Summary:
Ditempatkan dalam posisi yang sama belum
tentu akan memiliki perasaan yang sama. Dira dan Siera , dua gadis asal
Indonesia ini terdampar di negeri Ginseng Korea, tepatnya di Seoul dengan kisah
yang berbeda. Siera meninggalkan Indonesia untuk mencari materi sementara Dira
menggadaikan materi dari Indonesia untuk secercah ilmu di Seoul. Dulu mereka
seperti sepasang anak kembar dan tinggal dengan rukun didalam satu flat
sederhana, hingga pada suatu pagi tiba-tiba saja mereka tak lagi mengenal satu
sama lainnya. Kisah mereka yang rumit makin lengkap dengan kehaDiran kekasih
masing-masing. Dira dengan L, aktor muda yang kini wajahnya mulai banyak
dikenal orang. Dan Siera dengan Kyuhyun, mahasiswa yang menuntut ilmu di Universitas
yang sama dengan Dira. Meski begitu, baik L ataupun Kyuhyun sama-sama tak bisa
menjawab kenapa kedua gadis ini saling membenci satu sama lain.
Part
2: Beans and Lovely Carrots
Author:
chiqux
The
casts belong to themself but i own this story. Please enjoy it!
PS:
sorry for the typos :p
![]() |
Kyuhyun |
L membanting
script dramanya dengan kesal. Dia
mengangkat kakinya ke atas meja lalu mengacak rambutnya sendiri dengan kedua
tangan. Ditengadahkan lehernya pada punggung sofa kecil yang sedang ia tempati
sembari memejamkan mata. Syuting hari ini berada di dalam sebuah gedung, dan
dia mendapat hak eksklusif waiting room untuk dirinya sendiri sebagai pemeran
utama.
10 menit
lagi gilirannya take, tapi bahkan satu line dialog pun tak ada yang bisa dia
pahami. Kepalanya terlalu sibuk memikirkan hal lain saat ini.
L
menghembuskan nafas keras, penuh rasa frustasi. Ingatan akan Siera dan Kyuhyun
di lorong Rumah Sakit tadi terlalu mengganggu konsentrasinya.
What the hell is going on?
“AAAAARGH..!!”
Kembali L
mengacak rambutnya, benar-benar frustasi. Bukankah seharusnya dia lebih
khawatir pada Dira? Kenapa harus Siera?
“Myungsoo-ya,
segera bersiap-siap. Kau akan take sebentar lagi~” suara manajer-hyung
mengembalikannya dari dunia abstrak. L segera berdiri dan merapikan
penampilannya. Bagaimanapun juga dia ini artis profesional.
Tapi L tak
mampu menahan dirinya untuk tidak bertanya pada manajernya.
“Hyung,
setelah selesai take nanti, bolehkah aku pergi ke Rumah Sakit? Kau tau kan, Dira~
ng..” L tak meneruskan. Dia menatap manajer-hyung dengan penuh harap.
Manajernya
seolah berpikir sejenak, tapi lalu mengungkapkan isyarat setuju.
“Selesaikan
semua recording hari ini dan kau punya setengah hari bebas menemui Dira. Dengan
penyamaran lengkap tentu saja.” Manajer-hyung memberi tekanan pada kalimat
terakhirnya.
L tak bisa
menyembunyikan senyumannya, dia mengangguk mantab dan berjanji akan melakukan
apa yang dipesankan oleh manajernya. Ah, recording hari ini rasanya bukan
apa-apa. L telah lupa bahwa beberapa saat tadi dirinya sedang kacau.
“Aktor besar
harus profesional” gumamnya pada dirinya sendiri. Tapi yang terbayang di
kepalanya adalah Siera. Menemui Siera secepatnya. Bukan Dira.
***
Siera
berdiri sembari melipat tangannya di depan jendela ruangan tempat Dira berada.
Pandangannya tertuju pada hilir mudik aktivitas suster dan pasien lain di luar
ruangan Dira. Kebetulan ruangan ini berhadapan langsung dengan jalan utama
didalam Rumah Sakit dan taman kecil.
Setengah tak
yakin tadi pagi Siera kembali ke Rumah Sakit untuk menunggui Dira. Walau pun L
sudah menyuruh salah seorang cordi kepercayaannya untuk menjaga Dira, tentu
saja rasanya tak sama bukan antara orang asing dan orang yang pernah dekat?
Siera masuk
ruangan tepat ketika Dira sedang disuapi sarapan. Dan saat Siera mengambil alih
tugas cordi tersebut untuk menyuapi, Dira sama sekali tidak protes. Suasananya
tampak normal ketika cordi L tersebut masih ada diantara mereka kecuali tak
adanya pembicaraan antara Dira dan Siera. Keduanya sama sekali tak bertegur
sapa dan tak mengucapkan sepatah katapun. Hingga saat cordi tersebut pamit untuk
kembali ke lokasi syuting L dan Dira memalingkan posisi tidurnya membelakangi Siera,
tetap tak ada interaksi di antara keduanya.
Suasana di
luar kelihatan panas, bahkan Dira pun terdengar bergerak gelisah dalam tidur. Siera
tetap berdiri dan melipat lengannya di depan jendela. Tak peduli bahwa ia dan Dira
saling membelakangi.
Tiga tahun
yang lalu suasananya juga sepanas ini saat Siera pertama kali bertemu Dira di
halte bus. Saat itu Siera masih sebagai pekerja magang di kafe yng sekarang
ini. Dia dapat jam kerja cuma pagi hari, disaat kafe belum terlalu ramai. Toh
juga dia kerjaannya belum banyak di meja pesanan, tugasnya lebih sebagai
waitress dan merapikan keadaan kafe sebelum buka. Setengah hari sisanya hingga
malam ia habiskan untuk mengikuti pendidikan sebagai barista dengan salah
seorang barista profesional yang terkenal di seoul. Dan di sela pergantian
antara magang dan hendak berangkat les itulah dia bertemu Dira yang nampak
sedang kebingungan membaca rute bis di halte dekat gedung flatnya.
***
Siera menghenyakkan pantatnya pada bangku
halte, semilir angin tak cukup mengusir panas hari ini meskipun tadi Siera
sudah sempat mandi dulu. Tangannya tak henti-henti menggerakkan fan kecil untuk
membuat wajahnya lebih sejuk.
Ketika itulah tatapannya tertuju pada koper
seorang gadis berambut panjang dengan coat lumayan tebal yang sedang berdiri dan membaca pola dan
tulisan rute bus di depannya. Bukan, bukan gadis itu yang menarik perhatiannya.
Tapi koper gadis itu memiliki lambang merah putih kecil disisi sebelah atas
dekat pegangannya. Dia warga negara Indonesia seperti dirinya.
Lalu pandangan Siera terurut naik ke wajah
gadis yang sedang ia perhatikan. Rambut panjang yang distyle dengan ujung
bergelombang dan poni lempar kanan, wajah oval dengan kulit cokelat khas asia
dan (untuk yang terakhir ini Siera amat yakin) make-up tipis yang menghiasi
wajahnya. Keningnya sedikit berkeringat, tentu saja dia kegerahan. Ini memang
sedang masuk musim panas, dan dia memakai coat yang lumayan tebal. Mungkin dia
belum survey musim-musim dan peralihannya.
