi. hujan punya batas kadaluarsa, cantik. saat ia berhenti merinai.
dan kau tau, saat kau membutuhkannya untuk sembunyikan sungai kecil di kedua matamu, mungkin saat itu ia tengah bercinta dengan tanah lain entah di belahan dunia mana." tuturnya dengan sorot menerawang.


dan saya luluh bersama angin, bapak.
terluka, terkhianati dan mencintai pada saat yang bersamaan.
saya benci, bapak. benci, sungguh.


bukan membenci sosoknya yang juga kecewa saat mencela hujan.
bukan membenci ketidaksetiaan hujan.
tapi membenci diri saya sendiri.


yang hanya berdiri disini, basah dan lalu kering bergantian. sementara hujan berlari kesana kemari melintasi waktu.


(percakapan tentang hujan dengan Hujan. 21 November 2011)

Hope~

kutundukkan dalam-dalam. payung di genggaman berkarat dengan cepat.

kukibaskan smua.
yang mengikutiku dari langit hingga laut. membasahiku dengan lelah.
sembunyikan segala sungai kecil yang melarut dalam sendu.


kutenun segala doa dalam peluh. perjalanan ini tak berujung.

setiap kutengok kebelakang, ada kau. yang gembira. yang beramai-ramai mencintai tanah. yang memberiku jejak pada basah.


apa ini?

aku merasa seperti pencuri.


apa yang kau rasa hilang? tak kudapatkan. tak ada padaku. apa yang kau kejar?

sudahlah. kuberi kau nama hujan.

dan menetaplah dengan damai. aku mengawasimu dari jauh.



kujulurkan tangan dari balik payung yang kujadikan tameng. hai, hujan. selamat terlahir kembali.
jangan berdiri dibelakangku.

[PUISI]sebaris doa dalam hujan..

Hari ini hujan, apa kau telah menyiapkan payung?


Risau atas jawaban dari tanya yg tak ku ungkap. Ini membuat jemariku mengeriting geli.


Sudah jam makan siang, apa kau masih menyibukkan mata pada lembar-lembar pekerjaan?




Semoga selalu tersedia payung untuk segala perjalananmu menembus hujan.
Semoga selalu kau sediakan makan siang untuk si perut yang sering terabaikan.

Begitu mudahnya cinta tereja.
Bukan tentang kebencian yg mengalahkan segala atau juga perasaan kepemilikan atas dunia.

Dalam hujan hari ini kuselipkan sebaris doa dan cinta yang sederhana.

*kau tak perlu tau sebenarnya*


:: Ketika Saya Jatuh Cinta ::

kebohongan yang pahit*sigh*pose

kotak kaca kecil.

hujan yang didalamnya selalu jadi berita. mudah terbaca. tak mengapa. kejujuran rasa biasanya dipatok tinggi oleh harga.

fermentasi dari ribuan peristiwa, memadat hingga jadi kerak. ini yang dinamakan persahabatan, bukan?


benihnya dari huruf-huruf yang menari, tapi akarnya berada jauh di hati. bukankah kesalahan? tapi tak ada yang menganggapnya. jika dibalik, inilah ketulusan.

lantas kotak kaca kecil, retak satu garis.

hujan didalamnya mengering jadi curiga. terjun bebas dalam palung, inilah kegelapan. siapa yang mampu berdiri?


kami angkat tangan setinggi-tingginya. hal hal penting tak bisa dilihat mata. tak apa. kami bisa.



lalu dunia mulai terbalik. yang mengaku sebagai kami menunggal pada satu jari. ada kaca ajaib yang muncul. beningnya terlapisi marah yang defensif.

tau, semua tau. manusia memang begitu. tak apa, sungguh. yang mengerak ini tak akan terhapus, hanya perlu sebotol kejujuran untuk membuatnya kembali berkilau.

tapi yang terbalik cuma dunia, kepala tetap sama kerasnya. tuhan, bolehkah jika cuma Engkau yang (kami) percaya?


ada pintu yang baru saja tertutup di depan muka. tidak. tidak. tak ada nama penghianatan. yang tertulis cuma mahalnya harga sebuh kepercayaan.

lepas sajalah. semua manusia ingin didengar. semua manusia ingin diperhatikan. manusiawi adalah satu keajaiban.


(kami) berhenti.


tapi yang retak tak mau berhenti. kotak kaca kecil mengeropos kehilangan dirinya.


yang di sini gamang. masihkah bisa jika percaya pada huruf tak bernyawa?
 menutup mata terasa lebih mudah daripada segalanya.

Pose Yesung Super-Junior ini merepresentasikan apa yang saya tulis di atasnya. di bohongi oleh orang yang kau percayai itu, horrible. menyakitkan. apakah selamanya harus menutup mata?