Siera berdiri, dia mendekati gadis tersebut.
“Excuse me, eng.. are you Indonesian?”
Gadis tersebut menoleh, dia menatap Siera
dengan sedikit takut-takut. Siera memperkirakan tinggi gadis tersebut sekitar
5cm dibawahnya.
“Hai, ngga usah takut. Aku juga orang Indonesia. Sepertinya kamu tadi tampak kebingungan, ada yang bisa aku bantu?”
tawar Siera menggunakan bahasa indonesia.
Gadis di depannya tersebut mengerjabkan mata
dengan bingung.
***
Saat itu Dira
sedang kebingungan mencari rute menuju alamat rumah yang akan menjadi tempat homestay-nya selama dia kuliah di SNU. Siera
menawarinya untuk tinggal bersama di flatnya dengan pembagian sewa separuh
untuk masing-masing orang. Kebetulan flat yang ia sewa lumayan luas dengan 3
kamar, dapur plus pantry, 1 kamar mandi, 1 ruang tamu sekaligus ruang tv dan
balkon.
Beberapa
hari tinggal dengan Dira, Siera menyimpulkan kalau Dira adalah sosok yang
pendiam tapi cukup cerdas. Dia mampu mencerna penjelasan apapun yang Siera
berikan tentang rute bis, acara televisi, tempat-tempat nongkrong bahkan hingga
situasi politik. Satu-satunya hal yang tak bisa Dira kuasai dengan cepat
hanyalah bahasa korea dan penulisannya. Karena itulah setiap hari sepulang
kerja, sepulang les, bahkan saat mereka makan, Siera selalu menjadi tentor
gratis bagi Dira.
Dira juga
sama payahnya dalam hal memasak dengan Siera, terlahir dalam keluarga yang kaya
membuat Dira terbiasa tergantung dengan orang. Siera menyadari hal itu saat
minggu pertama telah terlewati. Hal paling remeh seperti menyapu kamar saja
terlihat sangat aneh jika Dira yang melakukannya. Dan tentu saja Siera dengan
senang hati mengajari atau bahkan mengambil alih tugas itu. Entahlah, saat di dekat
Dira, Siera merasa seperti memiliki seorang adik manis yang tak pernah dia
miliki. Siera punya saudara sebenarnya, kembaran yang lahir 10 menit kemudian
setelah kelahirannya. Orang paling dekat yang pernah ia punya tapi sekarang Siera
lebih suka tidak pernah menyebut namanya lagi betapa pun sayangnya dia kepada
adiknya tersebut.
Mungkin ini
terdengar mustahil dan sangat tidak masuk akal, tetapi jika ditanya siapa orang
yang paling Siera sayangi di dunia ini maka jawabannya adalah Dira. Untuk
pertama kalinya Siera merasa memiliki saudara, sekaligus sahabat. Bisa
dikatakan juga jika di Seoul ini, Siera adalah ibu kedua bagi Dira.
Mereka
seumuran. Hanya saja Dira lebih beruntung karena keluarganya mampu mengirimnya
ke tempat yang jauh dari rumah untuk menuntut ilmu. Sementara Siera harus
meninggalkan rumah demi mengumpulkan apa yang bisa membuat keluarganya
tersenyum. Semua itu membuat Siera nampak lebih dewasa dari umurnya yang
sebenarnya.
Setelah
menjalani hari-hari bersama Dira, Siera merasa apapun yang ia lakukan lebih
berarti. Untuk pertama kalinya dia berkenalan dengan perasaan dibutuhkan. Di
sini. Di tempat yang bahkan orang tua dan seluruh generasi sebelumnya dari
keluarganya belum pernah menginjakkan kaki.
***
“Apa yang
kau pikirkan?”
Dira memecah
kesunyian dan jembatan beku di antara dirinya dan Siera untuk pertama kalinya. Siera
membalikkan badannya. Setengah bingung karena Dira mengajaknya bicara.
“Eh?” hanya
itu yang mampu Siera keluarkan dari mulutnya.
Dira
mendengus tak sabar, dia beringsut hendak bangun. Karena sedikit kesusahan
dengan tangan kanannya yang luka maka Siera bergegas membantunya. Dan Dira pun
juga tak menolak.
Memang
sedari tadi Dira hanya mendiamkan Siera, tak menerima kehadirannya tapi juga
tak berhendak mengusir. Dia menikmati keberadaan Siera di dekatnya, tapi juga
merasa sangat ingin menendangnya keluar. Hanya saja dia tak tau mana dari kedua
perasaan tersebut yang benar-benar dominan. Karena itu Dira mengatupkan
mulutnya di depan Siera seperti halnya Siera yang juga mendiamkannya semenjak
berbulan-bulan lalu. Jujur saja, Dira sebenarnya lebih nyaman dengan keadaan
saling mendiamkan satu sama lain tadi. Tapi dia tak tahan, yang ia lihat Siera
justru asik memikirkan sesuatu sambil sesekali tersenyum. Dira membenci senyum
itu. Sangat. Karena itu Dira berniat membuat Siera sebal dan menghancurkan
apapun lamunan indah yang Siera miliki tadi.
“Kau melamun
dan tersenyum seperti orang bodoh, karena itu aku bertanya. Apa yang sedang kau
pikirkan?” ujar Dira ketus.
Ekspresi
wajah Siera sejenak kaku, tapi setelahnya dia justru memasang senyuman paling
memuakkan menurut ukuran Dira. Senyuman seorang kakak. Ugh.
“Begitukah?”
suara Siera terdengar berbahaya, sedikit membungkuk ke arah Dira, dia bertumpu
pada kedua tangannya di tepi kasur rumah sakit yang sedang Dira tempati.
“Kau
mengomentari ekspresiku dengan tepat kalau begitu~ karena aku memang sedang
memikirkan orang bodoh yang membuatku sakit kepala belakangan ini. Apa kau ingin tau siapa dia?” lanjut Siera
dengan nada licin dan menyebalkan.
Dira
melengos.
“Aku sama
sekali tak tertarik~” jawab Dira masih dengan ketus.
“Oh kau
harus nona manis, dan tentu saja kau akan tertarik. Karena orang bodoh yang
sedang kupikirkan tadi adalah.. Kau.” sahut Siera cepat. Kali ini matanya
memancarkan peperangan.
Dira balas
menatap. Mata bertemu mata. Marah dengan kemarahan.
“Harus kah aku
bersyukur? Kau memikirkanku sembari tersenyum~”
Siera
tertawa kecil. Terdengar tanpa beban.
“Kenapa aku
harus memikirkanmu sambil menangis? Aku ini sudah terlalu banyak menangis
untukmu~”
Dira
tersedak, cara Siera berkata seolah dia benar-benar seperti yang ia maksudkan.
“Oh, dan
seingatku kita sedang sepakat saling tidak bicara~ kenapa kau melanggarnya?”lanjut
Siera, dia duduk di bangku dari rotan di samping ranjang dengan tenang dan
menyilangkan kaki. Kedua ujung tangannya mengatup di depan mulut dengan siku
bertumpu pada pegangan tempat duduk. Matanya terpejam.
“KAU YANG
MEMULAI TIDAK MENGAJAKKU BICARA KALAU KAU MEMANG BENAR-BENAR INGAT~” Dira
memuntahkannya dalam nada keras. Siera membuka matanya tiba-tiba. Tapi tidak
terlihat tertarik untuk menjawab atau melirik ke arah Dira.
“Aku tahu.
Tapi kenapa kau mengacaukannya dengan kembali mengajakku bicara?” tak terdengar
nada pembelaan dalam sahutan pelan Siera.
Dira menatap
tajam pada Siera. Tangannya terkepal menahan marah.
“Kenapa kau
sebegini membenciku, hah? Apa kesalahanku padamu?” tantang Dira alih-alih
menjawab pertanyaan Siera.
Siera
membalas tatapan Dira lagi, kali ini tak ada emosi yang bisa terlihat dari mata
jernih itu.
“Aku tak
pernah membencimu~” jawab Siera santai sambil menyibak poninya pelan. Dia masih
tak melepaskan tatapannya dari Dira.
Dira memejamkan
matanya sambil menundukkan kepala, pasrah.
“Lalu kenapa
kau mengacuhkanku?” cecar Dira. Dia menghindari tatapan Siera dengan canggung.
Siera
bergumam tak jelas tentang sedang tak ingin bicara dan semacamnya. Dira
menggelengkan kepalanya tak peduli. Kini keduanya saling menghindari menatap
lawan bicara.
“Ribuan kali
aku mengumpatmu, terhitung semenjak kau pergi dan mendiamkanku begitu saja
tanpa penjelasan” bisik Dira, amat pelan.
Kali ini Siera
tergelak.
“Oh tak usah
merasa bersalah begitu. Aku juga mengutukmu 5 kali sehari, bahkan semenjak
sebelum aku pergi dari sisimu yang nyaman” ujar Siera santai. Dira mendongak
seketika, melongo sambil menatap Siera tak percaya. Siera melirik Dira,
mengangguk yakin. Senyum tak pernah lepas dari bibirnya.
Gadis ini
mengerikan. Pikir Dira.
“Aku benci
padamu. Sungguh.” Ungkap Dira, namun nadanya datar.
Siera
mengalihkan pandangannya dari Dira, dia kembali berdiri dan melangkah ke depan
jendela membelakangi Dira. Kedua lengannya terlipat di depan dada dengan kaku.
“Arayo~”
(aku tau~ ) Siera menyahut pelan, terdengar dia menghela nafas berat namun
masih menghindari tatapan Dira.
“Aku juga
merindukanmu..” kali ini Dira berbisik lebih pelan, seolah berbicara dengan
dirinya sendiri sembari menoleh ke arah Siera yang berdiri membelakanginya.
Siera
berbalik dan menatap Dira, terkejut. Matanya penuh dengan ribuan perasaan tapi
tak mengucapkan apapun.
Suasana
sedikit menghangat, keduanya masih bertahan saling menatap.
Hingga..
Tok tok tok!
Seseorang
mengetuk pintu, membuat Dira dan Siera memutuskan kontak mata dengan kikuk dan
sama-sama menoleh ke pintu. Sebuah wajah menyembul masuk.
“Annyeong..”
terdengar sapaan ceria L dengan masker dan hoodie warna abu-abu, dia memasuki
ruangan lalu menutup pintu dengan hati-hati dibelakangnya. Matanya bersinar dan
menatap Siera serta Dira bergantian.
“Apa aku
menganggu diskusi penting?” celetuknya ringan.
***
L menyetir
mobilnya dengan hati yang meluap-luap penuh perasaan aneh. Perasaan itu kian
menjalar hingga ke perut seolah ribuan kupu-kupu hidup di dalam rongga
perutnya. Senyum lebar tak pernah lepas
dari bibirnya saat dia sesekali melirik ke box ice di tempat duduk sampingnya.
“Tak kan ada
seorangpun yang tau, karena aku memahamimu lebih dari siapapun, nona apel” L
bergumam, wajahnya diliputi rasa sayang sambil jemari tangannya yang bebas dari
setir mengusap box tersebut hati-hati.
Masih dengan
perasaan hangat meliputinya, L sampai di Rumah Sakit tempat Dira di rawat.
Setelah memarkirkan mobilnya di parking lot dan memakai penyamaran, L
melangkahkan kakinya ringan menuju ruangan tempat Dira berada dengan box ice di
tangan kirinya. Siera ada di sana, begitu lapor cordinya tadi pagi. Dan dia
yakin Siera akan menyukai apa yang dia bawakan untuknya.
Sesampainya
di depan ruangan Dira, L mendekatkan telinganya di pintu. Suasana terdengar
lengang.
“Seperti apa
yang ku bayangkan” L tertawa geli sambil bergumam. Tangannya yang tidak
menjinjing box sudah hendak meraih pegangan pintu ketika tiba-tiba terdengar
suara Dira.
“..apa yang
kau pikirkan?”
L membeku.
Untuk kali ini dia amat yakin jika pertanyaan tersebut tidak ditujukan pada
dirinya yang masih berada di depan pintu masuk. Tetapi pada seseorang yang
sedang berada didalam bersama dengan Dira saat ini, dan itu berarti...
“..eh?”
tepat dugaan L, suara Siera menyahut pertanyaan Dira tadi.
Alih-alih
masuk, L mengurungkan niatnya untuk membuka pintu dan justru menyandarkan
punggungnya di dinding. Kembali mendengarkan apa yang mereka hendak mereka
obrolkan.
“Kau melamun
dan tersenyum seperti orang bodoh, karena itu aku bertanya. Apa yang sedang kau
pikirkan?” L tersentak ketika mendengar Dira bertanya dengan ketus.
Sedikit
menelengkan kepalanya, L melirik box ice yang dia bawa. Diranya. Diranya yang
manis tak pernah berbicara begitu ketus kepada Siera sepanjang yang ia tau. Di
depan Siera, Dira selalu lembut dan menyenangkan.
L meluruhkan
posisinya kian menyandar di dinding. Tangan kanannya meraba dada sebelah
kirinya sendiri. Tiba-tiba saja perasaan penuh kupu-kupu tadi hilang. Berganti
rasa hampa yang kian menciut dan terasa mencubit. Di pukul-pukulnya pelan dada
sebelah kirinya, tempat dimana jantungnya berdetak makin kencang dan terasa
nyeri. Disini, jantung ini, pernah ada Dira dalam tiap denyutnya walaupun dia
tak ingin mengakuinya. Tatapan L mengabur seiring makin rutinnya dia memukul
dadanya sendiri dengan rentang pendek-pendek. Suara percakapan Siera dan Dira
menghilang untuk sejenak.
Tiga tahun
lalu..
L menggerutu sambil membuka kulkas milik Siera.