Monolog Orang Gila dan Kucing, yang kelaparan

“..Aku menunggu wanita itu hingga tengah malam. Tak juga kudengar lembut gemerisik hadirnya. Hujan mengancam dalam gelap, aromanya tajam. Aku cuma mau dia pulang malam ini. Dia benci air, hujan hanya membuat bulu-bulunya lepek, wanita sempurna itu tak boleh lepek, begitu gumamnya selalu saat ku tawari air.”


                                                                                                            ***
Siang ini panas, aku jadi pengen sekali bernyanyi. Maka aku bernyanyi. Orang-orang menyebut aku orang gila. Yeah, aku tak peduli. Kutelusuri jalanan lurus ini, dengan beraneka kendaraan yang terbang-terbang di sisi sebelah kananku. Sinting. Yang seperti ini dinamakan jalan raya? Apakah ada sesuatu yang berkaitan dengan hari raya? Lebaran? Ketupat. Perutku semakin berkeruyuk. Laparnyaaaa. Mereka yang mengataiku orang gila justru sepertinya yang gila. Siapa yang gila?


Ah, lapar. Apakah tuhan marah padaku? Hari ini aku tak menemukan apapun yang bisa masuk ke dalam perut.  Tak sampai hati aku mengumpat. Mungkin aku belum rajin menelusuri. Aku makin bergegas melaju. Kaki ku tau kemana harus berhenti.


Ku hampiri orang-orang yang ramai mengantri di rumah besar sebelah kiri. Mereka keluar masuk dengan tergesa. Beberapa yang keluar menjinjing bungkusan plastik. Hidungku menerka kalau itu sesuatu yang bisa dikunyah. Makanan.
Kulihat dengan malu-malu mereka yang berjajar duduk di dalam. Mereka pun dengan sengaja menatap malu-malu mengindari pandanganku. Ah, perut. Kuelus dan kudendangkan lagu asal  saja tentang kesabaran. Samar kudengar  bisik-bisik mereka mencela laguku, “orang gila” begitu katanya. Kulebarkan cengiranku dengan gagah. Aku merasa tampan dilihat dengan begitu rupa. Ehehehe.


Aku masuk dengan tiba-tiba. Banyak yang terlihat tak suka. Lapar membuatku tak peduli. Aku cuma mau minta makanan seperti mereka-mereka yang antri. Ku garuk-garuk rambutku, kuku-kuku jariku tersesat didalamnya.  Makin banyak tatapan tak suka, tapi aku suka.


Lalu dia datang. Entah siapa. Yang jelas mukanya neraka. Aku didorong keluar dan dicaci. Padahal belum sempat ku pinta, tapi aku sama-sekali tak diberi. Heii~ apa-apaan orang berwajah neraka ini.  Tak suka tinggal bilang kan? Aku menggerutu sambil tertatih jalan lagi. Dorongan si muka neraka tadi membuat kakiku jatuh terkilir saking kerasnya. Dasar muka neraka, sungutku keras-keras. Orang-orang makin keras pula berucap, “orang gila”.


Aduh. Sakit di dua tempat. Kaki dan perut. Rasanya aku tak kuat jalan lagi. Aku duduk di dekat gundukan tak jauh dari rumah besar tadi. Mungkin diantaranya ada makanan yang bisa ku kunyah. Aku mengisut mendekatinya.


Lalu ku lihat dia. Yang sedang mengunyah sebungkus makanan dengan malas. Aku merangkak makin cepat mendekati. Sepertinya dia tak menyadari kehadiranku. Aku makin bersemangat. Perutku sebentar lagi terisi, Tuhan terimakasih karena tidak marah padaku hari ini.


Tapi dia yang marah. Dia tak suka kemalasannya makan di ganggu. Aku tau. Tapi tak urung tanganku ikut menggapai-gapai makanan yang di hadapinya. Bungkusan tak berbentuk yang dia congkel-congkel dengan kukunya yang tajam.


Ku kunyah saja dengan semangat. Semua yang berhasil aku ambil dari hadapannya. Dia menggeram, diacungkannya kuku-kuku tajam ke arahku dengan sikap mengancam. Aku balas menggeram, dengan mulut penuh tentu saja. Aku sendiri juga tak tahu, apakah aku membalas atau justru menggodanya. Mulutnya terlihat seksi saat menggeram padaku. Aih, Tuhan dadaku berdesir-desir sembari kukunyah makananku dengan lahap.