Gadis itu sama sekali tak bisa diharapkan. Dia tidak berkunjung sama sekali ke
lokasi syutingnya dan bahkan L tak bisa menemukan batang hidungnya di cafe tempat
ia bekerja, besar kemungkinan dia sedang bersama Kyuhyun saat ini. Hati L
sedikit berjengit saat memikirkan kemungkinan itu.
Dan dia makin jengkel ketika hanya menemukan
apel di dalam kulkas Siera, serius deh.. benar-benar sebuah kesalahan berteman
dengannya. L menggerutu panjang pendek.
Suara pekikan kaget di pintu dapur membuatnya
menoleh cepat hingga lehernya sakit. Mata L melebar, seorang gadis asing yang
tak ia kenal sedang berdiri di depan pintu dapur dengan baju mandi dan rambut
basah.
Tenggorokan L terasa kering tiba-tiba saat
melihat gadis cantik tersebut, dia memeriksa sekitar dengan matanya. Memastikan
kalau ini benar flat milik Siera dan dia tidak salah masuk.
“N-Neo nuguya!(kau siapa!-, informal)” suara
L sedikit bergetar saat bertanya, uh tidak.. lebih tepatnya membentak.
Gadis itu masih membeku, matanya melebar
ngeri.. dia tidak menjawab bentakan L melainkan malah berteriak lebih keras...
“AAAAAAA~!!!!!!!”
Itulah
pertama kalinya dia bertemu dengan Dira di flat Siera.
Singkatnya
dari sanalah kisah mereka bermulai. Semenjak saat itu, Dira menggeser posisi Siera
sebagai orang pertama yang terakhir L bayangkan saat bangun dan sebelum tidur. Yang dia tahan berlama-lama memandang
mata jernihnya sekedar untuk melihat pantulan wajahnya di sana. Yang selalu
membuatnya tidak bisa tidak tersenyum saat melihat wajahnya.
Mereka
terlihat seperti pasangan yang sempurna. Dira adalah sumber energi L yang
terbesar saat dia hampir putus asa dan menyerah atas beban berat pekerjaannya
yang tak kenal waktu istirahat. Dira adalah hari-harinya. Dira adalah keindahan
dalam hidupnya.
Berempat, Kyuhyun,
Siera, L, dan Dira selalu punya potongan kisah masing-masing. Mereka tak
sebegitu dekat, bagaimanapun juga cinta dalam konteks pasangan hanya cukup
untuk dua orang.
Sejak kapan
semua itu berubah? Dulu Siera adalah senyumnya, lalu kedatangan Dira membuat
semua berbalik. Siapa yang ada di hati L sebenarnya?
L menarik
nafas dalam. Dia tersesat dalam tanda tanya di hidupnya sndiri. Tak seharusnya
ada yang tersembunyi. Tapi jika menyembunyikan separuh hati yang lain, apa itu
kesalahan? Jika L menyembunyikan dari Dira perasaan yang pernah ada untuk Siera,
apa itu salah? Bukankah masalalu hanya ada ketika kau merasa bisa melawati apa
yang telah terjadi di hari-hari kemarin?
Kesadaran
selalu datang belakangan dan membuat semuanya makin rumit. Apa memang semua
pria punya dua hati untuk di tempati wanita-wanita yang berbeda?
“...Aku
benci padamu. Sungguh.” Terdengar suara Dira dengan nada datar. Tenggorokan L
terasa tercekat tanpa sebab, dalam kedataran suara itu ada ribuan hampa yang
bisa L rasakan.
“Arayo~..”
terdengar sahutan Siera.
L berdiri,
dia hendak mengacaukan entah apa yang sedang terjadi di dalam. Dia tak bisa
diam begitu saja. Bilang dia besar kepala, tapi dia merasa ada sesuatu yang
berhubungan dengan dirinya yang ikut memperburuk hubungan dua wanita yang
sangat dia cintai tersebut.
“..aku juga
merindukanmu” suara lirih tersebut mencegah tangan L yang sudah nyaris memutar
kenop pintu. Terasa ada tikaman lain dalam hatinya. Kedua wanita ini, .. apa
yang sebenarnya terjadi diantara mereka yang tidak diketahui oleh L maupun Kyuhyun?
kenapa dua wanita yang saling membenci bisa tetap berbagi hati?
Tok.. tok.. tok..!
L memutuskan
untuk menerobos masuk diantara keheningan yang timbul. Dia berusaha tampak
senormal mungkin.
“Annyeong..!”
Semua mata
menatapnya, tapi L tak mampu membaca apapun diantara dua tatapan itu.
“Apa aku
mengganggu diskusi penting?”
Seolah
tersadar Dira dan sira langsung tergeragap, Siera yang mengambil inisiatif
duluan. Dia meraih tas selempang dan topinya dengan cepat, lalu bersiap untuk
pulang.
“aku sudah
selesai dengan semuanya, aku akan pergi lebih dulu..” Siera berujar, seolah
pada dirinya sendiri.
L menahan
sebelah lengan Siera yang hampir mencapai pintu, “Apa kau yakin kau mau
melewatkan apple stick ini?” kata L sambil menyodorkan kemasan ice stick
bertuliskan rasa apel kearah Siera.
Siera
terdiam sejenak, lalu nyengir. Tangannya yang bebas dari cengkeraman L terulur
untuk meraih kemasan tersebut. L menggodanya dengan menaikkan tangannya lebih
tinggi dan menjulurkan lidah pada Siera.
Siera
mengerutkan keningnya, dia mencoba melonjak meraihnya, tapi tentu saja tinggi L
bukan tandingannya. L terkekeh sementara wajah Siera semakin masam seiring
dengan semakin berusaha dia melonjak meraih tangan L. Selama beberapa saat
keduanya seolah lupa sedang berada di mana, sampai..
“Yeayeayea,
maaf mengganggu pesta kecil kalian~ aku hanya mau bilang jika aku masih di sini
kalau kalian lupa” terdengar nada penuh celaan dalam ucapan dingin Dira. L dan Siera
menghentikan kegiatan mereka.
Siera
memanfaatkan L yang sedang bengong karena celetukan Dira tersebut dengan meraih
ice cream sticknya.
“I got you, Mr. Seoul Tower” Siera
menjulurkan lidahnya ke arah L.
“Silly~” L terkekeh, “Hati-hati di jalan,
i’ll call you later.” Tambahnya.
Siera
memutar bola matanya dengan malas, “Dont
even bother, aku sibuk dengan telepon dari Kyu, wont pick yours anyways” sahut Siera sinis sambil mengulum ice
stiknya. Dia melambaikan tangan ke arah Dira lalu pergi begitu saja.
L
menggelengkan kepalanya dengan geli. Dia menolehkan pandangan ke Dira yang
berwajah cemberut dan berusaha tidak menjatuhkan pandangan ke arahnya.
“Hei,
cantik. Bagaimana keadaanmu?” L mendekat sembari tersenyum hangat.
“Buruk
karena kehadiranmu” sahut Dira tajam sambil memalingkan posisi tidurnya
membelakangi L.
“Kha~
(pergilah-informal/casual)” tambah Dira dengan pelan.
L
mengabaikan ucapan Dira, dia justru duduk di tepi ranjang Dira dan mulai
membuka kotak eskrim 1.5liter yang tadi dia bawa bersama ice stick milik Siera.
Aroma
vanilla manis yang menguar memenuhi ruangan menggoda penciuman Dira. Perlahan
dia bergerak-gerak gelisah, tapi tetap tak membalikkan badan ke arah L.
“Jangan
konyol. Kau mencintai ice cream vanilla lebih dari apapun. Kau tak akan pernah
bisa tahan jika mengabaikannya.” L mengoda Dira dengan mendecap-decapkan
lidahnya sengaja sambil menyuap sesendok eskrim tersebut.
Dan
pertahanan Dira pun luluh..
Da heck, siapa
peduli pada L jika ada eskrim vanilla maha lezat yang menari-nari di depan
mata?
Mereka
berdua makan eskrim dalam diam. L menyuapi Dira dengan perlahan hingga sekotak
eskrim tadi tandas oleh mereka berdua.
L menyeka
sisa-sisa eskrim yang menempel di ujung bibir Dira dengan penuh perhatian. Dia
tersenyum.
“Tak semua
wanita bisa tampak segini cute-nya bahkan jika ada sisa makanan menempel di
ujung bibirnya” ujar L pelan.
“Tsk..
pembual” Dira menanggapinya dengan rasa tak tertarik.
“Bagaimana
kau bisa tau?” L menanggapinya dengan renyah, dia mengedipkan matanya sekali
dengan gaya menggoda. Dira memutarkan matanya dengan lagak malas.
Sekali lagi
tangan L meraih box ice yang dia bawa dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Dira
menelengkan kepala dan memperhatikan gerak gerik L dengan mata menyipit curiga.
“Apa di
dalamnya ada kantung ajaib doraemon? Kau punya semuanya” celetuk Dira saat
melihat L mengeluarkan dua kaleng minuman soda dingin.
L tertawa,
“eyyy~ bukankah kita punya kebiasaan selalu minum soda dingin setelah makan
eskrim?”
Dira melongo
tak percaya. Kita? L masih menggunakan kata ‘kita’. Apa benar sebenarnya mereka
berdua telah putus? Atau hanya di mimpinya? Siapa yang bakalan percaya jika nyatanya
hari ini L tetap berlaku seperti biasa kepadanya. Kemana seluruh nada dingin
yang hampir membuat Dira bunuh diri itu?
“Apa yang
sebenarnya terjadi padamu?” tanya Dira, penuh dengan nada penasaran.
“Apa?” L
mengerutkan kening sambil menatap Dira tak mengerti.
“Kenapa kau
seperti ini? kenapa kau masih sebaik ini? apa kita tak benar-benar putus? Atau
aku hanya membayangkan hal-hal buruk?”
L tertegun
mendengar pertanyaan Dira. Dia menatap Dira dengan serius.
“Jika yang
kau maksud adalah kita berhenti menjadi pasangan kekasih, maka kau sedang tidak
membayangkan hal-hal.” Sahut L pelan, tatapannya masih tak beralih dari Dira.
“LALU KENAPA
KAU DISINI SEOLAH TAK ADA YANG TERJADI ??!”Dira membentak L dengan nada suara
yang tinggi.
“Tidak kah
kau berpikir hal-hal seperti ini akan membuatku salah paham?” nada suara Dira
berubah drastis menjadi desisan pahit. Dia merasa seolah sedang menjadi boneka.
“Apanya yang
harus salah paham? Kita dekat sebagai teman pada mulanya. Hanya karena kita tak
lagi menjadi pasangan kekasih apa lantas kau bukan temanku lagi?” sahut L
datar, dia masih tak memalingkan tatapannya dari Dira. Dira menundukkan kepala,
sekuat tenaga menahan rasa panas yang mulai merambati matanya, airmata.
“Kau sakit
dan sendiri di sini, apa aku tak boleh menemanimu?” ungkap L jujur. Dia
menggaruk belakang lehernya dengan canggung.
Dira
mendongakkan wajahnya kembali mendengar ucapan L tersebut, “Apa aku sebegitu
menyedihkannya? Sakit dan sendirian, kau pikir ini semua karena siapa??!” ujar
Dira berang.
Suasana
menjadi dingin setelah itu. Keduanya sama-sama diam.
Tak tahan dengan
kebekuan tersebut, Dira meraih kaleng soda di dekatnya tadi dengan tangannya
yang sehat. Dia berkutat untuk membukanya.
“Aw~!”
“Eh, gwaenchana? (kau baik-baik saja?) Sini
biar kulihat!”
L bergegas
meraih kaleng tersebut dari tangan Dira dan memeriksa jemari Dira yang terluka.
“Kenapa
semua wanita cantik selalu punya kecenderungan untuk melukai dirinya sendiri?”
keluh L
“Aku haus,
bertengkar denganmu selalu menghabiskan banyak energi!” balas Dira membela
diri.
“Apa kau tak
bisa meminta tolong padaku? Apa aku tak terlihat?” sahut L ketus, “Siapapun tau
jika kau ini tak pernah bisa membuka kaleng minuman tanpa melukai jarimu~” L
masih bersungut-sungut sambil menyeka darah di jari Dira dengan tissue dan
meniup-niup atasnya pelan.
“Apa ini sakit?”
tanya L tulus. Dira hanya terdiam, matanya menatap L dengan pandangan sedih.
“..karena
itu, tak bisakah kau tetap berada disisiku untuk selalu membukakan kaleng
minumanku dan bahkan memarahiku ketika aku melukai diriku sendiri?”bisikan Dira
terasa sangat memilukan.
L menatap
tepat di mata Dira yang mulai berkaca-kaca. Suasana hening kembali.
“Arasso arasso, aku tau aku menyedihkan dengan
bertanya seperti tadi, lupakan saja.”
Dira meraih jemarinya yang masih ada
dalam genggaman L, lalu mendorong bahu L menjauh.
“Kha~” kata Dira,
“Sebentar lagi teman-temanku datang, aku tak ingin mereka memergoki kehadiranmu
disini” tandas Dira dengan nada sedikit mengusir. Dia kembali berbaring dan
memposisikan dirinya membelakangi L.
L menghela
nafasnya pelan, “Mianhae..(maaf~)”
bisiknya sebelum meraih kembali semua penyamarannya lalu beranjak dari ruangan
tersebut.
Dira
menangis sepeninggal L.
***
Siera
mengunyah apelnya dengan rasa sebal. Pandangannya tajam ke arah dapur. Sebelah
tangannya yang bebas terlipat di bawah siku lengan kanannya. Jengkel.
Terdengar
bunyi beberapa keluhan dan keributan kecil dari arah dapur. Siera hanya
memandanginya dengan tatapan yang berapi-api.
Satu jam yang lalu...
Siera sedang
duduk di sofa dengan kepala Kyuhyun terbaring di pahanya. Rambut panjang Siera
terikat asal dengan beberapa helai rambut yang terlepas menjuntai, dia
membungkuk dengan tatapan serius ke arah jemari-jemari Kyu. Siera sedang
memakaikan cat kuku warna transparan untuk kuku jari tangan Kyuhyun. Kyuhyun
dengan satu tangannya yang bebas sedang asik membaca komik sembari sesekali
tertawa.