Perutku terisi, ingin ku ucapkan terimakasih padanya yang telah sudi berbagi. Tapi tanganku bergerak menjauhi apa yang ingin dikatakan mulutku. Kucoba mencubit tengkuknya. Dan dia meledak. Sebaris cakaran memberi tanda pada punggung jemariku. Ohoho~ manisnya.
                                                                                                        ***


Dan saat-saat selanjutnya, tak kurasa lagi lapar di perutku. Aku cuma butuh jalan-jalan sebentar, mengomel tentang orang-orang, sedikit menyanyi untuk mereka yang butuh hiburan, dan lalu aku pulang. Pulang. Kata yang indah. Aku tau aku cerdas, kutemukan kata pulang ketika aku bertemu dengannya. Wanita berbulu kelabu yang selalu galak padaku. Makanan selalu tersedia di moncongnya saat ku hampiri. Bukankah itu romantis, Tuhan?


Orang-orang yang melihat kami masih saja berbisik usil. Gila. Aku di bilang gila. Bukankah ini gila? Ahaha. Aku suka. Seperti kata pulang, gila terdengar indah saat mereka berbisik melihat aku dan wanitaku berbagi.


Dia memang pemarah. Kadang aku sengaja membawakan bunga-bunga rumput dari jalan yang kulalui, tapi ia hanya mendengus. Menguap sebentar, meregangkan tubuh lembutnya lalu berbalik memunggungiku sambil menjilati bulunya. Cantik.


Dia pemarah tapi tak pendendam. Kadang sengaja dia memperbolehkanku menggodanya. Ku elus bulu-bulu lembutnya, ku garuk belakang telinganya dan dia menggeram kesenangan. Seksi sungguh. Suaranya mendayu-dayu. Lalu biasanya aku jadi ingin bernyanyi tiba-tiba.


Beginilah ku lalui hari-hari selanjutnya. Aku sejujurnya tak tau, apa itu hari. Dulu yang ku sebut hari adalah ketika aku sudah berjalan-jalan, menyanyi, lalu di usir oleh pemilik rumah besar yang bermuka neraka ketika lapar. Itu yang namanya hari.


Ah, aku tau aku cerdas. Ini bukan hari. Ini adalah pagi. Aku cukup berjalan-jalan, mengomel dan menyanyi lalu pulang. Namanya pagi. Baunya segar. Sesegar nyanyiannya ketika aku hampir dekat ke tempat kami pulang. Kami. Aku dan dia.

                                                                                             ***


Tadi pagi wanitaku pergi. Sampai hari ini. Eh kalian tau maksudnya kan? Dia pergi saat pagi, tapi sekarang sudah hari. Benar-benar hari. Aku kembali, jalan-jalan-mengomel-bernyanyi-lapar-dan diusir si muka neraka, sama sekali bukan pagi. Aku bergelung seperti posisinya yang biasa, pura-pura gila supaya bisa bilang pulang. Ini tempat yang sama, tapi tanpa dia, aku tak bisa bilang pulang bukan?


Rasanya lamaaa sekali, laparku memadat jadi keruyukan abadi, sengaja kucakar-cakar punggung tanganku sesekali, dan aku sudah terkilir gara-gara si muka neraka berulang kali. Mataku mengeluarkan ingus seperti ketika hidungku mampet, banyak sekali.


Rasanya aku tiba-tiba ingin menyanyi. Sedih mungkin seperti ini. Iringan bunyi perutku memperjelasnya. Sekilas aku ingat pernah melihatnya tiduran di tengah jalan raya. Dengan sepotong tahu bocel di moncongnya, dan gumpalan warna merah di sekitar perut dan kakinya. Aku tak suka. Bulu-bulunya jadi kotor, kenapa dia tidak menjilatinya hingga bersih? Dia malah tidur dengan santai ketika kupanggil-panggil dari pinggir. Mungkin dia marah.


Dan aku meninggalkannya begitu saja. Kupikir dia pulang. Seperti aku yang mau pulang.


Tapi nyatanya begini. Aku masih bergulung, entah sudah jalan berapa hari seperti ini. Dan aku belum menemukan kata pulang lagi. Dengan dia yang tak ada disini. Wanita ku.

                                                                                                       ***

“Aku menunggu wanita itu hingga tengah malam. Tak juga kudengar lembut gemerisik hadirnya. Hujan mengancam dalam gelap, aromanya tajam. Aku cuma mau dia pulang malam ini. Dia benci air, hujan hanya membuat bulu-bulunya lepek, wanita sempurna itu tak boleh lepek, begitu gumamnya selalu saat ku tawari air.”




tulisan ini saya ikut sertakan dlm forum @Writingsession di twitter, dengan tema "wanita" dan kalimat pertama "aku menunggu wanita itu hingga tengah malam" 

credits bisa dilihat di twitter saya: @chiqux  

http://bit.ly/vubmSI

http://writingsessionclub.blogspot.com/2011/12/monolog-orang-gila-dan-kucing-yang.html?utm_source=twitterfeed&utm_medium=twitter