“Hei, aku selalu
saja penasaran meski aku tak ingat pernah bertanya, tapi memangnya kau tidak
malu jika kukumu bercat?”celetuk Siera tiba-tiba.
Kyuhyun
mendongak, dia tersenyum.
“Kenapa aku
harus malu jika cat kuku ini adalah bukti waktu-waktu berharga yang kulalui
denganmu?”jawab Kyuhyun santai. Siera tersenyum hangat, jawaban itu membuat
hatinya sedikit berdesir.
“Aih, stay still! Jangan banyak gerak, nanti bisa tercoret!”
Kyuhyun
tertawa, dia sengaja menggoda dengan sedikit menggerakan tangan kanannya yang
sedang dipegang dengan hati-hati oleh Siera.
“Yah, aku
masih punya jari-jariku yang belum aku cat juga, jadi diam..”
Ucapan Siera
terputus oleh bunyi password pintu yang membuka. Seseorang melangkahkan kaki
masuk ke flat tersebut. Siera dan Kyuhyun sama-sama menoleh, Kyuhyun bangun
dari posisinya.
“Wah kalian
sedang ritual cat kuku? Aku mau punyaku juga!” L berkata antusias sambil
kakinya melepas sepatu yang dia kenakan sebelum meraih selop dan memakainya,
melangkah masuk menuju ke arah Siera dan Kyuhyun.
“Apa yang
kau lakukan disini?!” Siera bertanya dengan nada tinggi pada L.
“Whoa whoa
whoaa, calm girl! Aku hanya berkunjung, oke?” L memaksakan dirinya melesak
diantara Siera dan Kyuhyun, memisahkan mereka berdua yang duduk bersebelahan
sebelumnya.
“Nih, aku
mau kuku-ku di cat juga. Sama seperti kebiasaan kita dulu~” L menyodorkan jari
tangan kanannya ke depan Siera yang masih melongo dengan ekspresi jengkel.
“Sebenarnya
apa maumu? Kau mengganggu waktu kami, tahu?” Siera berdiri, diletakannya kedua
tangan di pinggang dengan sikap permusuhan.
“Hei, santai
maaaan. Apa aku tak boleh berkunjung ke tempatmu lagi, hah? Aku juga bagian
dari kalian, tau!” L balik menantang. Dia juga berdiri di hadapan Siera dengan
tangan berkacak di pinggang dan tinggi yang terasa mendominasi.
Kyuhyun
bangkit lalu menempatkan dirinya di tengah-tengah mereka berdua.
“Hei hei
hei, berhenti di sini.” Kyuhyun menolehkan wajah ke arah L sambil menunjuknya
“Kau, ikut aku. Aku yang akan mengulas cat di kukumu juga.” Lalu Kyuhyun berpaling
ke Siera, “Dan kau baby, aku lapar, bisakah kau belikan aku makanan? Aku sedang
tak ingin makan apel” pinta Kyuhyun lembut.
Ekspresi Siera
sedikit lunak, “Baiklah kalau begit..”
Belum sempat
Siera menuntaskan ucapannya, L kembali memotong dengan menyingkirkan Kyuhyun
dan menempatkan dirinya diantara Kyuhyun dan Siera lagi. “Tak usah, tak usah.
Biar aku yang memasak, kalian mau apa, um? Pasta?”
Siera
bertukar pandangan dengan Kyuhyun. Tak yakin harus menjawab apa.
Dan
disinilah mereka sekarang, Kyuhyun menjadi asisten L saat memasak dengan
beberapa pertengkaran kecil diantara mereka dan siera yang hanya menatap tajam
ke arah dapur.
“Pasta ini
terlalu lembek Kyu, aish kau akan menghancurkan mahakarya masakanku!”
“Tapi ini
makan siangku,terserah aku dong! Aku akan memakan apapun yang sudah matang!
Jadi berhenti protes, Myungie-myungie!”
L
membelalak, dia menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengaduk bahan saus
pasta di pan.
“K-kau
memanggilku apa?” dia bertanya dengan ekspresi horor.
Siera
diam-diam menahan kikikan gelinya.
Kyuhyun
memutar matanya dengan malas, tangannya masih tak berhenti meniriskan pasta
yang telah dia masak tadi dengan semacam saringan.
“Bukankah
kau tadi bilang kau ingin kembali menjadi bagian dari kami, jadi aku
memanggilmu dengan nama lamamu di kelompok ini, duh~”sahut Kyuhyun santai.
“Kenapa kau
ikut-ikutan memanggilku begitu, cuma siera yang boleh memanggilku begitu!”
sekarang L sudah benar-benar melupakan masakannya.
Siera
memburu maju, dia tak tahan lagi. Dia segera mematikan kompor di depan L dan
mengambil spatula dari tangannya.
“Apa kau tak
lihat sausmu sudah hangus dan berasap, myungie-myungie pabo!” siera memukul
kepala L dengan spatula.
L mengaduh,
namun dia tertawa lebar. “Kau memanggilku dengan nama itu lagi! Kau masih
mencintaiku kan? Bagus! Aku masih punya kesempatan, yiha!” dia berlari
mengelilingi dapur sambil menjulurkan lidah ke arah Kyuhyun.
Kyuhyun dan
Siera bertukar pandangan lalu menggeleng-gelengkan kepala dengan ekspresi lelah
ke arah L.
“Aku tak
pernah tahu jika kita punya teman anak umur 5 tahun.. ”desah Kyuhyun.
“Aku juga
tidak, Kyumong (Kyu blank/ Kyu bengong/ Kyu expresionless)” sahut Siera.
“Kau
memanggilku, apa? YAH! Aku ini bukan tukang bengong!”
Kini giliran
L yang terhenti dari aktifitas pribadinya mengelilingi dapur. Kyuhyun dan Siera
sedang sibuk saling mencekik. L nyengir lebar.
***
Semenjak
saat itu L selalu merecoki kebersamaan Siera dan Kyuhyun. Seperti saat ini,
mereka sedang mengobrak-abrik dapur L karena bocah itu memaksa Kyuhyun dan
Siera menemaninya. Sebelumnya manager L menelepon Siera dan mengabarkan jika L
sedang demam, jadi dia meminta tolong Siera untuk menemaninya di apartemen L
yang maha mewah. Tapi tentu saja, jika ada Siera maka harus ada Kyuhyun, hal
itulah yang membuat L sedikit uring-uringan.
“Aku
terbaring sakit disini, bukannya menjagaku kalian malah pacaran di rumahku. Apa
itu adil?” untuk kesekian kalinya L merajuk sambil berbaring di sofa.
“Kami
mencoba membuatkan makanan yang layak untuk kau makan, dan kau masih saja mengeluh?
Heol~” sahut Siera pedas. Tangannya terlihat gemetaran saat mengiris bawang
bombay. “Aku bahkan tak yakin apakah makanan ini akan enak atau tidak, tapi
belum jadi makanan pun dia sudah membuatku menangis seperti ini~ ugh..” Siera
menambahkan sambil mengusap airmata yang membanjiri pipinya, bawang bombay
tersebut membuat matanya pedih.
“Aku juga
tak yakin harus berapa takaran air yang dimasukkan untuk membuat sebuah bubur
enak. Dua gelas? Tiga gelas?” Kyuhyun menggerutu sambil menggaruk rambutnya.
Siera mengerling ke arah Kyuhyun dan tertawa geli sambil masih mengusap
airmata. Dia menghentikan gerakannya mengiris bawang bombay dan menghampiri
Kyuhyun.
“Aigoo~
ternyata kau tak secerdas smartphonemu. Kenapa tak kau lihat resep di internet
pabo.” Siera menjitak kepala Kyuhyun pelan. Kyuhyun justru terkekeh geli.
“Lakukan
lagi, rasanya menyenangkan~” ujar Kyuhyun sambil nyengir.
Siera
memelototkan mata, “Yah! Micheosseo?(kau
sudah gila?) Apa kau masokis, dasar aneh.” Dia hendak kembali ke posisinya mengiris
tadi saat Kyuhyun menarik sebelah tangannya mendekat.
“Yaaaah~ aku
lebih memilih kau pukuli ribuan kali dari pada memikirkan berapa banyak takaran
air untuk sebuah bubur enak.” Kyuhyun menanggapi dengan nada manja. Siera
tersipu, namun sebelum dia sempat menanggapi terdengar suara batuk yang
dibuat-buat dari L, menyela sinis.
“Aigoyaaaa,
coba lihat disini. Benar-benar tak punya rasa kasihan.” L cemberut, kepalanya
menggeleng-geleng dengan ekspresi bosan. “Ada teman yang sedang sakit dan patah
hati di sini, dan kalian justru memamerkan kemesraan di depanku? Begitukah
teman, hah?”
Siera dan
Kyuhyun tertegun.
“Patah
hati?” bisik Siera pelan, seolah mengulangi kalimat L tadi untuk dirinya
sendiri.
L menghela
nafas berat, sejenak ekspresinya tampak serius. Namun tak lama kemudian dia
berubah menjadi manyun sambil bangkit dari posisi rebahannya di sofa.
“Kupikir
biar aku saja yang memasak makanan~” ujarnya sambil menyisingkan sebelah lengan
hoodie hitamnya. Sebelah celana trainingnya pun terlipat keatas hingga lutut,
namun tampaknya L tak sadar akan hal itu.
“Apa ada
sesuatu yang terjadi antara kau dan Dira?” tanya Siera tak yakin, L mengambil
pisau dari tanagnnya dan mulai mengiris bawang dengan cepat dan rapih.
L hanya diam
sambil tangannnya bergerak cekatan, dia tersenyum “Tsk, kerjaku di dapur lebih
baik daripada kau ternyata” ujarnya seolah tak mendengar apa yang Siera
ucapkan.
Siera
menaikkan alisnya, hendak menuntut jawaban namun Kyuhyun menyentuh lengannya
pelan, dia menggeleng mengisyaratkan untuk tak menekan L. Siera menghembuskan
nafas panjang, risau. Namun dia menuruti isyarat kyuhyun. Dia mendekat ke arah
L yang tenggelam dalam pekerjaannya. Siera mengambil salah satu kursi dan duduk
tepat di samping L, mengamati figur L dari samping.
“Waah, sungguh
tak adil. Dengan rambut bangun tidur dan baju yang asal-asalan seperti inipun
kau masih saja terlihat tampan..” Siera mendesah seolah kesal sambil mengamati
L dari kaki hingga kepala.
L mendongak
dari semua bahan makanan yang sedang dia iris, dan menunjukkan senyum
terbaiknya pada Siera.
“...apa yang
telah kau lakukan pada Tuhan di kehidupanmu yang lalu, sehingga Dia sebaik hati ini padamu, heh?”
ujar Siera seolah tanpa sadar. Posisi L sangat sempurna dengan satu kaki yang
sedikit membungkuk dan tangan yang mengiris cekatan, seperti sebuah iklan!
L terkekeh
geli, “Kau dengar itu, Kyu. Dia sangat mengagumiku hingga memujiku tanpa sadar.
Aku memang tampan ha ha ha” tukasnya dengan senyum congkak dan smirk khas.
Siera masih (pura-pura) menatapnya dengan terpesona layaknya seorang fangirl.
Kyuhyun
mengangkat bahunya, acuh. “Oh aku sih oke-oke saja sepanjang dia belum memujimu
cerdas” sahut Kyuhyun santai.
Senyum L
menghilang dengan cepat dari wajahnya, “Yah, kau benar-benar mau mati rupanya!”
L mengangkat pisau di tangannya dengan sikap menantang.
Siera
tertawa, dia bangkit dari dudduknya lalu menghampiri Kyuhyun. Menarik tangannya
untuk beranjak dari sana. “Dia sudah sembuh. Mari kita pulang. kalau dia sudah
ingin membunuh orang, berarti dia sudah sembuh.” Gumam Siera pada Kyuhyun,
masih sambil tertawa.
“Yah! Yah!
Kalau kalian berani melangkahkan kaki sesenti pun dari rumahku, kalian akan
mati. Yah! Aku ini sakit! Yah eodiga!(kalian mau kemana!)” terdengar teriakan L
saat Kyuhyun dan Siera berlari ke arah pintu sambil tertawa.
***
Dira
membetulkan letak tas di pundaknya dengan perlahan, tangannya sudah 75% pulih
dan dia diperbolehkan pulang hari ini. Sedihnya tak ada seorangpun yang
menjemputnya. Selesai memberesi barang-barangnya dia menuju ke tempat administrasi
untuk membayar biaya rumah sakit. Tapi ternyata semua biaya perawatannya sudah
dibayar lunas atas nama ayah Kyuhyun. Dira akan membicarakan hal ini dengan
kyuhyun saat dia sudah masuk kuliah nanti.
Setengah
lesu, Dira menaiki tangga gedung tempat flatnya berada. Dia sedang tak ingin
lewat lift, sebisa mungkin dia ingin menghindari bertemu orang banyak hari ini,
kepalanya sedikit sakit.
Sedikit
kesusahan dia membuka pintu menuju koridor tempat flatnya berada. Karena
sebelah tangannya masih di gantung di leher, tasnya merosot dari pundak. Saat
dia menunduk hendak mengambil, dari ujung yang berlawanan terdengar suara tawa
dan sedikit suara orang bertengkar. Dira mendongakkan wajah, lalu hatinya
mencelos dingin.
L, Kyuhyun
dan Siera keluar dari flat Siera yang berjarak 5 nomor dari flatnya sendiri. Terlihat
Kyuhyun sedang terkekeh geli dan Siera serta L yang beradu mulut heboh. Tangan
Dira tiba-tiba tak mampu mengangkat tasnya yang terjatuh, dia hanya menunduk,
berharap mereka tak melihat keberadaannya dan tentu saja.. raut wajahnya yang
mungkin terlihat sangat patah hati.
Tapi suara
adu mulut dan tawa tadi berhenti tepat di depannya. Tentu saja, lift di lantai
ini berhadapan langsung dengan pintu keluar dari tangga darurat, bagaimana
mungkin mereka tak melihatnya? Dira mengutuk kebodohannya dalam hati dan
berusaha tampak wajar, dia meraih tasnya hendak kembali berdiri dari posisi
jongkoknya sedari tadi.
Seseorang
melangkah ke arah Dira dan mengambilkan tasnya yang terjatuh. Orang tersebut
bahkan membantu Dira berdiri. Tanpa perlu mendongak Dira tau siapa orang yang
ada di depannya ini. Siera. Dira menggigit bibir bawahnya hingga terasa sakit.
Tanpa
sepatah kata Dira mendongak dan bertatap mata dengan Siera, lalu pandangannya
bergeser menatap Kyuhyun dan L yang sama-sama saling menatapnya balik. Kyuhyun
dengan raut simpatik dan L yang tampak datar tak terbaca.
Siera
beranjak dari depan Dira tanpa sepatah katapun dan menggamit lengan Kyuhyun,
memasuki pintu lift yang sudah membuka. L mengikutinya dari belakang, meninggalkan
Dira yang masih mematung.
Tatapan Dira
tak terlepas dari mata L yang juga balik
menatapnya hingga pintu lift menutup. Mata itu, tatapan itu sama seperti yang
dilihat dilihat Dira di kaca riasnya pagi ini. Apakah mungkin jika, L.. juga
sama patah hatinya seperti dirinya?
Myungsoo-ya, where do i belong? Dira membatin pilu
dalam hati.
***
“Kenapa kau
mengacuhkan Dira?”
Tiba-tiba
saja Siera bertanya pada L sambil mengulurkan botol garam ke arahnya. Mereka
bertiga, Siera, L dan Kyuhyun sedang makan malam di apartemen mewah L. Beberapa
hari ini memang L merajuk dan memohon-mohon untuk mengikutkan dirinya dalam
semua kegiatan Kyuhyun dan Siera.
L tak
menjawab, dia menerima botol garam dari Siera dan menuangnya ke telur di
piringnya. Dia memakan makan malamnya dengan santai.
“Apa kau dan
Dira.. apa hubungan kalian berakhir??” desak Siera. Kyuhyun hanya diam, tapi
matanya ikut menatap ke arah L dengan menyelidik.
L
menghentikan suapannya karena merasa tatapan dari kedua orang di depannya
tersebut. Dia menghela nafas dan meletakkan sumpitnya perlahan. Dia mendongak,
menatap Siera dengan serius.
“Aku serius
saat aku bilang, aku patah hati. Jadi apa kau mau mengobati patah hatiku
sekarang?” desah L pelan. Tatapannya tajam ke arah Siera.
“Siapa yang
memutuskan hubungan? Kau atau Dira?” Siera masih tak menyerah, dibawah tatapan
L yang tajam pun tak mampu meruntuhkan sifat keras kepalanya.
“Dia yang
menyuruhku pergi, dia yang memutuskanku. Dia yang tak bisa hidup dengan aku
yang ada di pikirannya setiap hari.” Ujar L, matanya penuh rasa marah. Namun
sekilas kemudian redup saat dia melanjutkan ucapannya kembali. “Saat aku
menuruti apa keinginannya, saat aku merasa lelah selalu menjadi pihak yang
bertahan, dia memohon untuk kembali padaku. Dan itu menyakiti harga diriku. Apa
kau tau??”
Suasana
hening. Siera bahkan tak mengedipkan matanya dengan tatapan yang terlihat
menyalahkan L. Kyuhyun bergerak gelisah dalam tempat duduknya, tak tau harus
berbuat apa.
“Dan aku
bilang tidak bisa. Aku lelah. Aku tak mau bertahan lagi. Jika memang itu
artinya aku yang kalah dalam hubungan ini, maka aku akan menerima kekalahanku
sendiri. Dan dia bilang aku tak boleh mendekatinya atau berbuat baik padanya
lagi meski hanya sebagai teman, dia bilang itu akan membuatnya salah paham. Aku
lelah, Ra” L menenggelamkan wajahnya dalam telapak tangan yang mengatup lalu
mengacak-acak rambutnya kesal. “Aku lelah mengajarkan bagaimana cara hidupku
padanya. Aku lelah bersama dia. Aku lelah atas semua permainan pura-pura ini.”
Lalu L melanjutkan dengan pilu, “Kenapa wanita
selalu ada di pihak yang terlihat disakiti, sementara pria seolah menyakiti?
Aku hanya tak mampu mengikuti apapun keinginannya selama ini. Aku tak sanggup
membaca apa yang dia inginkan. Kenapa
dia tak bisa seperti kau yang sederhana dan biasa? Kenapa dia tak bisa seperti
kau yang mengerti bagaimana caraku hidup dan untuk apa aku bertahan? Kenapa dia
bukan kau? Kenapa bukan kau yang mencintaiku, kenapa?????!” L tak mampu
mengontrol semua perasaan di hatinya hingga dia melemparkan gelas di depannya
ke dinding di samping meja makan.
Siera terbelalak,
di wajahnya terbayang rasa marah, sedih dan kasihan sekaligus. “Kau
menyedihkan, Kim Myungsoo. Kau pecundang~”ujar Siera pelan. L dan Siera masih
beradu tatap. Kyuhyun mengaduk-aduk makanan di piringnya dengan tenang.
Dengan
kalimat tersebut, Siera bangkit dari meja makan lalu menyambar mantelnya dan
pergi meninggalkan apartemen milik L. Kyuhyun tak mengejarnya, tak pula L.
Suasana
hening. Tak ada yang berniat melanjutkan makan lagi sepeninggal Siera.
“Dia akan
membencimu untuk semua ini~” kata Kyuhyun pelan.
L tercenung,
lalu menjawab dengan pahit. “Dia sudah membenciku lama sejak kubilang aku jatuh
cinta padanya, bukan pada Dira. Jadi, apa bedanya?”
Leher
kyuhyun berputar dengan cepat, menatap L seolah tak percaya.
“Kau..
serius dengan pernyataan cintamu dulu?” tanya Kyuhyun.
“Hanya
karena kau tak menganggapnya serius, bukan berarti aku tak serius dengan apa
yang aku ucapkan~” L bangkit dari tempat duduknya lalu pergi ke kamarnya. Dia membanting
pintu kamarnya keras. Meninggalkan Kyuhyun yang masih termangu dan mencerna apa
yang sedang terjadi.
*** TBC***
“..I love you not only for what you are, but
for what i am when i am with you”
“..and Love isn’t finding a hand that
perfectly fits yours. But finding someone who is willing to hold your hand no
matter how unfit may be.” (anonim)
Kalau kau tak bisa melepasnya, maka katakan
di mana tempat terbaik aku harus berdiri? Bertahun-tahun telah berlalu semenjak
aku dikalahkan oleh kesedihan, kupikir ia sudah pergi setelah tsunami terbesar
yang membuatku lebur. Tapi serupa ninja, ia selalu ada dalam bayang-bayang.